Jakarta, ruangenergi.com- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Tahun 2016 Arcandra Tahar,pada Rabu (30/10/2024), mengatakan strategi perusahaan-perusahaan minyak asal Amerika Serikat, seperti ExxonMobil, Conocophillips,Chevron,adalah ‘kembali ke kandang’.
Kenapa? Karena potensi Shale Oil maupun Shale Gas besar di negeri Uncle Sam tersebut. Ditambah lagi dari sisi pengontrol wilayah karena di daerah sendiri lebih mudah. Kemudian, dari sisi margin lebih besar.
“Coba bayangkan, shale oil walaupun (harga) di bawah US$40-50 (per barel), dengan momentum harga tidak di bawah U$70, dia masih punya US$20. Dia (US Oil Company) beroperasi di negara-negara lain, kini konsolidasi dan balik ke negara sendiri,” kata Arcandra kepada wartawan dalam sebuah diskusi Outlook Energi 2025 dan Kemandirian Energi Indonesia digagas oleh Q Sight, Rabu (30/10/2024), di Jakarta.
Arcandra bercerita, pada tahun 1970-an, shale oil belum ada ditemukan. Strategi energy security yang digagas Amerika Serikat adalah menguasai supply.
Shale oil adalah jenis minyak bumi yang diekstraksi dari batuan serpih (shale) melalui proses pemanasan dan pemecahan (pyrolysis) dari kerogen, yaitu bahan organik yang terkandung dalam batuan. Shale oil berbeda dari minyak konvensional karena minyaknya tidak langsung tersedia dalam bentuk cair di reservoir, melainkan terjebak di dalam formasi batuan yang padat. Untuk mengeluarkannya, diperlukan metode khusus seperti hydraulic fracturing (fracking) dan horizontal drilling agar minyak bisa mengalir keluar dari batuan serpih.
“Siapa yang boleh masuk ke Arab Saudi? Saudi Aramco itu apa? Saudi Amerika Company. Maka dia masuk ke sana. Tapi dalam berjalannya waktu, berapa banyak putra-putri terbaik Arab Saudi yang sudah pintar (ilmu perminyakan) sekarang? Banyak bukan? Masih di sana enggak Amerika? Masihkan. Tapi di wilayah-wilayah (di luar Saudi) yang sudah depleted, dia kembali ke Amerika,” ungkap Arcandra.
Secara fiskal, urai Arcandra, perusahaan migas Amerika sangat mengerti. Dimana di sana menggunakan gross split. Ditambah lagi keruwetan sejumlah perizinan di Indonesia, membuat keengganan masuk Indonesia.
“Dulu oil and gas itu lex specialis. Sekarang banyak sekali aturan-aturan. Panjangnya rantai birokrasi.Tidak mendapat keistimewaan dalam melakukan eksplorasi. Hal-hal seperti itu menjadi pertimbangan mereka. Termasuk geopolitik, siapa yang memimpin dan pengambilan keputusannya itu.Jadi banyak hal.Karena dia punya duit seratus, mau ditaruh di mana? Nah bagaimana menarik investasi dengan cara apa? Salah satunya ini, bagaimana kita menawarkan fiskal yang lebih menarik. Karena kita bersaing bukan dengan sesama di sini. Kita bersaing dengan Malaysia. Bersaing dengan Oman, dan bersaing dengan Vietnam,” tutur Arcandra.