Catat Ya, Seismik 12.000 Km² di Kaltim, SKK Migas Optimistis Ada Temuan Gas Triliunan Kaki Kubik

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Kutai Kertanegara, Kaltim, ruangenergi.com-Harapan menemukan cadangan gas bumi raksasa di perairan Kalimantan Timur semakin menguat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turun langsung meninjau kapal seismik TGS Ramform Sovereign, yang tengah menjalankan kegiatan eksplorasi menggunakan teknologi mutakhir untuk mengungkap potensi sumber daya gas di kawasan tersebut.

Kabar menggembirakan ini disampaikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto kepada RuangEnergi.com, Kamis (22/10/2026). Menurut Djoko, survei seismik 3D dan 4D yang dikerjakan kapal tersebut dijadwalkan rampung pada pekan berikutnya.

“Alhamdulillah, hari ini Pak Menteri meninjau langsung turun ke lapangan, ke kapal seismik TGS Ramform Sovereign, yang minggu depan selesai pekerjaan seismik 3D dan 4D-nya di perairan Kaltim,” ungkap Djoko.

Bagi industri hulu migas nasional, kegiatan ini bukan sekadar survei bawah laut biasa. Dengan nilai investasi sekitar US$100 juta dan lintasan survei sekitar 12.000 kilometer persegi, proyek tersebut disebut Djoko sebagai kegiatan seismik terbesar dan terpanjang dalam sejarah Indonesia dan ASEAN.

Di balik survei berskala besar ini, tersimpan harapan untuk membuka babak baru eksplorasi gas bumi Indonesia.

Eksplorasi seismik ini dilakukan oleh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) PT ENI Searah sebagai operator, bersama Petronas, Pertamina dengan kepemilikan 10% dan Medco dengan kepemilikan 10% dalam partisipasi interes (participating interest/PI).

Djoko mengungkapkan, wilayah eksplorasi tersebut memiliki lead gas yang diperkirakan mencapai 30 triliun kaki kubik atau trillion cubic feet (TCF). Sementara itu, potensi sumber daya gas diperkirakan sekitar 16 TCF.

Lebih jauh, keyakinan para geolog yang terlibat dalam kegiatan eksplorasi ini bahkan mengarah pada peluang temuan hingga 10 TCF.

“Keyakinan geologist akan dapat 10 TCF. Paten!” kata Djoko dengan optimistis.

Meski demikian, angka tersebut masih merupakan potensi dan perkiraan berdasarkan kajian geologi. Kepastian mengenai besaran sumber daya yang dapat dibuktikan hingga menjadi cadangan gas komersial tetap menunggu hasil evaluasi teknis dan tahapan eksplorasi berikutnya.

Jika potensi tersebut terbukti melalui pengeboran dan evaluasi lanjutan, temuan ini berpeluang menjadi tambahan signifikan bagi portofolio sumber daya gas bumi Indonesia.

Salah satu keunggulan survei ini terletak pada teknologi yang digunakan. Kapal TGS Ramform Sovereign mengandalkan teknologi multi-sensor GeoStreamer, dengan konfigurasi 12 kabel streamer untuk merekam respons gelombang seismik dari struktur bawah permukaan laut.

Teknologi ini memungkinkan pengumpulan data geofisika secara terperinci untuk membantu para ahli memetakan struktur batuan dan mengidentifikasi indikasi keberadaan hidrokarbon di bawah dasar laut.

Menurut Djoko, data seismik juga dapat langsung diolah di atas kapal. Ia mengaku melihat sendiri proses pengolahan data tersebut ketika meninjau fasilitas kapal bersama Menteri ESDM.

“Hasil sementara, saya melihat langsung pengolahan data seismik di kapal ini. Insya Allah ditemukan cadangan gas triliunan TCF,” ujarnya.

Kemampuan mengolah data di kapal menjadi bagian penting dalam mempercepat analisis awal hasil survei. Namun, interpretasi seismik tetap perlu dikonfirmasi melalui kajian geologi, geofisika, dan, apabila prospek dinilai layak, pengeboran eksplorasi.

Dengan demikian, survei ini menjadi salah satu tahapan penting untuk menentukan apakah indikasi gas yang terpetakan benar-benar dapat dikembangkan menjadi temuan komersial.

Indonesia membutuhkan penemuan cadangan migas baru untuk menopang produksi dalam negeri di tengah tantangan penurunan produksi dari lapangan-lapangan yang telah lama beroperasi.

Dalam konteks tersebut, eksplorasi di perairan Kalimantan Timur memiliki arti strategis. Apabila potensi gas berskala besar berhasil dibuktikan, peluang pengembangannya dapat memperkuat pasokan gas untuk kebutuhan domestik, industri, pembangkit listrik, dan kegiatan ekonomi lainnya.

Namun, perjalanan dari survei seismik menuju produksi gas masih memerlukan sejumlah tahapan, mulai dari pematangan prospek, pengeboran eksplorasi, penilaian cadangan, penetapan keekonomian, hingga pengembangan lapangan dan pembangunan fasilitas produksi.

Karena itu, hasil survei TGS Ramform Sovereign akan menjadi salah satu informasi penting yang dinantikan oleh para pelaku industri hulu migas nasional.

Di balik optimisme terhadap potensi gas tersebut, Kepala SKK Migas mengajak seluruh masyarakat untuk ikut mendoakan keberhasilan kegiatan eksplorasi.

Djoko berharap survei yang melibatkan teknologi canggih dan investasi besar ini benar-benar membuka jalan bagi penemuan cadangan gas bumi dalam jumlah signifikan.

“Mohon doa Bapak-Ibu semua, eksplorasi ini benar-benar menemukan cadangan gas yang besar tersebut. Aamiin YRA,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan semangat yang selama ini menjadi dorongan bagi upaya peningkatan produksi migas nasional.

“Bersama kita: Doa & BISA. Lifting naik: BISA, BISA, BISA!”

Pesan tersebut menegaskan harapan SKK Migas agar kegiatan eksplorasi tidak berhenti pada pemetaan potensi, tetapi berlanjut hingga menghasilkan temuan yang dapat mendukung peningkatan produksi dan ketahanan energi Indonesia.

Kini, perhatian tertuju pada hasil akhir survei seismik di perairan Kalimantan Timur. Potensi gas hingga 16 TCF dan peluang temuan 10 TCF menjadi harapan besar. Pembuktiannya masih menanti tahapan eksplorasi selanjutnya.

Jika harapan itu terwujud, perairan Kalimantan Timur berpeluang kembali menjadi salah satu titik penting dalam peta masa depan gas bumi Indonesia.