Catat Ya, FOREK UMIGAS 2026 Siap Digelar! Investor Global, Fiskal, dan Nasib Produksi Migas Dibedah

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Forum Ekonomi dan Keuangan Hulu Migas (FOREK HULU MIGAS) 2026 diproyeksikan menjadi salah satu forum strategis bagi industri hulu minyak dan gas bumi (migas) untuk merumuskan solusi konkret atas tantangan investasi, tata kelola, hingga ketahanan energi nasional.

Antusiasme terhadap forum yang dijadwalkan berlangsung pada 28–29 Oktober 2026 di Hotel Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, terbilang tinggi.

Ketua Organizing Committee FOREK UMIGAS 2026, Dimas Fauzi Rikani, mengungkapkan jumlah peserta yang diperkirakan hadir telah melampaui 1.100 orang, jauh di atas estimasi awal sebanyak 750 peserta.

“Antusiasme para partisipan untuk hadir itu luar biasa. Pelaksanaan kali ini benar-benar dinantikan,” ujar Rikani saat memaparkan kesiapan penyelenggaraan FOREK HULU MIGAS.

Menurut dia, tingginya minat peserta menunjukkan kebutuhan industri terhadap ruang dialog yang mampu mempertemukan pemerintah, regulator, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), pelaku usaha, akademisi, hingga calon investor internasional.

Di tengah dinamika industri migas yang semakin kompleks, diskusi formal saja dinilai tidak cukup. Diperlukan kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar berbagai persoalan dapat dibahas secara menyeluruh dan menghasilkan rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti.

“Tidak bisa dikerjakan sendiri. Perlu kolaborasi berbagai pihak untuk duduk bersama, mencapai perspektif yang sama, dan mendorong solusi konkret,” kata Rikani.

Lima puluh narasumber, tiga sesi pleno

Selama dua hari pelaksanaan, FOREK HULU MIGAS 2026 akan menghadirkan sekitar 50 narasumber dan moderator yang terbagi dalam tiga sesi pleno (plenary sessions) serta enam sesi diskusi paralel (breakout sessions).

Forum ini direncanakan dibuka secara resmi oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, dengan agenda yang juga mencakup penyampaian keynote speech oleh Suahasil Nazara.

Rangkaian kegiatan hari pertama, Rabu (28/10/2026), akan diawali dengan tiga sesi diskusi paralel pada pagi hari. Pembukaan resmi dijadwalkan berlangsung pada siang hari, disertai sambutan dari jajaran pimpinan terkait serta penandatanganan sejumlah kesepakatan komersial.

Adapun pada hari kedua, Kamis (29/10/2026), agenda dilanjutkan dengan tiga sesi paralel, penyampaian keynote speech, serta dua sesi pleno lanjutan. Panitia juga menyiapkan 13 penghargaan atau apresiasi bagi para pemangku kepentingan sebelum forum ditutup dengan penyampaian rangkuman hasil pembahasan.

Komposisi narasumber mencerminkan pendekatan lintas sektor. Mereka terdiri atas 15 perwakilan pemerintah, lembaga, dan negara; delapan perwakilan KKKS; tujuh perwakilan SKK Migas; enam akademisi, asosiasi, dan pakar; serta lima mitra internasional. Panitia juga menyebutkan keterlibatan narasumber dari berbagai unsur eksternal lainnya.

Tiga isu besar penentu masa depan hulu migas

Dimas menjelaskan, tiga sesi pleno akan berfokus pada isu-isu prioritas yang dinilai berpengaruh terhadap iklim investasi dan keberlanjutan industri hulu migas Indonesia.

Pertama, penguatan daya saing iklim investasi melalui transformasi kebijakan dan tata kelola yang terintegrasi.

Topik ini menjadi penting di tengah kebutuhan Indonesia untuk meningkatkan daya tarik investasi eksplorasi dan produksi migas. Kepastian regulasi, efektivitas tata kelola, dan kebijakan yang kompetitif menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan usaha yang kondusif.

Kedua, strategi pemenuhan kebutuhan dalam negeri melalui resiliensi skema komersialisasi.

Isu komersialisasi menjadi salah satu pembahasan baru yang diperluas pada penyelenggaraan FOREK kali ini. Pembahasan diharapkan membuka ruang evaluasi terhadap skema komersial yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan energi domestik sekaligus menjaga nilai ekonomi produksi migas.

Ketiga, peran kemitraan dalam mendukung iklim investasi hulu migas.

Melalui tema ini, forum akan membahas pentingnya sinergi antara pemerintah, regulator, pelaku usaha, dan mitra internasional dalam memperkuat daya saing sektor hulu migas.

Dimas menegaskan, perluasan topik komersialisasi menjadi salah satu pembeda FOREK HULU MIGAS 2026 dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.

Bedah fiskal, audit, pajak, hingga optimalisasi aset

Selain sesi pleno, enam sesi diskusi paralel akan mengupas persoalan teknis dan operasional yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha hulu migas.

Pada hari pertama, pembahasan mencakup tiga bidang utama.

Sesi Accounting, Cost, and Revenue akan membedah tantangan investasi dan kepastian regulasi dalam pengembangan skema Production Sharing Contract (PSC).

Sesi Audit akan membahas pengelolaan, pertanggungjawaban, dan pengembalian investasi KKKS secara adil dan akuntabel.

Sementara itu, sesi Tax, Insurance, and Treasury akan mengangkat sinergi implementasi kewajiban International Standard of Liability (ISL) antara SKK Migas, KKKS, dan pemerintah.

Pada hari kedua, diskusi paralel akan berfokus pada transformasi kebijakan fiskal untuk mendukung industri hulu migas, optimalisasi komersialisasi minyak mentah guna meningkatkan nilai ekonomi dan ketahanan energi, serta transformasi pengelolaan aset hulu migas agar lebih produktif, akuntabel, dan berkelanjutan.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa persoalan investasi hulu migas tidak hanya berkaitan dengan besarnya modal yang dibutuhkan. Kepastian fiskal, mekanisme pengembalian biaya, kewajiban perpajakan, pengelolaan aset, dan strategi penjualan hasil produksi juga menjadi bagian penting dalam menentukan daya saing industri.

Calon investor global ikut meramaikan forum

Dari sisi peserta, panitia mencatat kehadiran lebih dari 1.100 partisipan yang berasal dari berbagai kelompok pemangku kepentingan.

Rinciannya meliputi 371 peserta dari KKKS, 152 pembeli migas, 110 peserta dari SKK Migas, 109 peserta dari kementerian dan lembaga, serta 46 peserta dari kalangan konsultan, asosiasi, perbankan, dan asuransi.

Selain itu, terdapat 31 peserta dari perusahaan terkait dan unsur lainnya, 29 perusahaan migas global yang menyatakan minat hadir sebagai calon investor, 23 peserta dari Pertamina Group, serta 18 narasumber eksternal.

Kehadiran perusahaan migas global menjadi salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan forum tersebut. Pertemuan ini berpotensi menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan pengembangan industri nasional dengan peluang investasi dan kemitraan internasional.

Meski demikian, keberhasilan forum tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta atau banyaknya agenda yang terlaksana. Hasil diskusi dan tindak lanjut setelah kegiatan akan menjadi tolok ukur penting untuk melihat dampaknya terhadap industri.

Target akhirnya: investasi tumbuh, produksi meningkat

Panitia menargetkan FOREK HULU MIGAS 2026 menjadi wadah untuk mengidentifikasi berbagai persoalan prioritas, mengonsolidasikan pandangan para pemangku kepentingan, dan menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan.

Hasil akhir yang diharapkan adalah transformasi tata kelola yang mampu meningkatkan investasi dan produksi migas nasional.

Bagi Indonesia, agenda tersebut memiliki arti strategis. Peningkatan produksi domestik dibutuhkan untuk memperkuat pasokan energi, sementara iklim investasi yang kompetitif diperlukan untuk mendorong eksplorasi dan pengembangan lapangan migas baru.

Dimas menekankan bahwa keberhasilan FOREK tidak berhenti pada terselenggaranya diskusi selama dua hari.

“Keberhasilan FOREK tidak hanya diukur dari kesuksesan penyelenggaraan selama dua hari, tetapi lebih jauh lagi dari sejauh mana diskusi, gagasan, dan rekomendasi yang dihasilkan dapat diimplementasikan dan memberikan dampak nyata bagi industri,” ujarnya.

Ia juga mengharapkan dukungan media untuk menyampaikan pentingnya kolaborasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai peran industri hulu migas dalam menopang ketahanan energi nasional.

Dengan agenda yang mencakup reformasi tata kelola, kepastian fiskal, komersialisasi, serta kemitraan investasi, FOREK HULU MIGAS 2026 diharapkan tidak berhenti menjadi forum pertukaran gagasan. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap rekomendasi dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan langkah nyata yang memperkuat industri hulu migas Indonesia.