Dirjen Minerba

Pemerintah Sebut Industri Minerba Tengah Menuju Ramah Lingkungan

Jakarta, Ruangenergi.com – Indonesia memiliki tanggung jawab moral terhadap komunitas global dalam pengembangan energi bersih dengan ikut menandatangani Paris Agreement dan turut meratifikasinya.

Termasuk pada industri Mineral dan Batubara (Minerba), di mana pemerintah tengah berupaya melakukan hilirisasi untuk menuju ke arah ramah lingkungan.

Direktur Jenderal Minerba, Kementerian ESDM, Ridwan Djamaluddin, mengungkapkan bahwa, industri minerba kini tengah menuju arah yang sama, yakni berupaya untuk menjadi industri energi yang bersih dan ramah lingkungan.

“Artinya, ketika kita bicara mengenai mineral untuk energi bersih, itu adalah sebuah langkah yang sejalan dengan upaya kita untuk menghasilkan energi yang baru dari yang selama ini digunakan sebagai bahan baku energi,” jelas Ridwan.

Ia mengatakan, mineral-mineral tersebut nantinya akan digunakan dalam banyak komponen dan industri, di antaranya untuk infrastruktur, trasnportasi publik, industri baterai, serta membangun infrastruktur energi baru dan terbarukan lainnya. Maka dari itu, diperlukan eksplorasi masif di tengah tantangan geografis yang dimiliki Indonesia.

“Kita akan mendorong eksplorasi yang lebih masif untuk mendapatkan sumber-sumber bahan baku yang lebih baik, yang secara teoritik ada di Indonesia. Namun tantangan kita, sebagaimana saat kita mengekplorasi sumber-sumber mineral yang lain, dengan konfigurasi geologi di Indonesia, eksplorasi kita tidak bisa sepenuhnya meniru apa yang dilakukan oleh negara lain, sehingga kita belum melakukan pendalaman yang sesuai dengan konfigurasi Indonesia,” paparnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan, saat ini Indonesia telah memiliki jenis-jenis mineral kritis dan Logam Tanah Jarang yang berpotensi untuk dikembangkan. Telah banyak diskusi dan diskursus yang dilakukan untuk mendorong pemanfaatan mineral-mineral kritis ini.

“Hingga saat ini secara spesifik pemerintah belum memiliki rencana yang sangat khusus, termasuk regulasi pengembangan LTJ (Logam Tanah Jarang). Diskusi ini adalah untuk menyusun kerangka kerja besar itu, baik dalam konteks teknis maupun penyusunan regulasi. Sehingga niat kita untuk mengubah paradigma industri pertambangan yang dikesankan tidak ramah lingkungan, menjadi industri yang ramah lingkungan, termasuk dalam konteks menghasilkan energi bersih. Kita sudah yakin pada konsep yang sudah berkembang, namun kita perlu menyusun kerangka kerja implementasi yang lebih nyata,” tutup Ridwan.

BACA JUGA  Rencana Pemerintah Kembangkan Potensi Energi Fosil dan Energi Terbarukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *