PHM blok Mahakam

PHM Jalani Proses Permohonan Final Investment Decision ke Pertamina

Jakarta, Ruangenergi.com – General Manager PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), Agus Amperianto, mengungkapkan bahwa Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) diakhir tahun 2020 telah memberikan persetujuan Operasi Pengembangan Lapangan Lapangan (OPLL) Mahakam.

“Benar di akhir tahun 2020 lalu SKK Migas telah memberikan persetujuan OPLL 2A,” jelas Agus kepada Ruangenergi.com, (25/01).

Selain itu, lanjutnya, PHM tengah menjalani Final Investment Decision (FID) dan menyelesaikan perijinan di PT Pertamina (Persero).

“Pada saat ini kami sedang menjalankan proses FID di Pertamina, serta menyelesaikan perijinan, dan memulai prosedur lelang untuk pengadaan barang dan jasa yang diperlukan untuk pelaksanaan proyek tersebut,” ungkap Agus.

Ia meminta dukungan dari semua pihak agar proyek tersebut dapat dilakukan pemboran di smester I 2020.

“Dengan dukungan semua pihak, diharapkan sumur pertama OPLL 2A dapat dibor sebelum akhir semester 1 tahun 2021,” tandasnya.

Sebelumnya, PHM telah meluncurkan Proyek Locomotive-8 untuk menjaga level produksi minyak dan gas bumi dari Wilayah Kerja Mahakam, Kalimantan Timur, yang  tengah menunjukkan penurunan alamiah (natural decline) karena lapangan yang sudah mature.

BACA JUGA  Penyelesaian Pelaksanaan Program Digitalisasi SPBU

Hal tersebut dilakukan guna meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi.

“Proyek Locomotive-8 adalah program terintegrasi dalam mengoptimalkan biaya, yaitu low operation cost pada semua aktivitas berbasis inovasi dan sinergi agar dapat meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi,” kata Agus.

Ia menjelaskan, PHM yang juga anak usaha PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), beroperasi di lapangan migas mature dengan daerah operasi yang sangat luas dan kompleks, baik di daerah swamp dan offshore.

Untuk itu, PHM telah mengalokasikan belanja modal atau Capital Expenditures (Capex) tahun ini sebesar US$ 269 juta, naik dibandingkan realisasi capex 2020 yang tercatat US$171 juta. Sedangkan belanja operasi atau Operating Expenditures (Opex) sebesar US$ 884 juta, naik dibandingkan realisasi 2020  sebesar US$ 738 juta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *