Ketok Palu! Ditjen Migas Gelar Sidang Penentuan Jawara Keselamatan Migas 2026 di Cibubur

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp
Bekasi, Jawa Barat, ruangenergi.com— Industri minyak dan gas bumi (migas) dikenal sebagai sektor dengan risiko tinggi. Oleh karena itu, urusan keselamatan tak lagi sekadar standar operasional, melainkan napas utama perusahaan. Untuk mengapresiasi dedikasi tersebut, Direktorat Jenderal (Ditjen) Migas Kementerian ESDM kembali menggelar tahapan krusial: Pleno Apresiasi Keselamatan Migas Tahun 2026.
Berlangsung di Avenzel Hotel and Convention Cibubur, Bekasi, pada Kamis (3/9), agenda ini menjadi ajang “ketok palu” alias penentuan akhir secara objektif dan transparan bagi para kandidat penerima penghargaan bergengsi di sektor hulu hingga hilir migas.
Ajang apresiasi ini bukanlah barang baru. Digelar konsisten sejak 2016, Ditjen Migas rutin membagikan penganugerahan untuk kategori Patra Nirbhaya Karya (prestasi tanpa kehilangan jam kerja akibat kecelakaan) dan Patra Karya Raksa (keberhasilan pembinaan keselamatan migas).
Namun, ada yang menarik perhatian sejak tahun lalu. Ditjen Migas kini memiliki kategori Patra Prakarsa. Ini adalah panggung khusus bagi “otak-otak” cemerlang—baik perseorangan maupun kelompok—yang berhasil menelurkan inovasi mutakhir untuk menjaga keselamatan kerja di lapangan.
Mewakili Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Koordinator Keselamatan Hulu Migas, Banarwoto, mengungkapkan bahwa persaingan tahun ini cukup ketat.
“Sebelum pleno ini, kita telah melalui jalan panjang. Mulai dari pendaftaran, evaluasi internal, hingga verifikasi langsung pada akhir Juli lalu. Tercatat ada 31 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di sektor hulu, 57 Pemegang Izin Usaha di sektor hilir, dan 10 inovator tangguh untuk kategori Patra Prakarsa,” beber Banarwoto.
Pleno yang dihadiri oleh jajaran Tim Independen Pengendalian Keselamatan Migas (TIPKM) dan Tim Verifikator ini bukan sekadar formalitas. Banarwoto menegaskan bahwa forum ini didesain untuk membedah habis kelayakan para nomine.
“Hari ini kita putuskan hasilnya. Kalau semuanya clear, kita sepakati bersama. Tapi jika ada rekam jejak yang meragukan, kita bahas tuntas di sini untuk mencari mufakat,” tegasnya.
Di tempat yang sama, Wakil Ketua TIPKM, Soehatman Ramli, menyoroti betapa bangganya sektor migas dalam urusan standardisasi keamanan (HSE). Ia menilai, industri migas Indonesia masih menjadi “bintang kelas” jika dibandingkan dengan sektor lain.
“Acara ini sangat esensial karena bersifat final. Dibandingkan sektor lain, industri migas kita terbukti lebih maju dalam budaya keselamatan. Semoga ajang tahunan ini terus menjadi pemacu semangat bagi seluruh perusahaan,” ujar Soehatman penuh apresiasi.
Pada akhirnya, hasil pleno ini akan menjadi bukti sahih bahwa penghargaan Keselamatan Migas 2026 tidak diberikan secara cuma-cuma. Kredibilitas dan integritas menjadi harga mati, memastikan bahwa trofi apresiasi hanya jatuh ke tangan mereka yang benar-benar melindungi nyawa dan masa depan energi nasional.