London, UK, ruangenergi.com — Indonesia semakin agresif memosisikan diri sebagai salah satu destinasi strategis investasi transisi energi dan aksi iklim global. Di tengah lonjakan investasi hijau dunia yang tembus US$2,3 triliun pada 2025, pemerintah melihat peluang ekonomi domestik hingga US$3,8 triliun atau setara Rp62 kuadriliun sampai 2050 dari agenda menuju net-zero emission.
Momentum itu mengemuka dalam dua forum penting di London Climate Action Week (LCAW) 2026, yakni Indonesia Climate Leadership Luncheon dan Southeast Asia Climate Action Forum, yang mempertemukan pejabat tinggi Indonesia, parlemen Inggris, lembaga keuangan, hingga pelaku usaha global.
Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, menegaskan Indonesia tengah memperkuat fondasi pasar karbon nasional dengan meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) pada 9 Juli mendatang. Langkah ini dinilai menjadi game changer untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kepastian bagi investor.
Tak hanya itu, pemerintah juga bersiap menerbitkan lebih dari 30 juta ton kredit karbon CO2e dari sektor kehutanan pada awal Juli. Langkah ini dipandang sebagai tonggak besar yang dapat mengangkat posisi Indonesia di pasar karbon internasional.
Di sisi lain, Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh bertabrakan dengan upaya pelestarian lingkungan.
“Pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan harus berjalan beriringan,” tegasnya.
Sinyal positif juga datang dari sektor keuangan. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan pembiayaan perbankan berkelanjutan telah mencapai Rp2.114,6 triliun pada 2025, tumbuh 3,28% secara tahunan. Menariknya, sektor energi terbarukan dan konservasi keanekaragaman hayati menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi.
Bagi dunia usaha, peluang ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi strategi bisnis jangka panjang. Kadin Indonesia bahkan resmi menyatakan dukungannya terhadap RE100, inisiatif global yang mendorong perusahaan memenuhi 100% kebutuhan listriknya dari energi terbarukan.
Saat ini, lebih dari 440 perusahaan dunia seperti Unilever, Samsung, dan Nike telah bergabung dalam RE100. Indonesia kini didorong untuk melahirkan perusahaan nasional pertama yang masuk dalam daftar tersebut tahun ini.
Di tengah persaingan global merebut modal hijau, langkah Indonesia dinilai krusial. Dengan cadangan sumber daya alam besar, pasar domestik luas, dan regulasi iklim yang mulai diperkuat, Indonesia berpeluang menjadi episentrum investasi transisi energi di Asia Tenggara. Tantangannya kini tinggal satu: seberapa cepat eksekusi bisa berjalan.


