Saat Negara Tetangga Collapse, Indonesia Tetap Jalan! Ini Jurus Laode Jaga Ketahanan Energi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Pemerintah terus memperkuat fondasi ketahanan energi nasional di tengah tekanan geopolitik global dan fluktuasi harga energi dunia. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa strategi utama pemerintah saat ini bukan hanya menjaga pasokan, tetapi juga mengendalikan konsumsi agar lebih bijak dan tepat sasaran.

Menurut Laode, langkah pertama yang dilakukan pemerintah adalah memperketat manajemen konsumsi energi, khususnya untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Upaya ini dilakukan melalui sosialisasi penghematan energi kepada masyarakat dan sektor industri agar penggunaan energi lebih efisien.

“Langkah-langkah kita itu pertama adalah di sisi supply. Kita melakukan proses manajemen dari sisi konsumsi. Saat konflik global terjadi, kita mensosialisasikan penghematan baik untuk BBM maupun LPG. Hal ini penting agar pasokan energi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dan sektor-sektor prioritas,” ujar Laode, dikutip dari website MIGAS.

Ia menilai, indikator ketahanan energi Indonesia terlihat jelas saat pecahnya konflik global pada awal 2026. Di saat sejumlah negara Asia Tenggara mengalami tekanan ekonomi berat hingga menetapkan status darurat akibat lonjakan harga energi, Indonesia dinilai tetap mampu menjaga stabilitas.

“Indikator paling gampang itu sebenarnya di awal terjadinya perang. Kalau kita lihat minggu pertama, banyak negara Asia Tenggara collapse. Bahkan ada yang menunjukkan keadaan darurat. Alhamdulillah kita masih maju. Artinya BBM masih tersedia cukup untuk menggerakkan roda ekonomi kita,” katanya.

Tak hanya mengandalkan penghematan, pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah dan LPG guna meminimalkan risiko gangguan rantai pasok global, terutama dari kawasan rawan seperti Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Laode menjelaskan, pemerintah kini memperluas sumber pengadaan energi dari berbagai kawasan alternatif seperti Amerika, Afrika, Asia hingga negara-negara ASEAN. Strategi ini diperkuat melalui pendekatan diplomasi energi antarnegara.

“Saat ini pengadaan energi diarahkan dari berbagai kawasan alternatif. LPG kita perbesar dari Amerika, ada juga dari Afrika dan negara-negara lain. Komitmen bantuan pasokan ini diperkuat lewat diplomasi antar kepala negara,” jelasnya.

Namun demikian, Laode menegaskan bahwa kekuatan utama Indonesia tetap berada pada kapasitas produksi domestik. Saat ini Indonesia masih memiliki produksi minyak sekitar 600 ribu barel per hari, ditambah potensi bioenergi yang dapat memperkuat bauran energi nasional, khususnya untuk campuran solar.

Untuk mengejar selisih besar antara konsumsi domestik dan produksi nasional, pemerintah juga mempercepat program peningkatan lifting migas di lapangan-lapangan eksisting. Berbagai teknologi non-konvensional seperti fracking, Enhanced Oil Recovery (Enhanced Oil Recovery), serta horizontal drilling kini didorong lebih agresif untuk mengoptimalkan cadangan hidrokarbon yang masih tersisa.

Langkah-langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam memastikan Indonesia tetap tangguh menghadapi gejolak energi global, sekaligus menjaga keberlangsungan roda ekonomi nasional di tengah ketidakpastian dunia.