Peringatan 100 Tahun Pemantau Gunung Api

Jakarta, Ruangenergi.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Geologi memperingati 100 tahun pemantauan Gunung Api di Indonesia. Sebab, pentingnya suatu pemantauan yang dilakukan pada gunung api guna mencegah terjadi korban jiwa.

Menteri ESDM, Arifin Tasrif, mengatakan, Indonesia merupakan daerah yang rawan terhadap bencana geologi, seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, tsunami dan gerakan tanah.

“Peringatan antisipasi kebencanaan dan kesadaran bahwa Indonesia berada didalam garis cincin api, snagat penting dilakukan. Sebab Indonesia berada di wilayah dinding tektonik yang terbentuk dari hasil pertemuan tiga lempeng aktif di dunia,” kata Arifin dalam sambutan peringati 100 tahun pemantauan Gunung Api secara virtual, (16/09).

Arifin menambahkan, dari 127 gunung api di seluruh wilayah indonesia, 75 diantaranya sangat aktif, sehingga memerlukan perhatian serius. Karena beberapa diantaranya telah erupsi dan mengakibatkan korban jiwa, seperti yang terjadi pada tahun 1919, di mana kala itu Gunung Kelud, yang berada di Jawa Timur, erupsi yang mengakibatkan korban sebanyak 5.156 jiwa.

Setahun berlalu, Indonesia langsung mendirikan Dinas Pemantauan Gunung Api guna meminalisir kejadian tersebut terulang kembali, tepatnya pada 16 September 1920.

“Disamping ancaman berita bencana geologi terdapat sisi positif yaitu menjadikan indonesia memiliki tanah yang subur dengan 128 cekungan, 329 tempat manifestasi panas bumi, 421 cekungan air tanah dan memiliki jalur metalgenik di wilayah indonesia, banyak memiliki sumber daya mineral dan energi yang tentunya harus dikelola secara bijak dan berkeadilan,” papar Arifin.

“Sebagaimana diketahui, dalam pembukaan UUD 1945, yang mengamanatkan, bahwa Negara berkewajiban melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga sudah selayaknya Negara harus memberikan rasa aman dan bersama masyarakat turut berperan aktif dalam penanggulangan bencana termasuk bencana geologi,” sambungnya.

Untuk itu, lanjut Arifin, Pemerintah melakukan mitigasi bencana seperti penyelidikan, penelitian, pemetaan potensi bahaya dan pemantauan untuk memberikan peringatan dini terhadap bencana. Sehingga semua pihak dapat melakukan kesiapsiagaan guna mengurangi dampak yang akan ditimbulkan.

Selain itu, Kementerian ESDM juga berperan aktif dalam pengurangan risiko bencana sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawabnya melalui Badan Geologi.

Badan geologi ESDM Eko Budi Lelono

Sementara, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Eko Budi Lelono, menjelaskan, Pemerintah turut berupaya dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas kecepatan pelayanan mitigasi bencana, terkait adanya erupsi gunung berapi, gempa bumi, tsunami dan gerakan tanah.

Bila melihat salah satu contoh di masa lalu yang melakukan upaya penananganan bencana erupsi gunung api melalui pemantauan.

BACA JUGA  Sekjen ESDM : Tunggu Sesuai Mekanisme

Menurutnya, upaya pemantauan gunung api di Indonesia telah melewati proses yang cukup panjang. Seiring wakt dimulainya pemantauan gunung api di Indonesia atas kejadian adanya erupsi secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan korban jiwa.

“Oleh karena itu, pemantauan gunung api merupakan salah satu pilar mitigasi bencana erupsi gunung api yang penting sebagai upaya terhadap masyarakat melalui peringatan dini,” tutur Eko.

Dengan dibentuknya Dinas Penjagaan Gunung Api pada 16 September 1920, lembaga tersebut sekaligus menjadi lembaga yang pertama di Indonesia dalam melakukan pemantauan Gunung api.

“Pada periode 1920-1941, sudah 8 gunung api dipantau tingkat aktivitasnya. hingga saat ini, Badan Geologi Kementerian ESDM telah membangun sebanyak 74 pos Pengamatan Gunung Api (PGA), di 69 gunung api aktif yang ada di Indonesia,” imbuhnya.

Pada 2020 ini, kata Eko, kegiatan pos PGA di Idonesia memasuki usia yang ke-100 tahun. Suatu jangka waktu yang cukup lama untuk pengembangan suatu sistem pemantauan gunung api.

Dalam penjagaan gunung api yang dimulai tahun 1920 hingga saat ini telah terjadi beberapa kali perubahan nama institusi, akan tetapi, visi dan misi tetap sama yakni menjadi institusi yang utama dan terpercaya dibidang mitigasi, bencana letusan gunung api, gerakan tanah, gempa bumi dan tsunami. Guna menyelamatkan jiwa dan harta benda, serta memberikan rasa aman kepada masyarakat.

“Hingga saat ini institusi pemantauan gunung api terus melakukan penyempurnaan terhadap sistem pemantauan serta daya dukung sarana dan prasarana yang mengacu pada standar pemantauan gunung api dunia,” jelas Eko.

Seiring dengan teknologi pemantauan yang semakin maju saat ini kegiatan pemantauan gunung api dapat dilakukan dalam jarak yang cukup aman dari sumber gunung api, nyaman serta responsif dalam mendukung mitigasi bencana gunung api.

“Peringatan 100 tahun pemantauan gunung api menjadi moment yang tepat bagi badan geologi untuk memperkenalkan gunung api Indonesia, mensosialisasikan pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi, berbagi pengalaman dan teknologi terhadap kegunung apian, serta memberikan apresiasi kepada pihak yang terlibat dalam pengamatan gunung api,” bebernya.

Sebgai informasi, Badan Geologi telah melaksanakan sejumlah kegiatan dalam menyambut 100 tahun pemantauan gunung api. Namun pada peringatan tersebut karena situasi yang sedang pandemi Covid-19, sehingga diberlaukan interaksi antar manusia dalam jumlah terbatas serta melakukan penerapan protokol kesehatan yang tepat, guna meminalisir penyebaran Covid-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *