Cetak Jagoan Drilling Kelas Dunia, Pertamina Drilling Andalkan IDTC

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Indramayu, Jawa Barat, ruangenergi.com-Di balik keberhasilan operasi pengeboran minyak dan gas bumi (migas), bukan hanya rig canggih dan teknologi mutakhir yang menjadi penentu. Ada faktor manusia yang tak kalah penting: kompetensi, kedisiplinan, kemampuan mengambil keputusan, serta komitmen terhadap keselamatan kerja.

Menyadari pentingnya kualitas sumber daya manusia (SDM), PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) terus memperkuat pengembangan talenta pengeboran melalui Indonesia Drilling Training Center (IDTC) di Indramayu, Jawa Barat.

Mengusung konsep The Center of Drilling Operation Excellence, IDTC dirancang bukan sekadar sebagai tempat pelatihan, melainkan pusat pengembangan kompetensi tenaga kerja drilling yang mampu menjawab kebutuhan industri migas, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.

Manager IDTC Pertamina Drilling, Chair Rony, mengatakan kompetensi SDM menjadi salah satu kunci untuk memastikan kegiatan pengeboran berjalan aman, efisien, dan sesuai standar operasional.

“Industri migas membutuhkan SDM yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kompetensi teknis, disiplin terhadap keselamatan, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar. Karena itu, Pertamina Drilling melalui IDTC berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang sedekat mungkin dengan kebutuhan operasi di lapangan,” ujar Chair Rony.

Untuk menghasilkan tenaga kerja yang siap menghadapi tantangan di lapangan, IDTC menerapkan pendekatan pembelajaran yang memadukan teori dengan praktik langsung.

Fasilitas yang tersedia mencakup rig berkapasitas 150 HP, simulator drilling, fasilitas praktik, hingga portacamp sebagai akomodasi peserta pelatihan.

Melalui fasilitas tersebut, peserta dapat mempelajari proses pengeboran secara lebih konkret. Mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga berlatih mengenali peralatan, memahami tahapan operasi, serta mempelajari penerapan standar keselamatan, kualitas, dan efisiensi kerja.

Pendekatan ini menjadi penting karena operasi pengeboran memiliki tingkat kompleksitas dan risiko yang tinggi. Kesalahan dalam mengambil keputusan atau mengabaikan prosedur keselamatan dapat berdampak pada keselamatan pekerja, kelancaran operasi, hingga biaya proyek.

“Kami ingin peserta tidak hanya memahami bagaimana sebuah sumur dibor, tetapi juga memahami mengapa setiap tahapan harus dilakukan dengan standar keselamatan, kualitas dan efisiensi yang tinggi. Inilah yang menjadi nilai tambah IDTC sebagai pusat pengembangan kompetensi drilling,” kata Chair Rony.

Dengan demikian, proses pelatihan diarahkan untuk membangun pemahaman menyeluruh, mulai dari aspek teknis hingga budaya keselamatan yang menjadi fondasi operasi migas.

Peran IDTC juga semakin berkembang melalui keterlibatan peserta dari luar Indonesia. Pusat pelatihan ini turut menjadi bagian dari pengembangan kompetensi peserta dari ANP Timor-Leste, Namibia, Tanzania, dan Malaysia melalui program secondment.

Program tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman mengenai kegiatan pengeboran dalam lingkungan operasi Pertamina Drilling.

Kehadiran peserta dengan latar belakang negara dan pengalaman yang beragam sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan serta praktik terbaik industri.

Hal ini memperlihatkan bahwa pengembangan kompetensi drilling tidak lagi terbatas pada kebutuhan perusahaan atau pasar domestik. Di tengah industri energi yang semakin terhubung secara global, kemampuan tenaga kerja untuk memahami standar dan praktik internasional menjadi modal penting.

Bagi Indonesia, penguatan kapasitas tersebut juga membuka peluang untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja nasional di industri jasa pengeboran.

Tantangan industri migas ke depan diperkirakan semakin beragam. Perkembangan teknologi, tuntutan efisiensi biaya, standar keselamatan yang ketat, serta karakteristik sumur yang semakin kompleks menuntut tenaga kerja yang terus memperbarui kemampuan.

Karena itu, investasi pada SDM menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan bisnis dan memperkuat industri energi nasional.

Pertamina Drilling melihat generasi muda sebagai bagian penting dari masa depan industri tersebut. Melalui IDTC, perusahaan berupaya membuka akses pembelajaran agar generasi muda dapat mengenal dunia drilling secara lebih dekat sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan industri.

“Kami percaya masa depan industri energi juga ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Melalui IDTC, kami ingin ikut membuka akses bagi generasi muda untuk mengenal industri drilling secara lebih dekat dan mempersiapkan mereka agar memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri,” ujar Chair Rony.

Dengan dukungan fasilitas praktik, simulator, instruktur berpengalaman, serta kolaborasi dengan berbagai mitra nasional dan internasional, IDTC terus memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan kompetensi pengeboran.

Pada akhirnya, tantangan industri migas bukan semata-mata tentang seberapa canggih teknologi yang dimiliki. Lebih dari itu, industri membutuhkan manusia yang mampu mengoperasikan teknologi tersebut secara profesional, mengambil keputusan dengan tepat, serta menjaga keselamatan di setiap tahapan pekerjaan.

Melalui pengembangan talenta drilling, Pertamina Drilling berupaya memperkuat fondasi SDM yang dibutuhkan untuk menghadapi persaingan industri energi global sekaligus mendukung keberlanjutan operasi migas Indonesia.