Ilustrasi PLTS

Rencana Gubernur NTT Jadikan Pulau Sumba Sebagai Pusat PLTS di Indonesia

Jakarta, Ruangenergi.comKomisi VII DPR menggandeng Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI), untuk merealisasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pulau Sumba menjadi pusat PLTS di Indonesia.

Tidak tanggung-tanggung, PLTS yang akan dibangun di Pulau Sumba berkapasitas 20.000 Megawatt (MW). Tentunya dengan kapasitas tersebut Pulau Sumba menjadi Provinsi dengan penghasil energi bersih terbesar yang ada di Indonesia.

Sebagai gambaran, PJCI merupakan asosiasi yang berpengalaman dalam bidang energi terbarukan dan jaringan cerdas.

Ketua Komisi VII DPR, Sugeng Suparwoto, mengatakan, Pulau Jawa dan Bali sebagai pusat beban di Indonesia nantinya akan tersambung dengan kabel bawah laut yang akan menghubungkan PLTS sebagai pusat pembangkitan yang di Provinsi NTT (Nusa Tenggara Timur).

“Kita semua bersyukur dan bahkan terperangah karena NTT ternyata adalah masa depan Indonesia, bahkan masa depan dunia. Sesuai hasil riset, sinar matahari terbaik di Indonesia itu ada di dua pulau yaitu Sumba dan Timor,” jelas Sugeng usai audiens dengan Gubernur NTT, (29/09).

Ia menambahkan, di tengah kondisi pandemi Covid-19 saat ini satu-satunya pintu untuk bangkitnya ekonomi adalah melalui investasi di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT).

Menurut Sugeng, potensi energi panas Surya yang bisa dihasilkan dari Pulau Sumba dan Timor sebesar 60 GigaWatt (GW). Sementara hari ini di Indonesia secara keseluruhan sekitar 62 GW.

“Potensi energi surya di Sumba dan Timor bisa mencapai 60.000 MW. Ini sebuah potensi yang besar,” kata Sugeng.

Lebih jauh, imbuh Sugeng, Komisi VII melihat potensi ini dan terus memberikan dukungan penuh terhadap rencana besar pembangunan pusat sumber pembangkit energi surya di Sumba.

Karena energi surya dari Sumba untuk bakal memasok kebutuhan energi hingga ke Pulau Jawa dan telah melalui tahapan riset.

BACA JUGA  Pemerintah Akan Terbitkan Aturan Baru Tarif Listrik EBT

Ia berencana dalam waktu dekat akan mengajak Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, untuk bertemu dengan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), meningkatkan bauran EBT di Tanah Air. Sebagaimana diketahui, Pemerintah memiliki target bauran EBT sebesar 23% di tahun 2025.

“Saat HLN (Hari Kelistrikan Nasional), 27 Oktober 2020, saya dan Gubernur NTT akan menghadap Presiden (Jokowi) untuk memaparkan rencana ini untuk dijadikan sebagai sebuah keputusan nasional. Kami akan segera merumuskan skema-skema implementatifnya,” ungkap Sugeng.

PLTS

Sementara, Ketua Pembina PJCI, Eddie Widiono, mengungkapkan, pihaknya menyambut baik rencana Gubernur NTT untuk menjadikan Provinsi NTT sebagai pusat pembangkitan energi surya, khususnya Pulau Sumba.

Ia menambahkan, secara internal PJCI telah mendeklarasikan inisiatif ini dengan nama “Sumba Untuk Indonesia“.

“Untuk Pulau Sumba (Provinsi NTT umumnya), PLTS mampu beroperasi sepanjang 5 hingga 6 jam sehari. Sebagai perbandingan, di DKI Jakarta operasional optimal PLTS sehari berkisar antara 3-4 jam. Dampaknya baik secara ketenagalistrikan, ekonomi, maupun pengembangan industri terkait, akan sangat besar apabila inisiatif ini dijalankan dengan baik,” jelas Eddie Widiono yang juga mantan Dirut PT PLN (Persero).

Secara bersamaan, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, mengatakan, energi surya dari Sumba untuk memasok kebutuhan energi hingga ke Pulau Jawa, telah melalui tahapan riset.

“Ini proyek yang sangat monumental dan membanggakan bagi Indonesia dan NTT baik dari aspek ekonomi, sosial, politik dan budaya akan bertumbuh dengan baik,” katanya.

Pihaknya telah menyiapkan lahan untuk menjadi Pulau Sumba sebagai pusat Pembangkitan Energi Surya.

“Lahan yang dibutuhkan untuk membangun investasi kelistrikan itu telah disiapkan di Kabupaten Sumba Tengah,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *