Jakarta, ruangenergi.com – Wisudawan terbaik Program Studi S1 Teknik Tenaga Listrik Institut Teknologi PLN (ITPLN), Septi Andriani, membuktikan bahwa disiplin dan kerja keras mampu mempercepat jalan menuju kesuksesan. Mahasiswa asal Lampung tersebut berhasil menuntaskan studi sarjana hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,70.
Bagi Septi, motivasi terbesar untuk menyelesaikan kuliah lebih cepat datang dari orang tuanya. Ia mengaku ingin segera membalas perjuangan ayah dan ibunya yang selama ini bekerja keras demi pendidikan anak.
“Semangat pertama saya tentu orang tua. Mereka sudah bekerja keras mencari uang. Saya berpikir, kalau memang ada peluang lulus 3,5 tahun, kenapa tidak saya usahakan lebih keras lagi,” ujar Septi saat berbincang, belum lama ini.
Mahasiswa kelahiran Kotabumi, Lampung, 23 September 2004 itu mengungkapkan bahwa titik krusial percepatan studi berada pada semester enam. Saat itu, mahasiswa harus memenuhi sejumlah persyaratan akademik, salah satunya telah menyelesaikan minimal 130 SKS.
Informasi tersebut diperolehnya dari senior yang lebih dulu berhasil lulus dalam waktu 3,5 tahun. Berbekal arahan itu, Septi mulai menyusun strategi akademik sejak sebelum pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) semester enam.
“Semester enam dan tujuh itu paling menentukan. Kami harus pandai membagi waktu antara magang, laporan magang, kuliah, dan skripsi secara bersamaan,” katanya.
Kesibukan Septi selama kuliah tak hanya berkutat di ruang kelas. Ia juga aktif sebagai asisten laboratorium Sistem Tenaga Listrik (STL), yang sekaligus menjadi sumber tambahan uang saku.
Meski memiliki berbagai aktivitas, Septi tetap memprioritaskan akademik. Menurutnya, manajemen waktu menjadi kunci utama agar seluruh tanggung jawab dapat berjalan seimbang.
“Kalau organisasi tidak terlalu mendesak, saya fokus ke tanggung jawab di laboratorium dan akademik. Yang penting jangan terlalu banyak membuang waktu untuk hal yang kurang penting,” tuturnya.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa untuk membangun jejaring sejak dini melalui diskusi yang produktif dengan senior maupun rekan kuliah.
“Nongkrong boleh, tetapi kalau yang dibahas berbobot, seperti pengalaman kerja atau pengembangan karier. Dari situ kita membangun jejaring,” katanya.
Menariknya, Septi mengaku tidak pernah menyangka akan dinobatkan sebagai salah satu mahasiswa berprestasi pada wisuda kali ini. Ia bahkan baru mengetahui kabar tersebut saat hari pelaksanaan.
“Saya hanya mendapat informasi kalau lulus cumlaude. Tidak menyangka menjadi salah satu mahasiswa berprestasi. Orang tua saya juga kaget karena saya tidak memberi tahu sebelumnya,” imbuhnya.
Dalam tugas akhirnya, Septi mengangkat penelitian mengenai analisis transien sistem tenaga listrik di wilayah Sumatera bagian selatan. Penelitian tersebut mengkaji dampak pembangunan jalur transmisi baru 275 kilovolt (kV) terhadap kestabilan sistem kelistrikan.
Ia menganalisis kondisi sistem ketika terjadi gangguan atau trip pada pembangkit besar, termasuk perubahan frekuensi dan tegangan jaringan listrik.
Penelitian itu diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan sistem kelistrikan yang lebih andal, terutama di wilayah Sumatera.
Usai menyelesaikan studi, Septi mengaku masih menunggu peluang karier, termasuk kemungkinan mengikuti seleksi yang difasilitasi kampus. Jika mendapat kesempatan bergabung dengan PT PLN (Persero), ia menyatakan siap memberikan kontribusi terbaik.
“Kalau memang rezekinya bekerja di PLN, saya akan berkomitmen penuh. Saya bisa kuliah di ITPLN juga karena semangat untuk berkontribusi di dunia kelistrikan,” tegasnya.
Septi merupakan putri dari pasangan Suciyadi dan Wiwin Lestari. Di balik capaian akademiknya, ia percaya bahwa keberhasilan tidak lahir dari kecerdasan semata, melainkan ketekunan dan kemampuan mengelola waktu secara konsisten. Setiap program akademik ITPLN bisa diakses melalui laman www.itpln.ac.id.
“Begadang sedikit tidak apa-apa, namanya juga mahasiswa. Yang penting jangan membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting,” kata Septi.
Dengan prestasi tersebut, Septi menjadi bukti bahwa kerja keras, disiplin, dan dukungan keluarga mampu mengantarkan mahasiswa meraih pencapaian terbaik bahkan sebelum masa studi normal berakhir.

