Akan Dilepas Chevron, Sebenarnya apa sih Proyek IDD Tersebut?

PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) sedang melakukan kajian untuk melepas posisi operator pada proyek Indonesia Deepwater Development (IDD). Hal ini disampaikan oleh Manager Corporate Communication Chevron, Sonitha Poernomo pada Senin malam (22/1) yang lalu.

“Iya (belum tentu jadi operator), itu yang sedang didiskusikan sekarang itu, mengevaluasi siapa yang menjadi operator.Secara keekonomiaan IDD kurang menarik. Kami sudah dapat izin dari SKK Migas untuk membuka data room dan mencari participant yang dapat kerja sama dengan pemerintah saat ini sehingga dapat produksi dengan baik. Saat ini belum ada keputusan akhir siapa yang akan mengelola IDD. Kalau nanti sudah terealisasi, maka akan kami sampaikan,” kata Sonitha usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII di Gedung DPR, Jakarta, Senin (20/1)

Sebenarnya apa sih proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) tersebut?

Proyek IDD terdiri dari beberapa blok migas, dimana proyek IDD yang sedang dikerjakan oleh Chevron merupakan merupakan IDD tahap kedua dengan kepemilikan hak partisipasi pada proyek IDD Gendalo-Gehem sebesar 63%. Sisanya, dikuasai mitra usaha seperti Eni, Tip Top, Pertamina Hulu Energi, dan Mitra Muara Bakau. Tahap pertama proyek IDD, Lapangan Bangka telah berproduksi sejak Agustus 2016 dan menghasilkan delapan kargo gas alam cair (LNG) yang dikapalkan dari Terminal LNG Bontang, Kalimantan Timur

BACA JUGA  Dua Rencana Investasi NR Menunggu Persetujuan Subholding

Pada tahun 2008 silam, perusahaan pernah mengajukan rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) lapangan Gehem dan Gendalo pada 2008 silam dengan nilai investasi mencapai US$6 miliar. Kemudian, nilai investasi tersebut direvisi kembali pada 2013 lalu menjadi US$12 miliar. Namun, pada tahun 2015, Chevron menyerahkan kembali PoD dengan nilai investasi yang meningkat, yakni di kisaran US$9 miliar hingga US$10 miliar. Barulah pada Juni 2018, Chevron mau menurunkan biaya investasi IDD tahap II menjadi US$ 5 miliar. Itu pun setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat itu, Ignasius Jonan, bertandang ke Washington untuk bernegosiasi dengan Chevron.

Pengembangan Gendalo-Gehem termasuk pengembangan dua hub terpisah masing-masing memiliki Floating Processing Unit  (FPU), pusat pengeboran bawah laut, jaringan pipa gas alam dan kondensat, serta fasilitas penerimaan di darat. Rencananya gas alam hasil produksi dari proyek IDD akan dijual untuk kebutuhan dalam negeri dan diekspor dalam bentuk gas alam cair.

Estimasi produksi puncak proyek ini mencapai 844 juta kaki kubik per hari (mmscfd) serta produksi minyak sebesar 27 ribu barel per hari (bph). SKK Migas menargetkan proyek rampung atau onstream pada kuartal IV 2026 dengan kebutuhan biaya mencapai US$6.98 miliar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *