Resmi! Pembangunan FPSO Raksasa BHL Dimulai, Siap Produksi 1.000 MMSCFD pada 2028

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Karimun, Kepri, ruangenergi.com-Industri hulu migas Indonesia kembali mencatat tonggak sejarah. Pembangunan Floating Production Storage and Offloading (FPSO) terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara resmi dimulai melalui seremoni first steel cut di galangan Karimun, Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026).

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melaporkan bahwa seremoni tersebut digelar bersama Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM mewakili Menteri ESDM. Acara dihadiri jajaran pimpinan Grup Searah, ENI, Petronas, Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Bupati Karimun, unsur Forkopimda, serta para pemangku kepentingan industri migas.

“Alhamdulillah kami bersama Pak Dirjen Migas telah menyelesaikan seremoni pemotongan baja pertama untuk pembangunan FPSO terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, sekaligus masuk kelompok FPSO terbesar di dunia,” ujar Djoko dalam laporannya.

FPSO bernama BHL itu akan menjadi jantung produksi proyek North Hub & Gehem, salah satu proyek laut dalam (deepwater) paling strategis di Indonesia. Kapal produksi raksasa tersebut memiliki panjang 300 meter, lebar 45 meter, dengan kapasitas penyimpanan mencapai 1,4 juta barel.

Pembangunan FPSO dilakukan melalui kolaborasi lintas negara. Struktur lambung (hull) dikerjakan di China, sementara pekerjaan topside dikerjakan di galangan Karimun, Batam, dan Bintan, sehingga memberikan nilai tambah bagi industri manufaktur dan galangan kapal nasional.

Nilai investasi pembangunan FPSO mencapai sekitar US$2,9 miliar, sedangkan total investasi proyek North Hub & Gehem diperkirakan mendekati US$15 miliar, menjadikannya salah satu investasi migas terbesar yang tengah berjalan di Indonesia.

Saat mulai beroperasi pada 2028, proyek ini ditargetkan mampu memproduksi gas hingga 1.000 MMSCFD yang akan disalurkan melalui jaringan pipa maupun fasilitas LNG. Sebanyak 72 persen produksinya, termasuk cadangan sebesar 8 persen, dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan domestik, sementara 28 persen sisanya ditujukan untuk pasar ekspor.

Selain gas, proyek ini juga diproyeksikan menghasilkan 80.000 barel kondensat per hari (BOPD) dari 16 sumur pengembangan yang dibor pada kedalaman laut sekitar 2.000 meter dengan kedalaman sumur mencapai 3.000 meter, mencerminkan kompleksitas teknologi eksplorasi laut dalam yang digunakan.

Tak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, proyek ini juga memberikan dampak ekonomi yang besar. Sebanyak 8.000 tenaga kerja akan dilibatkan, dengan 98 persen merupakan tenaga kerja lokal dan hanya 2 persen tenaga kerja asing. Di sisi fiskal, proyek ini diperkirakan mampu memberikan penerimaan negara sekitar US$12,9 miliar selama masa pengembangannya.

Djoko berharap seluruh tahapan pembangunan dapat berjalan sesuai target dengan mengedepankan keselamatan kerja.

“Mohon doa agar pekerjaan berjalan lancar dengan semangat OTOBOS (On Time, On Budget, On Schedule), aman, lancar tanpa kecelakaan,” tuturnya.

Proyek ini dikembangkan oleh konsorsium yang dipimpin Searah dengan porsi kepemilikan 80 persen bersama Sinopec China sebesar 20 persen, serta melibatkan ENI dan Petronas sebagai mitra strategis.

Dengan dimulainya pembangunan FPSO BHL, Indonesia kembali menunjukkan keseriusannya mengembangkan potensi migas laut dalam sebagai tulang punggung peningkatan produksi nasional. Proyek raksasa ini diharapkan menjadi salah satu pengungkit utama target peningkatan lifting migas sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting industri energi di kawasan Asia Pasifik.