Bukan Sekadar Tanam Mangrove, Ini Jejak Aksi Pertamina Hulu Indonesia Jaga Pesisir dari Abrasi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Kepulauan Seribu, ruangenergi.com – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), bagian dari Subholding Upstream Pertamina melalui PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), mengklaim sukses menjalankan aksi pemulihan kawasan pesisir lewat penanaman mangrove dan lamun di Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya “membersihkan pantai” sekaligus memperkuat benteng alami menghadapi ancaman abrasi dan perubahan iklim.

Dalam kegiatan yang digelar Minggu (28/6/2026), PHI bersama organisasi lingkungan Lindungi Hutan dan kelompok petani lokal menanam sebanyak 1.000 bibit mangrove dan 500 bibit lamun (seagrass). Sebanyak 40 pekerja lintas fungsi ikut turun langsung dalam aksi tersebut.

Program ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang digelar serentak oleh PHI Regional 3 Kalimantan dengan mengusung kampanye #NowForClimate, sebagai simbol komitmen perusahaan terhadap pelestarian lingkungan dan mitigasi perubahan iklim.

Manager Environment PHI, Kemas Adrian, menegaskan bahwa perusahaan ingin memastikan praktik bisnis migas tetap berjalan beriringan dengan agenda keberlanjutan.

“Perusahaan mendukung praktik bisnis yang berkelanjutan. Tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi,” ujar Kemas.

Menurutnya, rehabilitasi mangrove dan lamun bukan sekadar program seremonial. Ekosistem ini dikenal sebagai bagian dari blue carbon ecosystem, yang memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon jauh lebih besar dibanding hutan tropis daratan.

Mangrove, misalnya, mampu menyimpan karbon hingga tiga sampai lima kali lebih besar per satuan luas dibanding hutan tropis biasa. Sementara lamun berperan besar menjaga kualitas perairan, menjadi habitat biota laut, serta menopang produktivitas perikanan masyarakat pesisir.

Bagi warga Pulau Pari, dukungan ini dinilai penting. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka merasakan dampak nyata perubahan iklim, mulai dari abrasi yang semakin parah, menyusutnya padang lamun, hingga kenaikan muka air laut yang mulai menggerus garis pantai.

Perwakilan petani pesisir Pulau Pari menyebut program ini memberi manfaat konkret dalam memperlambat laju kerusakan ekosistem dan menjaga ruang hidup masyarakat pesisir.

PHI berharap aksi ini menjadi model kolaborasi antara industri migas, masyarakat, dan komunitas lingkungan untuk memperkuat perlindungan kawasan pesisir Indonesia. Selain memberi dampak ekologis, langkah ini juga diharapkan membuka manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat sekitar.

Sebagai operator hulu migas di Regional 3 Kalimantan, PHI terus mengintegrasikan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam operasionalnya bersama SKK Migas, termasuk melalui berbagai program tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Selama beberapa tahun terakhir, PHI tercatat telah menjalankan sejumlah program lingkungan di berbagai wilayah operasinya. Selain penanaman mangrove di kawasan pesisir Kalimantan Timur dan pesisir Jakarta, PHI juga aktif melakukan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS), restorasi terumbu karang, transplantasi lamun, hingga pengelolaan sampah berbasis masyarakat di desa-desa sekitar wilayah operasi.

Tak hanya itu, PHI juga mengembangkan program konservasi pesisir melalui edukasi masyarakat, pemberdayaan kelompok nelayan, pelatihan ekowisata berbasis lingkungan, serta penguatan ekonomi masyarakat lewat budidaya kepiting bakau dan perikanan berkelanjutan.

Manager Environment PHI, Kemas Adrian, mengatakan bahwa perusahaan berupaya memastikan aktivitas hulu migas tetap berjalan beriringan dengan agenda pelestarian lingkungan.

“Perusahaan mendukung praktik bisnis yang berkelanjutan. Tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi,” ujarnya.

Menurut Kemas, mangrove dan lamun memiliki fungsi vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Selain menjadi habitat biota laut, kedua ekosistem ini berperan sebagai pelindung alami pantai dari abrasi, meredam gelombang, menjaga kualitas air, dan menopang produktivitas sektor perikanan.

Kajian ilmiah menunjukkan mangrove mampu menyimpan karbon tiga hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan tropis daratan. Sementara lamun berperan signifikan dalam menyerap karbon dari laut melalui biomassa dan sedimen dasar.

Bagi masyarakat Pulau Pari, aksi rehabilitasi ini dinilai memberi dampak langsung. Dalam beberapa tahun terakhir, warga menghadapi abrasi yang semakin intens, penyusutan padang lamun, dan kenaikan muka air laut yang terus menggerus garis pantai.

Melalui pendekatan kolaboratif bersama komunitas lingkungan seperti Lindungi Hutan dan masyarakat lokal, PHI berharap upaya konservasi ini mampu menciptakan perlindungan pesisir yang lebih kuat sekaligus memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat.

Sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina, PHI bersama SKK Migas terus mengintegrasikan prinsip ESG dalam seluruh operasinya, dengan target menciptakan keseimbangan antara ketahanan energi nasional dan keberlanjutan lingkungan.