Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Pertamina bersiap memainkan peran lebih besar dalam menjaga produksi minyak dan gas bumi nasional pada 2027. Sebagai pemilik sekitar 60% blok migas di Indonesia, Pertamina menyepakati target Work Program and Budget (WP&B) 2027 dengan sasaran produksi minyak sebesar 412 ribu barel per hari (BOPD), atau 15 ribu BOPD di atas target APBN.
Informasi tersebut disampaikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam laporannya mengenai kesepakatan target produksi Pertamina untuk 2027. Target ini menjadi salah satu langkah penting dalam upaya meningkatkan lifting minyak nasional sekaligus mendukung penerimaan negara dari sektor hulu migas.
”Pertamina, yang menguasai sekitar 60% blok migas di Indonesia, menyepakati target WP&B 2027 sebesar 412 ribu barel minyak per hari (BOPD). Target tersebut lebih tinggi 15 ribu BOPD dibandingkan target yang ditetapkan dalam APBN,” kata Djoko Siswanto dalam bincang santai virtual bersama ruangenergi.com, Minggu (11/10/2026), di Jakarta.
Kesepakatan tersebut juga sejalan dengan arah strategi yang disampaikan Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, setelah Pertamina Group berdiskusi bersama SKK Migas pada Jumat (9/10/2026).
Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, Oki mengungkapkan empat fokus utama Pertamina untuk mendongkrak produksi migas pada 2027, yakni mengoptimalkan lapangan-lapangan mature, mempercepat investasi hingga produksi perdana, menjadikan teknologi sebagai mesin pertumbuhan, serta memperkuat kolaborasi.
Target 412 ribu BOPD tersebut memperlihatkan besarnya ekspektasi terhadap kontribusi Pertamina dalam menjaga produksi minyak nasional. Dengan target 15 ribu BOPD di atas sasaran APBN, perusahaan dituntut memastikan program kerja dan investasi yang disusun benar-benar menghasilkan tambahan produksi.
Tantangannya tidak ringan. Sejumlah lapangan migas Pertamina telah memasuki fase mature atau lapangan tua, ketika produksi secara alamiah cenderung menurun. Karena itu, peningkatan produksi membutuhkan kombinasi strategi teknis, investasi, dan eksekusi operasi yang tepat.
Oki menyebut lapangan Rokan, Jambi Merang, dan berbagai lapangan Pertamina lainnya masih memiliki potensi besar untuk dioptimalkan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui optimasi reservoir, pengeboran sumur baru (drilling), workover, well intervention, hingga penerapan teknologi enhanced oil recovery (EOR).
Strategi ini menempatkan optimalisasi lapangan eksisting sebagai salah satu tumpuan untuk menambah produksi, tanpa hanya mengandalkan penemuan lapangan baru.
Selain menggenjot produksi dari lapangan yang sudah beroperasi, Pertamina juga menargetkan percepatan keputusan investasi hingga proyek menghasilkan minyak pertama atau first oil.
Oki mengingatkan bahwa dalam industri migas, setiap bulan keterlambatan berpotensi membuat produksi yang seharusnya dapat dihasilkan menjadi tertunda.
Karena itu, proses bisnis, pengadaan, perizinan, dan koordinasi antarpihak perlu dibuat lebih sederhana dan cepat. Percepatan tersebut diharapkan dapat memangkas waktu dari tahap perencanaan menuju realisasi produksi.
Dengan target produksi yang lebih tinggi, setiap proyek dan keputusan investasi harus memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian lifting.
Oki menuturkan, Pertamina juga akan mendorong pemanfaatan teknologi untuk membuka potensi produksi yang belum dapat diambil secara optimal.
Oki menyoroti berbagai pendekatan yang dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing reservoir, mulai dari chemical EOR, steamflood, multistage fracturing, pengembangan sumber daya nonkonvensional, Coil Tubing Drilling (CTD), hingga Extended Reach Reservoir Access (ERRA).
Menurut dia, pertanyaan mendasarnya adalah di mana sisa minyak berada dan bagaimana cara paling efisien untuk memproduksikannya.
Pertamina juga didorong semakin terbuka terhadap Knowledge Sharing and Operational Technology (KSOT) serta memperkuat kolaborasi dengan perusahaan jasa migas, perguruan tinggi, dan mitra strategis sejak tahap desain.
Kolaborasi tersebut diharapkan mempercepat adopsi teknologi, meningkatkan efektivitas operasi, dan mendukung pencapaian target produksi.
Meski demikian, Oki menegaskan bahwa keberhasilan tidak cukup diukur dari bertambahnya jumlah barel yang diproduksikan.
Peningkatan produksi harus diikuti biaya per barel yang semakin kompetitif, keselamatan kerja yang semakin baik, serta arus kas yang semakin kuat.
Dengan demikian, target lifting 2027 bukan hanya soal mengejar volume, tetapi juga memastikan setiap tambahan produksi memberikan nilai ekonomi yang optimal bagi perusahaan dan negara.
Kesepakatan target WP&B Pertamina sebesar 412 ribu BOPD menjadi salah satu agenda penting dalam upaya mengejar peningkatan lifting migas nasional pada 2027. Realisasinya akan bergantung pada kemampuan Pertamina mengeksekusi program kerja, mempercepat investasi, mengoptimalkan lapangan yang ada, serta memanfaatkan teknologi secara efektif.
Sinergi Pertamina dan SKK Migas pun menjadi faktor penting agar target produksi yang telah disepakati dapat diwujudkan menjadi tambahan lifting nyata, memperkuat ketahanan energi, dan menopang penerimaan negara.


