Menjaga Energi di Negeri Kepulauan, Pertamina Perkuat Pasokan Maluku Utara

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com — Di wilayah kepulauan seperti Maluku Utara, energi bukan sekadar soal bahan bakar. Di balik pasokan BBM dan avtur, ada pesawat yang menghubungkan antarpulau, kapal yang membawa logistik, hingga roda perekonomian masyarakat yang harus terus bergerak.

Tantangannya tidak sederhana. Bentang geografis Indonesia Timur yang terdiri atas ribuan pulau membuat distribusi energi membutuhkan infrastruktur yang andal sekaligus strategi yang matang.

Kondisi inilah yang menjadi perhatian Direktur Manajemen Risiko PT Pertamina (Persero) Ahmad Siddik Badruddin saat mengunjungi sejumlah fasilitas operasi Pertamina di Ternate, Maluku Utara, Selasa (1/9).

Kunjungan tersebut bukan sekadar melihat fasilitas dari dekat. Pertamina mengevaluasi kesiapan infrastruktur menghadapi satu hal yang tak bisa dihindari: kebutuhan energi yang terus tumbuh seiring bergeraknya ekonomi daerah.

Avtur untuk Menjaga Konektivitas Udara

Salah satu fasilitas yang dikunjungi Siddik adalah Aviation Fuel Terminal (AFT) Baabullah, yang berada di sekitar Bandara Sultan Babullah, Ternate.

Fasilitas ini menjadi salah satu titik penting dalam rantai pasok avtur bagi penerbangan yang datang dan berangkat dari Ternate.

“Terminal ini dikhususkan untuk menyuplai avtur untuk sekitar 15 penerbangan pesawat per hari yang masuk dan keluar dari Bandara Babullah,” ujar Siddik.

Angka tersebut bukan sekadar statistik penerbangan. Bagi wilayah kepulauan, konektivitas udara memiliki arti penting bagi mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Apalagi, aktivitas ekonomi Maluku Utara berpotensi terus berkembang. Jika perekonomian tumbuh, kebutuhan transportasi ikut meningkat. Pada akhirnya, kebutuhan avtur pun berpotensi mengalami kenaikan.

Karena itu, Pertamina mulai melihat ke depan: apakah kapasitas AFT Baabullah akan cukup menghadapi pertumbuhan tersebut?

“Kita mengevaluasi apakah AFT Babullah akan mampu memenuhi kebutuhan dari peningkatan penjualan ke depannya dan apa saja opsi-opsi yang bisa dilakukan untuk pengembangan bisnis,” kata Siddik.

Dengan kata lain, Pertamina tidak ingin menunggu kebutuhan meningkat baru kemudian membangun kapasitas. Infrastruktur harus dipersiapkan lebih awal agar pertumbuhan ekonomi tidak tersendat karena persoalan pasokan energi.

BBM Harus Tetap Mengalir

Tantangan berikutnya berada di darat, yakni memastikan BBM tetap tersedia bagi masyarakat.

Siddik kemudian meninjau Fuel Terminal (FT) Ternate, fasilitas yang berperan dalam mendukung distribusi berbagai produk BBM untuk Ternate dan wilayah kepulauan di sekitarnya.

Di fasilitas ini, perhatian diarahkan pada kemampuan terminal menerima pasokan melalui jalur laut dari Wayame. Selain itu, Pertamina juga mengevaluasi kebutuhan pengembangan dan peningkatan fasilitas jetty.

“Kita mengevaluasi kemampuan Fuel Terminal Ternate untuk menerima pengiriman kargo dari Wayame untuk berbagai produk dan juga sedang mereview apa perbaikan-perbaikan dari jetty ke depannya,” ujar Siddik.

Jetty menjadi bagian penting karena sebagian besar mobilisasi pasokan energi ke wilayah kepulauan mengandalkan transportasi laut.

Di sinilah tantangan Indonesia Timur terlihat nyata.

Ketika distribusi energi di wilayah perkotaan relatif mudah mengandalkan jaringan darat, Papua dan Maluku menghadirkan persoalan berbeda. Pulau-pulau yang tersebar, jarak yang jauh, serta ketergantungan terhadap transportasi laut membuat setiap mata rantai distribusi harus diperhitungkan secara cermat.

Ketika Cuaca Ikut Menentukan Pasokan Energi

Siddik menyebut kawasan Papua dan Maluku sebagai salah satu wilayah yang paling menantang dalam menjalankan mandat distribusi energi.

“Region Papua Maluku ini salah satu region yang paling challenging untuk melakukan amanah pendistribusian energi karena terdiri dari berbagai macam pulau di bagian Indonesia Timur,” jelasnya.

Tantangan tersebut tidak berhenti pada persoalan jarak.

Transportasi laut sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Gelombang tinggi atau cuaca buruk dapat mengubah jadwal perjalanan kapal dan pada akhirnya memengaruhi rantai pasok energi.

Karena itu, Pertamina perlu terus mengevaluasi kapasitas penyimpanan, kemampuan menerima pasokan, pola distribusi, hingga kesiapan fasilitas pendukung.

Tujuannya sederhana: ketika masyarakat membutuhkan energi, pasokannya harus tersedia.

Bukan Sekadar Soal Untung-Rugi

Menjaga pasokan energi di wilayah kepulauan juga tidak bisa semata-mata menggunakan kalkulasi bisnis.

Direktur Manajemen Risiko Pertamina Patra Niaga Rahman Pramono mengatakan, Pertamina memiliki mandat untuk memastikan ketahanan energi tetap terjaga, termasuk di wilayah yang membutuhkan perlakuan dan infrastruktur khusus.

“Kita tidak bisa melihat hanya dari sisi profit saja. Kita ada tugas bagaimana menjaga ketahanan energi dari masing-masing wilayah, termasuk daerah yang memang butuh kebutuhan khusus,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan posisi strategis distribusi energi di kawasan timur Indonesia.

Di wilayah kepulauan, sebuah terminal BBM bukan hanya tempat menyimpan bahan bakar. Jetty bukan sekadar fasilitas sandar kapal. Begitu pula avtur bukan hanya komoditas yang mengisi tangki pesawat.

Semuanya merupakan bagian dari rantai konektivitas.

Ketika energi tersedia, pesawat bisa terbang, kapal bisa berlayar, logistik bergerak, masyarakat dapat beraktivitas, dan roda ekonomi terus berputar.

Karena itu, penguatan infrastruktur energi di Maluku Utara menjadi bagian dari pekerjaan yang lebih besar: memastikan jarak geografis tidak berubah menjadi jarak ekonomi.

Bagi Pertamina, menjaga energi tetap mengalir di wilayah kepulauan berarti memastikan Indonesia Timur tetap terhubung dan memiliki energi yang cukup untuk terus tumbuh.