TAKJIL MIND ID Bongkar Data Hilirisasi, Ungkap Besarnya Kontribusi Tambang untuk Ekonomi Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com- Industri pertambangan tidak lagi cukup hanya mengandalkan melimpahnya cadangan sumber daya alam. Di tengah tuntutan pembangunan berkelanjutan, sektor ini dituntut mampu menghadirkan nilai tambah yang nyata, inklusif, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Berangkat dari semangat tersebut, Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) mendukung penyelenggaraan program Takaran Jilid Sektor Strategis (TAKJIL), sebuah forum bedah data yang dirancang untuk mengupas angka, asumsi, hingga rasionalisasi di balik berbagai kebijakan strategis sektor mineral dan batu bara.

Melalui forum ini, publik diajak memahami bukan hanya hasil kebijakan, tetapi juga logika dan tujuan yang melatarbelakanginya.

“TAKJIL adalah ruang terbuka. Kami mengajak semua pihak untuk memahami, bukan sekadar menerima, setiap kebijakan yang kami ambil,” ujar Division Head Institutional Relations MIND ID, Selly Adriatika.

Menurut Selly, transparansi berbasis data menjadi fondasi penting dalam membangun dialog konstruktif antara pemerintah, industri, investor, akademisi, hingga masyarakat.

“Kami selalu mendukung narasi konstruktif yang berlandaskan data sehingga kita bisa melangkah bersama menuju masa depan yang lebih maju,” katanya.

Diskusi dalam TAKJIL berangkat dari pertanyaan mendasar: seberapa besar kontribusi nyata sektor mineral dan batu bara terhadap perekonomian nasional, serta kebijakan apa yang perlu ditempuh untuk menjaga bahkan meningkatkan manfaat tersebut.

Data menunjukkan sektor ini masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia. Berdasarkan paparan Kementerian ESDM yang mengacu pada data BPS, kontribusi subsektor pertambangan dan penggalian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2023 mencapai sekitar Rp2.198 triliun atau setara 10,5 persen dari total PDB nasional.

Angka tersebut menempatkan sektor pertambangan sebagai salah satu penggerak utama ekonomi nasional di luar sektor manufaktur dan jasa.

Namun demikian, kontribusi sektor pertambangan dan penggalian pada 2024 tercatat sebesar 8,75 persen. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal penting perlunya rekalibrasi kebijakan berbasis data agar sektor strategis ini tetap mampu memberikan dampak optimal bagi pertumbuhan ekonomi.

Kontribusi sektor minerba juga tercermin dari penerimaan negara. Kementerian ESDM mencatat realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2024 mencapai Rp138,37 triliun. Capaian tersebut melampaui target, didorong terutama oleh sektor Sumber Daya Alam Mineral dan Batubara yang berhasil mencapai 104,38 persen dari target yang ditetapkan.

Dalam konteks kontribusi kepada negara, MIND ID juga menunjukkan kinerja yang terus meningkat. Untuk tahun buku 2024, perusahaan menyetujui pembagian dividen sebesar Rp20,1 triliun kepada negara.

Nilai tersebut meningkat dibandingkan dividen tahun buku 2023 yang mencapai Rp17,14 triliun. Kenaikan itu mempertegas posisi MIND ID sebagai salah satu kontributor dividen terbesar di antara BUMN strategis nasional.

Bagi MIND ID, capaian finansial tersebut bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa pengelolaan sumber daya alam dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata bagi negara dan masyarakat.

Salah satu topik utama yang dibedah dalam forum TAKJIL adalah keberhasilan kebijakan hilirisasi mineral yang dalam beberapa tahun terakhir mengubah wajah industri pertambangan Indonesia.

Larangan ekspor bijih nikel sejak 2020 menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan mampu menggeser posisi Indonesia dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pemain penting dalam rantai nilai global.

Sebelum kebijakan tersebut diterapkan, sebagian besar nilai tambah dari cadangan nikel Indonesia justru dinikmati negara lain melalui proses pengolahan di luar negeri. Padahal Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yang diperkirakan mencapai sekitar 55 juta ton.

Setelah hilirisasi berjalan, investasi smelter tumbuh pesat, kapasitas pengolahan meningkat, dan produksi nikel nasional melonjak signifikan. Indonesia kini menguasai sekitar 59,5 persen produksi nikel global dan diproyeksikan akan semakin dominan dalam beberapa tahun mendatang.

Lebih jauh lagi, hilirisasi membuka jalan bagi pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV battery) yang kini mulai berkembang di Karawang dan sejumlah kawasan industri lainnya.

Menata Masa Depan Pertambangan

Melalui forum TAKJIL, MIND ID ingin memastikan bahwa perumusan kebijakan sektor pertambangan tidak berhenti pada pencapaian angka-angka ekonomi semata. Yang tak kalah penting adalah bagaimana kebijakan tersebut mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri, penerimaan negara, pembangunan daerah, dan keberlanjutan lingkungan.

Dengan pendekatan berbasis data dan dialog yang terbuka, MIND ID berharap seluruh pemangku kepentingan dapat bersama-sama membangun ekosistem pertambangan yang lebih kuat, kompetitif, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan mengelola kekayaan mineral Indonesia bukan hanya soal menggali sumber daya dari dalam bumi, melainkan bagaimana mengubahnya menjadi nilai tambah yang mampu mengantarkan Indonesia menuju visi besar Indonesia Emas 2045.