Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Penemuan sumur Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur, kembali menegaskan bahwa potensi energi Indonesia, khususnya di laut dalam, masih jauh dari kata habis. Pengamat energi Haposan Napitupulu menilai, temuan ini bukan sekadar tambahan cadangan, melainkan momentum strategis yang dapat mengubah lanskap energi nasional.
Kepada Ruangenergi.com, Haposan menjelaskan bahwa keberhasilan Eni menemukan cadangan besar di kawasan Selat Makassar merupakan hasil dari strategi eksplorasi agresif dan terintegrasi dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini bukan penemuan biasa. Geliga menunjukkan bahwa sistem petroleum di kawasan Kutei sudah matang dan sangat produktif,” ujarnya.
Sumur Geliga-1 dibor hingga kedalaman sekitar 5.100 meter di perairan dengan kedalaman 2.000 meter. Hasilnya, ditemukan kolom gas signifikan pada reservoir batupasir turbidit berumur Miosen—indikasi kuat potensi produksi jangka panjang.
Secara volumetrik, temuan ini diperkirakan mengandung sekitar 5 TCF gas dan 300 juta barel kondensat in-place. Sementara itu, potensi cadangan yang dapat diproduksikan (recoverable) diperkirakan mencapai sekitar 700 juta barel setara minyak (MMBO)—bukan MMBOE sebagaimana kerap disalahartikan.
Menurut Haposan, koreksi satuan ini penting karena berkaitan langsung dengan persepsi keekonomian proyek. “Istilah MMBO dan MMBOE berbeda secara fundamental. Dalam konteks ini, angka yang lebih tepat adalah MMBO,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menilai Geliga tidak berdiri sendiri. Bersama temuan lain seperti Geng North, Konta, dan Kadal, kawasan ini berpotensi menjadi tulang punggung produksi gas Indonesia di masa depan. Bahkan, kontribusi temuan-temuan tersebut disebut mencapai sekitar 46% dari total penemuan sumber daya nasional sejak 2023.
“Ini bisa menjadi game changer. Jika dikembangkan optimal, kawasan Kutei bisa menghasilkan lebih dari 150 ribu barel setara minyak per hari pada puncaknya di sekitar 2030,” jelas Haposan.
Dari sisi pengembangan, skenario investasi juga tidak kecil. Skala temuan Geliga membuka kemungkinan pembangunan fasilitas mandiri (standalone), bukan sekadar tie-back ke fasilitas eksisting. Artinya, kebutuhan investasi akan lebih besar, namun sebanding dengan potensi nilai proyek yang mencapai miliaran dolar.
Tak hanya untuk ekspor LNG, Haposan menekankan bahwa nilai strategis Geliga justru terletak pada pemanfaatan domestik. Tambahan pasokan gas dinilai mampu menghidupkan kembali kapasitas Kilang LNG Bontang serta menopang industri petrokimia di Kalimantan Timur.
“Kalau dikelola dengan benar, ini bisa memperkuat hilirisasi gas dan mendorong pertumbuhan industri nasional,” katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya tantangan besar, mulai dari kapasitas hilir, kebutuhan investasi infrastruktur, hingga risiko kelebihan pasokan pada dekade 2030-an jika tidak diimbangi pertumbuhan permintaan domestik.
Pada akhirnya, Haposan menyimpulkan bahwa Geliga adalah simbol kebangkitan eksplorasi laut dalam Indonesia. Keberhasilannya kelak tidak hanya diukur dari volume produksi, tetapi dari sejauh mana temuan ini mampu mendorong transformasi sektor energi nasional.
“Geliga adalah peluang besar—tapi seperti semua peluang besar, kuncinya ada pada eksekusi,” pungkasnya.


