Mahasiswa UTP Tertarik dengan Teknologi Energi Indonesia

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com – Institut Teknologi PLN (ITPLN) meluncurkan ITPLN Global Pals, sebuah inisiatif internasionalisasi kampus untuk memperluas jejaring global, pertukaran pengetahuan, serta kolaborasi akademik dengan kampus global. Perdana, ITPLN menjalin kolaborasi dengan Universiti Teknologi PETRONAS (UTP), Malaysia melalui program International Student Exchange Mobility ITPLN dan UTP pada Oktober 2026.

Rektor ITPLN Prof. Iwa Garniwa mengatakan, Global Pals dirancang untuk membangun hubungan internasional yang berkelanjutan, tidak hanya melalui kunjungan kampus, tetapi juga lewat pengembangan program bersama di bidang pendidikan, penelitian, dan inovasi.

“Mahasiswa UTP yang datang ke Indonesia awalnya adalah tamu, tetapi setelah ini kalian adalah keluarga kami,” ujar Iwa di Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Menurut dia, internasionalisasi perguruan tinggi tidak cukup dilakukan melalui program pertukaran mahasiswa dalam waktu singkat. Diperlukan wadah yang memungkinkan mahasiswa dan sivitas akademika terus berkomunikasi, berbagi pengalaman, serta membangun kerja sama setelah program berakhir.

Iwa menilai, interaksi lintas negara juga penting untuk memperluas perspektif mahasiswa. Meski Indonesia dan Malaysia memiliki kedekatan geografis serta sejumlah kesamaan budaya dan bahasa, keduanya tetap mempunyai pengalaman dan sudut pandang yang beragam.

“Melalui Global Pals, saya berharap mahasiswa dapat memahami perspektif yang berbeda dan berkolaborasi secara internasional,” katanya.

Sebagai kampus transisi energi, ITPLN memandang jejaring internasional sebagai salah satu modal untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan global. Penguasaan teknologi perlu diimbangi kemampuan beradaptasi dengan perbedaan budaya, membangun komunikasi, dan bekerja sama dengan mitra dari berbagai negara.

Iwa juga mengajak mahasiswa mengambil peran aktif dalam Global Pals dengan membangun koneksi, bertukar gagasan, dan menjaga komunikasi setelah program mobilitas selesai.

“Hubungan yang kalian bangun hari ini dapat membuka pintu menuju berbagai peluang yang mungkin belum pernah kalian bayangkan,” tegasnya.

Dia menegaskan, berakhirnya program International Student Exchange Mobility bukan berarti kerja sama ITPLN dan UTP turut berakhir. Sebaliknya, pengalaman selama program tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi kolaborasi yang lebih luas di bidang pendidikan, penelitian, dan inovasi.

Iwa juga menyampaikan apresiasi kepada dosen UTP, Dr. Halimaton Hakimi dan tim serta seluruh pihak ITPLN yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan program mobilitas mahasiswa tersebut.

“Kami berharap kemitraan ini semakin kuat dan menciptakan lebih banyak peluang yang bermanfaat bagi kedua institusi. Global Pals harus menjadi jejaring internasional yang aktif dan berkelanjutan, bukan sekadar program yang diluncurkan hari ini,” ucap Iwa.

Manajer Bagian Kerja Sama Internasional ITPLN, Nadia Paramita, mengatakan ITPLN Global Pals merupakan jejaring pendukung internasional unggulan yang dirancang untuk memastikan mahasiswa dan tamu internasional merasa diterima, didampingi, serta menjadi bagian dari keluarga besar ITPLN.

“Program ini diharapkan menciptakan lingkungan kampus yang inklusif sekaligus memudahkan mahasiswa internasional beradaptasi, membangun relasi, dan memperoleh pengalaman akademik serta budaya para peserta selama berada di Indonesia,” kata Nadia.

Menurut Nadia, ITPLN Global Pals tidak hanya berfokus pada pendampingan mahasiswa dan tamu internasional di lingkungan kampus, tetapi juga membuka kesempatan bagi anggotanya untuk memperluas jejaring global, menjadi delegasi dalam berbagai kegiatan, serta berpartisipasi dalam aktivitas internasional di luar negeri. Melalui inisiatif ini, ITPLN berharap mahasiswa memiliki akses lebih luas terhadap pengalaman lintas budaya dan peluang kolaborasi internasional yang dapat mendukung pengembangan kompetensi serta wawasan global mereka.

Pengalaman mengikuti program mobilitas tersebut juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa UTP untuk mengenal perkembangan teknologi energi di Indonesia, termasuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung Cirata.

Mahasiswa UTP Malaysia yang menjadi peserta Global Pals ITPLN, Mohammed Adel M.A Sinnokrot, mengatakan, kunjungan ke fasilitas energi tersebut berkaitan erat dengan materi yang dipelajarinya di kampus, terutama mengenai transisi energi.

Menurut Mohammed, pengalaman tersebut memberinya gambaran mengenai penerapan teknologi energi terbarukan di Indonesia. Dia berharap Malaysia dapat mengembangkan praktik serupa agar negara-negara di kawasan Asia semakin maju dalam pemanfaatan energi bersih.

“Hal ini sangat dekat dengan apa yang saya pelajari di UTP, yaitu transisi energi. Saya berharap Malaysia juga dapat menerapkan apa yang telah dilakukan Indonesia sehingga negara-negara Asia dapat berkembang lebih jauh pada masa depan,” ujar Mohammed.

Dia juga mengapresiasi lingkungan dan sambutan yang diterimanya selama mengikuti kegiatan di ITPLN. Menurut dia, suasana yang positif serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya membuat pengalaman pertukaran mahasiswa menjadi lebih berkesan.

Apresiasi serupa disampaikan Nadya Arissa binti Zainal Abidin, mahasiswa UTP lainnya yang mengikuti program tersebut. Dia berterima kasih kepada pimpinan dan mahasiswa ITPLN atas sambutan hangat selama enam hari kegiatan.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada wakil rektor, rektor, Ibu Nadia dan tim, serta seluruh mahasiswa ITPLN karena telah menyambut kami dengan sangat baik sejak hari pertama. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk berada di sini,” ujar Nadya.

Pengalaman para mahasiswa tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan akademik antara ITPLN dan UTP. Melalui Global Pals, kedua institusi diharapkan dapat menjaga kesinambungan komunikasi dan memperluas kesempatan belajar lintas negara bagi mahasiswa.

Bagi ITPLN, inisiatif ini sekaligus menjadi langkah untuk membangun budaya akademik yang lebih terbuka terhadap pertukaran gagasan dan pengalaman internasional. Dengan jejaring yang terpelihara, kolaborasi tidak berhenti pada kunjungan kampus, tetapi berpeluang berkembang menjadi kerja sama pendidikan, penelitian, dan inovasi yang berkelanjutan.