Jakarta, ruangenergi.com – Suasana ruangan itu sederhana—dinding bercat putih dengan kipas angin yang berputar pelan di sudut-sudutnya. Namun siang itu, Sabtu, 25 April 2026 lalu, kehangatan terasa jauh melampaui batas ruang.
Tawa anak-anak pecah bersahutan, bercampur nyanyian pujian yang menggema, saat puluhan mahasiswa dari Persekutuan Mahasiswa Kristen Institut Teknologi PLN (PMK ITPLN) berkumpul di Panti Asuhan Kasih Anugerah, Kalideres, Jakarta Barat.
Di tengah ruangan, sebuah spanduk bertuliskan “Paskah PMK ITPLN – Anastasias” terbentang. Anak-anak duduk bersila di lantai, sebagian menggenggam botol minum, sebagian lain memegang kotak bingkisan. Wajah mereka memancarkan rasa ingin tahu—dan kebahagiaan yang tulus.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda rutin. Bagi PMK ITPLN, Paskah adalah momentum untuk menerjemahkan makna kebangkitan Kristus ke dalam tindakan nyata.
Acara dimulai dengan ibadah singkat. Lagu pujian dinyanyikan bersama, diiringi tepuk tangan ritmis. Beberapa anak terlihat malu-malu, namun perlahan ikut bersuara. Dalam suasana yang cair dan hangat, pesan tentang harapan dan kehidupan baru disampaikan dengan sederhana—namun mengena.
Selepas ibadah, suasana berubah menjadi lebih riuh. Permainan dimulai. Tawa anak-anak pecah tanpa jeda, bahkan beberapa mahasiswa ikut larut dalam keceriaan. Tak ada sekat antara tamu dan tuan rumah; yang ada hanya kebersamaan.
Momen paling ditunggu pun tiba: pembagian bingkisan. Satu per satu anak maju, menerima paket dengan mata berbinar. Beberapa langsung membukanya, memperlihatkan isi kepada teman di sampingnya.
Pembina PMK ITPLN, Meyhart Bangkit Sitorus, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari panggilan iman yang diwujudkan secara nyata.
“Paskah bukan hanya kita rayakan di dalam gereja atau ibadah, tetapi bagaimana kita hadir membawa kasih itu kepada sesama, terutama mereka yang membutuhkan,” ujar Meyhart saat berbincang, Selasa, 28 April 2026.
Ia menambahkan, kunjungan ke panti asuhan menjadi cara sederhana namun bermakna untuk menanamkan nilai kepedulian kepada mahasiswa.
“Lewat interaksi langsung seperti ini, mahasiswa belajar bahwa berbagi itu bukan soal besar atau kecil, tapi soal ketulusan,” katanya.
Sementara itu, bagi anak-anak panti, kehadiran para mahasiswa menjadi warna tersendiri di hari itu. Kebersamaan singkat tersebut meninggalkan kesan mendalam—bukan hanya lewat bingkisan, tetapi juga perhatian dan waktu yang dibagikan.
Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan doa bersama. Tawa mulai mereda, namun kehangatan tetap tinggal.
Di ruangan sederhana itu, Paskah menemukan maknanya yang paling jujur: hadir, berbagi, dan menghidupkan harapan.

