Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar menggembirakan datang dari Blok Cepu. ExxonMobil berhasil menghidupkan kembali sumur yang sebelumnya berstatus shut-in atau tidak berproduksi, B-09, melalui penerapan teknologi Chemical Gas/Water Shut-Off (GWSO).
Kabar tersebut disampaikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto kepada ruangenergi.com, Minggu (9/8/2026). Djoko menyebut keberhasilan mengaktifkan kembali sumur B-09 menjadi good news di tengah upaya pemerintah menggenjot produksi dan lifting minyak nasional.
“Alhamdulillah, ExxonCepu berhasil menghidupkan kembali idle well atau sumur mati B-09,” kata Djoko.
Menurut dia, teknologi tersebut menggunakan bahan kimia dengan formulasi tertentu untuk menghambat laju alir gas dan air dari reservoir menuju lubang bawah sumur (wellbore). Dengan berkurangnya aliran gas dan air, minyak yang keluar dari sumur dapat meningkat.
Menariknya, formulasi bahan kimia tersebut dikembangkan oleh ExxonMobil dan selanjutnya diserahkan kepada Halliburton untuk diproduksi sekaligus diinjeksi ke dalam sumur.
Hasilnya cukup signifikan. Gas Oil Ratio (GOR) sumur B-09 berhasil ditekan dari sekitar 2.100 scf/bbl menjadi sekitar 400 scf/bbl.
Penurunan GOR ini kemudian membuka peluang bagi sumur B-09 untuk kembali berproduksi dengan volume yang cukup besar.
Djoko menyebut potensi produksi sumur tersebut kini berada pada kisaran 4.500–8.000 barel minyak per hari (BOPD).
Wade Floyd: B-09 Kini Produksi Sekitar 8.000 BOPD
Keberhasilan tersebut juga dikonfirmasi langsung oleh Presiden Direktur ExxonMobil Indonesia, Wade Floyd, kepada Djoko Siswanto.
Dalam pesannya, Wade menjelaskan bahwa ExxonMobil telah menyelesaikan pekerjaan untuk mengaktifkan kembali sumur B-09 yang sebelumnya shut-in.
“ExxonMobil successfully completed wellwork to reactivate the shut-in B09 well by using Chemical Gas/Water Shut-Off (GWSO) technology, slow reacting acid, and deep penetrating perforation,” ujar Wade.
Menurut Wade, penerapan GWSO berhasil menurunkan GOR dari sekitar 2.100 scf/bbl menjadi sekitar 400 scf/bbl.
Tak berhenti di situ. ExxonMobil juga menggunakan slow reacting acid stimulation untuk meningkatkan Productivity Index sumur setelah pekerjaan GWSO dilakukan.
Hasil akhirnya mulai terlihat.
“Currently, well B09 is producing around ~8kbd through wellbore,” kata Wade.
Artinya, sumur B-09 saat ini telah mampu mengalirkan produksi sekitar 8.000 barel minyak per hari melalui wellbore.
Wade pun menyampaikan apresiasi atas dukungan dan kepemimpinan SKK Migas dalam mendukung pekerjaan tersebut.
“Thank you for SKK’s support and leadership,” ujarnya.
Sumur Mati Kembali Jadi Andalan
Keberhasilan menghidupkan B-09 menunjukkan bahwa optimalisasi produksi tidak selalu harus dilakukan melalui pengeboran sumur baru. Teknologi well intervention dan rekayasa kimia juga dapat menjadi senjata penting untuk mengembalikan produksi dari sumur-sumur yang sebelumnya tidak ekonomis atau mengalami kendala produksi.
Bagi SKK Migas, keberhasilan tersebut menjadi tambahan amunisi dalam mengejar target produksi dan lifting minyak nasional.
Djoko pun mengajak seluruh insan migas untuk terus memberikan dukungan dan doa terhadap rangkaian kegiatan pemboran, workover, dan well service yang masih berlangsung hingga Desember 2026.
“Mohon bantuan Bapak-Ibu semua untuk mengajak doa bersama seluruh insan migas agar sisa kegiatan pemboran, workover dan wellservice sampai Desember 2026 dapat menghasilkan produksi minyak yang melebihi berlipat-lipat ganda dari target,” kata Djoko.
Ia menutup laporannya dengan optimisme.
Exxon Cepu dan SKK Migas: bersama kita bisa.
Lifting naik: BISA, BISA, BISA.

