CNG hingga Kompor Listrik: Strategi Baru Kurangi Ketergantungan LPG

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG terus digencarkan. Salah satu langkah strategis yang kini didorong adalah penguatan rantai pasok Compressed Natural Gas (CNG) serta pemanfaatan berbagai sumber energi alternatif lainnya.

Hal ini mengemuka dalam diskusi antara Tenaga Ahli Menteri ESDM, Satya Hangga Yudha Widya Putra dengan Dirut Subholding Hilir PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra, yang membahas arah kebijakan energi nasional ke depan.

Dalam pertemuan tersebut, disoroti pentingnya transformasi bertahap dari LPG menuju sumber energi yang lebih beragam dan berkelanjutan. Langkah ini dinilai krusial untuk menekan impor LPG yang saat ini masih mendominasi sekitar 75 persen kebutuhan nasional, sekaligus mengurangi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Diversifikasi energi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan untuk mencapai ketahanan energi nasional,” ungkap Hangga bercerita kepada ruangenergi.com, Selasa (28/04/2026), di Jakarta.

Hangga menambahkan benang merah diskusi tersebut, sejalan dengan arahan Presiden dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Pemanfaatan CNG sebenarnya bukan hal baru. Energi ini telah digunakan di sektor transportasi dan industri HOREKA (hotel, restoran, dan kafe). Namun, penetrasinya ke sektor rumah tangga masih sangat terbatas.

Salah satu kendala utama adalah aspek teknis, terutama ukuran tabung CNG yang lebih besar dibandingkan tabung LPG konvensional. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi rumah tangga dengan keterbatasan ruang.

Meski demikian, potensi CNG tetap besar jika didukung oleh sistem distribusi yang solid. Dalam konteks ini, sinergi internal di lingkungan Pertamina menjadi kunci.

Kerja sama erat antara Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai pemasok CNG dan Pertamina Patra Niaga sebagai distributor dinilai sangat menentukan keberhasilan program ini.

Alternatif Energi: Dari DME hingga LNG

Selain CNG, sejumlah alternatif energi lain juga masuk dalam radar pengembangan. Di antaranya adalah Dimethyl Ether (DME) hasil gasifikasi batu bara, kompor listrik, serta Liquefied Natural Gas (LNG).

Diversifikasi ini diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada LPG impor, tetapi juga memperkuat fondasi ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.

Dengan kombinasi kebijakan yang tepat, dukungan infrastruktur, serta kolaborasi antar entitas energi nasional, Indonesia diharapkan mampu bertransformasi menuju sistem energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.