Banggai, Sulteng, ruangenergi.com — Aktivitas di Terminal LNG Donggi Senoro LNG (DSLNG) di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, kembali menunjukkan geliat perdagangan gas alam cair Indonesia ke pasar global.
Kapal LNG Malio dengan kapasitas sekitar 126 ribu meter kubik LNG bersiap melakukan proses pemuatan di Terminal LNG DSLNG untuk selanjutnya berlayar menuju Futsu LNG Terminal, Tokyo Bay, Jepang.
Marine Superintendent DSLNG Donny Rahmadana menjelaskan, proses sejak kapal sandar hingga seluruh LNG selesai dimuat membutuhkan waktu sekitar 40–46 jam.
“Kalau dari sandar sampai loading, kurang lebih 40 sampai 46 jam,” ujar Donny, seperti dilaporkan Destian Anugrah Ramadhan, reporter ruangenergi.com, saat mengikuti site visit media ke fasilitas DSLNG di Banggai.
Menurut Donny, pengiriman LNG dari Terminal Donggi Senoro berlangsung secara berkala. Dalam kondisi normal, interval kedatangan kapal LNG sekitar 10 hari sekali. Tujuan pengiriman pun tidak hanya Jepang, tetapi dapat diarahkan ke Korea maupun pasar lainnya, bergantung pada kebutuhan dan arahan trader.
“Intervalnya per sepuluh hari di sini. Kadang kita bawa untuk domestik atau ke Korea,” katanya.
Untuk pengiriman ke Korea, DSLNG antara lain menggunakan kapal LNG Indotopia. Sementara untuk pasar domestik, terdapat sejumlah kapal seperti Ekaputera, Arunika Jaya dan Nobel.
Donny menyebut, pengiriman domestik saat ini rata-rata berlangsung sekitar satu kali dalam sebulan, dengan frekuensi yang tetap bergantung pada permintaan.
Satu Kapal, Satu Kargo
Dalam operasional LNG, satu kapal yang melakukan pengangkutan dihitung sebagai satu kargo, terlepas dari ukuran kapasitas kapal tersebut.
Kapal Malio yang memiliki kapasitas sekitar 126 ribu meter kubik merupakan salah satu kapal yang digunakan untuk mengangkut LNG DSLNG ke pasar Jepang. Bahkan, DSLNG pernah melayani kapal dengan kapasitas lebih besar, mencapai sekitar 149 ribu meter kubik untuk pengiriman kepada JERA.
Untuk pasar domestik, LNG DSLNG antara lain dikirim menuju fasilitas FSRU Lampung di wilayah Maringgai, dengan buyer PGN. Sementara salah satu sejarah penting DSLNG adalah pengiriman kargo LNG perdana pada 2015 menuju Arun, yang ditujukan untuk PLN.
Tak hanya LNG, Terminal DSLNG juga menangani pengiriman kondensat. Dalam setahun, sekitar 16 kapal kondensat dilayani dengan volume sekitar 52.500 barel per kapal. Kondensat tersebut memiliki buyer antara lain Chandra Asri.
Tak Semua Kapal LNG Bisa Masuk
Di balik aktivitas bongkar-muat LNG, terdapat proses teknis dan administratif yang cukup kompleks. Sebelum kapal masuk dan melakukan aktivitas di terminal, DSLNG harus memastikan aspek keselamatan, keamanan serta kompatibilitas kapal dengan fasilitas terminal.
Salah satu tahapan penting adalah Ships Shore Compatibility Study (SSCS).
“Lebih ke technical issue sama operational issue. Tantangannya banyak, variabel,” jelas Donny.
Selain itu, kapal yang datang dari pelabuhan internasional harus melalui pemeriksaan oleh otoritas terkait, mulai dari bea cukai, imigrasi, otoritas pelabuhan hingga karantina.
Marine pilot kemudian naik ke kapal untuk membantu mengarahkan kapal menuju terminal.
Setelah kapal sandar, tim DSLNG melakukan pre-meeting dan berbagai formalitas sebelum loading arm dihubungkan antara kapal dan fasilitas darat. Proses persiapan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemuatan LNG.
“Biasanya formalitas dua sampai tiga jam, persiapan loading arm connect, habis itu penyesuaian antara darat sama kapal. Setelah itu baru diproses muat,” kata Donny.
Terminal DSLNG Siap Layani Kapal Modern
Dari sisi fasilitas, Terminal LNG Donggi Senoro juga telah mampu menerima berbagai jenis kapal LNG modern.
Menurut Donny, kapal dengan teknologi tangki yang berbeda, termasuk tipe membran maupun Moss, telah dapat dilayani.
Namun, terdapat batasan desain terminal untuk kapal LNG berukuran sangat besar seperti Q-Max dan Q-Flex yang umumnya memiliki kapasitas di atas 200 ribu meter kubik.
“Kalau yang Q-Max, Q-Flex yang paling terbaru, kita belum siap. Karena kapasitas jetty kita by design 75 sampai 155 ribu meter kubik,” jelasnya.
Artinya, kapal LNG berkapasitas sekitar 126 ribu meter kubik seperti Malio masih berada dalam rentang kapasitas yang dapat dilayani Terminal DSLNG.
Dari Senoro dan JOBI-Tomori Mengalir ke Pasar
LNG yang dimuat di Terminal DSLNG berasal dari sumber gas di wilayah hulu, antara lain Blok Senoro dan JOBI-Tomori, termasuk pasokan dari Pertamina EP.
Dari kawasan Banggai, gas tersebut kemudian melalui proses pengolahan menjadi LNG sebelum dikirim menggunakan kapal ke berbagai pasar.
Kapal Malio menjadi salah satu mata rantai terakhir dalam perjalanan panjang tersebut. Setelah proses loading selesai, kapal akan meninggalkan Terminal DSLNG dan membawa LNG menuju Futsu LNG Terminal di Tokyo Bay, Jepang.
Bagi DSLNG, aktivitas tersebut bukan sekadar proses memindahkan LNG dari darat ke kapal. Di balik satu kapal yang tampak diam di dermaga, terdapat rangkaian proses teknis, keselamatan, administrasi dan koordinasi lintas otoritas yang memastikan setiap kargo LNG dapat berlayar dengan aman menuju pasar tujuan.
Dan dari pesisir Banggai, energi Indonesia kembali bergerak menuju pasar Asia.


