Taruhan Besar di Perut Bumi Demak: Pengeboran Bisa Saja ‘Zonk’, Kontraktor Tanggung Semua Risiko

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp
Demak, Jateng, ruangenergi.com-Eksplorasi minyak dan gas (migas) bukanlah bisnis instan yang pasti untung. Di balik deru mesin dan megahnya menara bor, ada pertaruhan finansial berskala raksasa. Fakta inilah yang secara blak-blakan ditekankan oleh Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Anggono Mahendrawan, terkait rencana pengeboran sumur pengembangan RBG-7 di Desa Pilangwetan, Kabupaten Demak.
Anggono mengingatkan semua pihak bahwa setiap aktivitas pengeboran selalu dibayangi risiko tinggi. Meski data geologis di Cekungan Jawa Timur Utara menunjukkan potensi yang menggiurkan, hasil nyata dari sumur RBG-7 belum tentu sejalan dengan ekspektasi di atas kertas. Terkadang, perut bumi menyimpan teka-tekinya sendiri.
Lalu, siapa yang menanggung kerugian jika bor sudah menembus bumi namun cadangan migas yang dicari tak kunjung memancar alias zonk?
“Jika pengeboran tidak berhasil, risiko tersebut murni menjadi tanggung jawab TIS sebagai mitra SKK Migas,” tegas Anggono.
Pernyataan ini menggarisbawahi sistem kerja sama hulu migas di Indonesia, di mana negara tidak mengeluarkan modal di awal. Seluruh risiko finansial dan operasional jika terjadi kegagalan eksplorasi dipikul sepenuhnya oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS)—dalam hal ini adalah TIS Petroleum E&P Blora Pte. Ltd.
Mengingat tingginya pertaruhan teknis dan finansial yang dihadapi kontraktor, Anggono menyebut bahwa meminimalkan risiko non-teknis adalah sebuah keharusan. Karena itulah, ia sangat mewanti-wanti pentingnya iklim investasi yang kondusif di lapangan. Dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Demak serta keramahan sosial dari masyarakat setempat menjadi kunci utama agar operasi ini berjalan mulus tanpa hambatan berarti.
“Kita sangat butuh dukungan dari pemda dan masyarakat demi mewujudkan ketahanan energi dan pangan,” tambah Anggono.
Dengan risiko finansial yang sudah diambil alih oleh kontraktor, proyek sumur RBG-7 kini menjadi upaya kolektif. Pemkab Demak dan warga Desa Pilangwetan diharapkan menjadi benteng pendukung di ring satu, memastikan tahapan awal seperti mobilisasi alat berat dan pembangunan jalan akses bisa berjalan lancar. Sebab, jika perjudian di perut bumi Demak ini membuahkan hasil, bukan hanya ketahanan energi nasional yang terjaga, tetapi denyut ekonomi di sekitar lokasi pengeboran pun dipastikan ikut terangkat.

Setelah sempat “tidur” lebih dari satu tahun akibat perubahan titik koordinat, rencana pengeboran sumur pengembangan minyak dan gas (migas) RBG-7 di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Demak, akhirnya mulai menampakkan titik terang. Proyek strategis ini kini bersiap menyambut deru alat berat melalui tahap pembangunan jalan akses menuju lokasi.

Angin segar bagi ketahanan energi nasional ini dipastikan dalam pertemuan antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak, SKK Migas, dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) TIS Petroleum E&P Blora Pte. Ltd. di Ruang Gradika Bina Praja, Demak, pada Kamis (8/10/2026).

Bupati Demak, Eisti’anah, menyambut antusias kepastian proyek tersebut. Ia mengakui bahwa persiapan pengeboran ini memakan waktu yang cukup panjang, terutama karena adanya dinamika penentuan titik koordinat lokasi.

“Kami menyambut baik upaya bersama SKK Migas dan TIS yang akan mengadakan pengeboran di wilayah kami. Terutama ini dilakukan untuk ketahanan energi. Doa kita bersama semoga diberi kelancaran,” ujar Eisti’anah, yang juga sangat mengapresiasi rencana pelibatan tenaga lokal dalam proyek ini.

Di garis depan operasional, General Manager TIS Energy, Heri Suryanto, menegaskan komitmen perusahaannya untuk mengeksekusi proyek di wilayah kerja yang membentang dari Demak, Grobogan, hingga Blora tersebut. Langkah pertama yang segera digenjot adalah penyiapan akses jalan, urat nadi utama untuk mobilisasi alat-alat berat ke titik pengeboran.

“Kami memahami ada beberapa aspek yang harus disiapkan dengan saksama. Kami terus mengharapkan arahan dari Ibu Bupati agar proyek sumur migas ini berjalan lancar di Demak,” tutur Heri.

Bagi warga Desa Pilangwetan, masuknya industri hulu migas ke kampung halaman mereka disambut dengan tangan terbuka, namun bukan tanpa catatan. Masyarakat berharap kekayaan alam yang disedot dari tanah mereka bisa membawa “cuan” sosial yang nyata. Harapan warga terangkum dalam tiga hal utama: rekrutmen tenaga kerja lokal, perbaikan jalan desa yang akan sering dilalui kendaraan berat, serta program pemberdayaan masyarakat.

Menjawab ekspektasi tersebut, SKK Migas memastikan adanya skema Program Pengembangan Masyarakat (PPM). Meski skemanya sedikit berbeda dari konsep Corporate Social Responsibility (CSR) pada umumnya, PPM dirancang khusus untuk memastikan denyut ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di sekitar ring satu kegiatan hulu migas ikut terangkat.

Secara geologis, Kabupaten Demak memang berada di atas Cekungan Jawa Timur Utara, menjadikannya salah satu kawasan potensial untuk pengembangan migas. Dengan titik pengeboran yang kini sudah dikunci dan jalan akses yang mulai dibangun, Demak bersiap menuliskan babak baru: menjadi lumbung energi yang tak hanya mengamankan pasokan nasional, tetapi juga membawa berkah bagi warganya sendiri.