MotoGP Mandalika Dongkrak Bisnis Homestay, Kamar Rp600 Ribu Laku hingga Rp2 Juta per Malam

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Lombok Tengah, NTB, ruangenergi.com– Gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit tak hanya menyuguhkan adu kecepatan para pebalap dunia. Ajang balap motor internasional ini juga menjadi berkah ekonomi bagi masyarakat lokal, khususnya pelaku usaha homestay di Desa Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Lonjakan wisatawan menjelang balapan yang berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 membuat permintaan kamar penginapan meningkat tajam. Sejumlah pemilik homestay bahkan merasakan kenaikan tarif kamar hingga beberapa kali lipat dibandingkan harga normal.

Bagi masyarakat Kuta dan sekitarnya, momentum ini bukan sekadar kesempatan meraup pendapatan lebih besar. Kehadiran MotoGP juga menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat profesionalisme pengelolaan penginapan, sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi warga setempat.

Pertamina turut mengambil peran dalam mendorong manfaat ekonomi tersebut agar tidak hanya dinikmati selama perhelatan balapan berlangsung.

Bani, pemilik Mong Bungalows, mengungkapkan peningkatan okupansi homestay mulai terasa dalam sepekan terakhir. Kondisi ini menarik perhatian karena Oktober biasanya menjadi periode ketika tren pariwisata mulai menurun.

Namun, gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia mengubah situasi tersebut. Permintaan kamar di kawasan Kuta dan sekitarnya meningkat signifikan seiring kedatangan wisatawan yang ingin menyaksikan langsung balapan di Mandalika.

“Dengan adanya Pertamina Grand Prix of Indonesia ini, karena demand yang begitu banyak, jadi kita menaikkan sedikit harga dari harga pada umumnya. Dalam satu minggu terakhir ini peningkatan jumlah okupansi pada homestay sangat tinggi untuk seluruh wilayah Kuta dan sekitarnya,” ujar Bani.

Dalam kondisi normal, tarif kamar di Mong Bungalows berkisar Rp350.000 hingga Rp500.000 per malam, bergantung pada musim. Tingginya permintaan selama periode MotoGP membuat pengelola melakukan penyesuaian harga.

Dampak yang lebih besar juga dirasakan Mango Room Mandalika. Reddy Mardani atau Dani, perwakilan penginapan tersebut, mengatakan tarif kamar yang biasanya sekitar Rp600.000 per malam meningkat hingga Rp2 juta selama penyelenggaraan balapan. Seluruh kamar yang ditawarkan dengan tarif tersebut pun terjual.

“Walaupun event-nya hanya tiga hari, kami bisa menjualnya mungkin tiga kali lipat. Kami menjual dengan harga Rp2 juta per malam dan itu laku semua,” kata Dani.

Kenaikan tarif tersebut menunjukkan besarnya permintaan akomodasi saat event internasional berlangsung. Bagi pengelola homestay, momentum ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkuat usaha di tengah persaingan industri pariwisata.

Tak berhenti pada dampak ekonomi sesaat, Pertamina berupaya membantu pelaku homestay meningkatkan kemampuan agar mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada wisatawan.

Bersama Universitas Mataram (Unram), Pertamina memberikan pelatihan hospitality, manajemen homestay, hingga kemampuan berbahasa Inggris bagi para pengelola dan pekerja penginapan.

Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas manfaat penyelenggaraan sport tourism bagi masyarakat sekitar Mandalika.

Desa Kuta menjadi perhatian karena lokasinya berdekatan dengan Pertamina Mandalika International Circuit. Masyarakat yang tinggal di kawasan Ring 1 diharapkan dapat terlibat aktif dalam mendukung kegiatan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

“Kita melihat ada beberapa kegiatan. Yang pertama adalah kita membantu memberdayakan masyarakat untuk bisa mengelola sampah. Kemudian yang kedua adalah bagaimana masyarakat di sini bisa membantu melayani wisatawan dengan baik,” ujar Arya.

Menurut dia, kemampuan mengelola penginapan secara profesional menjadi modal penting bagi masyarakat untuk menangkap peluang pariwisata, termasuk ketika tidak ada agenda balapan internasional.

Bani mengapresiasi pelatihan tersebut karena memberikan keterampilan yang dibutuhkan untuk meningkatkan mutu layanan dan tata kelola usaha. Terlebih, tidak semua pemilik homestay memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang pariwisata.

“Dengan adanya program ini, kami sebagai owner memiliki keahlian yang tersertifikasi dan juga bisa meningkatkan mutu dari homestay kami, baik pelayanan maupun tata kelola homestay yang lebih profesional,” katanya.

Peningkatan kompetensi tersebut diharapkan membantu pengelola membangun kepercayaan wisatawan, memperbaiki standar pelayanan, dan menjaga keberlanjutan usaha.

Selain mengembangkan kemampuan pelaku pariwisata, Pertamina juga mendorong pengelolaan lingkungan melalui program bank sampah di Desa Kuta.

Sampah anorganik diolah menjadi produk bernilai tambah, seperti kerajinan dan tas. Sementara itu, sampah organik dimanfaatkan menjadi pupuk.

Pertamina turut mendukung kegiatan pengumpulan sampah dengan menyediakan sepeda motor listrik. Kendaraan tersebut memperoleh pasokan energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp yang dipasang di Balai Desa Kuta, serta rumah baterai berkapasitas 20 kWh sebagai sumber pengisian daya.

Program ini merupakan bagian dari Desa Energi Berdikari Pertamina yang mengintegrasikan edukasi energi, pemanfaatan energi bersih, pengelolaan lingkungan, dan pengembangan aktivitas ekonomi masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, upaya meningkatkan daya tarik pariwisata Mandalika juga diiringi dorongan untuk membangun lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Bagi Arya, manfaat penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia seharusnya tidak berakhir ketika bendera finis dikibarkan.

Mandalika memiliki peluang untuk terus menarik wisatawan di luar kalender balap. Karena itu, peningkatan kemampuan pengelola homestay menjadi penting agar masyarakat mampu melayani pengunjung sepanjang tahun.

“Event tahunan ini tidak setiap hari, tapi turis yang datang ke sini kan setiap hari. Artinya mereka juga bisa mengelola itu menjadi hal yang menarik. Nah, ini yang tentunya kita latih dan kita edukasi sekarang,” tuturnya.

Pandangan serupa disampaikan Dani. Menurut dia, perkembangan kawasan Mandalika sejak penyelenggaraan MotoGP pada 2021 telah membuka peluang usaha dan pekerjaan bagi masyarakat lokal, termasuk di sektor akomodasi.

Dampaknya tidak hanya dirasakan pemilik penginapan, tetapi juga pekerja lokal, pelaku kuliner, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta masyarakat yang menyediakan berbagai jasa bagi wisatawan.

“Semua pekerja kami pekerja lokal. Dengan adanya banyak akomodasi yang tercipta di Kuta Mandalika ini, kami berterima kasih karena sudah menyediakan wadah untuk kami bekerja. Semoga gelaran balapan ini bisa terus ada setiap tahunnya agar kita juga mendapat dampak ekonomi yang baik,” kata Dani.

Lonjakan permintaan kamar selama MotoGP 2026 memperlihatkan bagaimana sebuah ajang olahraga internasional dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar sirkuit.

Tantangan berikutnya adalah memastikan peluang tersebut berkembang menjadi usaha yang lebih profesional, menciptakan lapangan kerja berkelanjutan, dan membuat Mandalika tetap menarik bagi wisatawan bahkan ketika mesin-mesin balap tak lagi meraung di lintasan.