Banda Aceh, Aceh, ruangenergi.com-Suasana Muzakarah Ulama Aceh tak hanya menjadi ruang bagi para ulama menyampaikan pandangan dan pemikiran tentang berbagai persoalan umat. Forum ini juga menghadirkan ruang perjumpaan yang hangat, mempertemukan tokoh pemerintahan, pengelola sektor energi, dan ulama dalam suasana penuh keakraban.
Momen itu terlihat ketika Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) Mawardi Nur bersama Wakil Kepala BPMA Nizar Saputra berbincang santai dengan Abu Paya Pasi, Imam Besar Masjid Raya Aceh yang menjabat sejak Mualem terpilih sebagai gubernur Aceh.
Pertemuan yang berlangsung beberapa minggu lalu, di sela-sela kegiatan Muzakarah Ulama Aceh, tersebut memperlihatkan sisi lain dari para tokoh yang selama ini berkutat dengan tanggung jawab dan peran masing-masing.
Tanpa suasana formal yang kaku, ketiganya duduk bersama, bertukar cerita, dan menikmati perbincangan dalam nuansa kekeluargaan. Senyum dan tawa yang mengiringi pertemuan itu menjadi gambaran keakraban yang terjalin di antara mereka.
Muzakarah Ulama Aceh merupakan forum yang memberikan ruang bagi para ulama untuk menyampaikan pendapat, bertukar pandangan, serta membahas berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Dalam tradisi masyarakat Aceh, ulama memiliki kedudukan penting. Nasihat dan pandangan mereka kerap menjadi rujukan, tidak hanya dalam persoalan keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan.
Karena itu, muzakarah bukan sekadar pertemuan untuk mendengarkan pendapat. Forum semacam ini juga menjadi ruang silaturahmi, mempertemukan beragam latar belakang dalam semangat mencari pemahaman bersama.
Di sela-sela agenda tersebut, perbincangan Mawardi dan Nizar dengan Abu Paya Pasi berlangsung dalam suasana yang cair. Tidak tampak sekat formalitas yang berlebihan. Yang terlihat justru keakraban dalam sebuah pertemuan yang sederhana.
Sebagai pimpinan BPMA, Mawardi Nur dan Nizar Saputra mengemban tanggung jawab dalam pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi di Aceh. Sementara itu, Abu Paya Pasi menjalankan peran keagamaan yang dekat dengan kehidupan umat dan masyarakat Aceh.
Ketiganya berasal dari lingkungan pengabdian yang berbeda, tetapi bertemu dalam ruang yang sama: Aceh, dengan karakter masyarakatnya yang lekat dengan tradisi, nilai keagamaan, dan semangat kebersamaan.
Pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan daerah tidak hanya dibangun melalui kebijakan, investasi, dan pengelolaan sumber daya alam. Ada pula peran silaturahmi, komunikasi, serta nilai-nilai sosial yang ikut membentuk hubungan antarelemen masyarakat.
Bagi Aceh, sektor migas memiliki arti penting bagi perekonomian daerah. Namun, pengelolaannya juga berada dalam konteks kehidupan masyarakat yang memiliki identitas budaya dan keagamaan kuat.
Di sinilah komunikasi antara berbagai unsur masyarakat menjadi penting. Ruang dialog yang terbuka dapat membantu membangun pemahaman bersama, sekaligus menjaga hubungan baik di tengah beragam tanggung jawab dan kepentingan.
Foto pertemuan itu menangkap momen sederhana: tiga tokoh duduk berhadapan, berbincang, dan tertawa bersama. Tidak ada podium, mikrofon, atau suasana rapat resmi. Hanya percakapan santai di sela agenda yang mempertemukan mereka.
Justru dalam kesederhanaan itulah, makna silaturahmi terasa. Sebab, tidak semua komunikasi harus berlangsung dalam forum resmi. Terkadang, percakapan ringan menjadi pintu bagi hubungan yang lebih dekat dan saling memahami.
Muzakarah Ulama Aceh pun menjadi lebih dari sekadar ruang penyampaian pendapat. Di sela-sela pembahasan yang serius, terselip perjumpaan antartokoh yang memperlihatkan bahwa kehidupan Aceh bergerak melalui banyak jalur pengabdian.
Dari pengelolaan sumber daya energi hingga pembinaan kehidupan keagamaan, setiap peran memiliki ruangnya masing-masing. Dan di antara peran-peran itu, silaturahmi tetap menjadi jembatan yang menyatukan.


