Wow Keren Sekali! Perburuan Migas Lepas Pantai Memanas! Natuna dan Selat Makassar Jadi Arena Perebutan Gas

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Laut Indonesia bukan sekadar hamparan biru yang menghubungkan pulau-pulau. Di bawah dasar lautnya, industri hulu minyak dan gas bumi (migas) masih memburu sumber energi yang bisa menjadi penopang ketahanan energi nasional.

Dari Laut Natuna hingga Selat Makassar dan perairan Kalimantan Timur, sejumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) menjalankan kegiatan pengeboran, mengembangkan temuan gas, atau memperkuat portofolio wilayah kerja migas lepas pantai.

Namun, siapa saja yang benar-benar sedang bergerak di lapangan? Dan mana yang masih berada pada tahap pengembangan proyek?

Penelusuran ruangenergi.com terhadap informasi kegiatan hulu migas yang tersedia hingga 19 Oktober 2026 menunjukkan setidaknya tiga kelompok pemain yang layak menjadi perhatian: Prime Natuna EP, Medco E&P Natuna, serta konsorsium Eni–Petronas di kawasan Cekungan Kutai dan Selat Makassar.

Salah satu aktivitas eksplorasi yang paling jelas tercatat adalah pengeboran sumur Tenggiling South-1 di Wilayah Kerja Natuna Sea Block A.

KKKS Prime Natuna EP menajakkan sumur eksplorasi tersebut pada 27 September 2026. Sumur ini merupakan bagian dari kampanye pengeboran eksplorasi Natuna 2026 yang mencakup tiga sumur.

Sebelumnya, sumur Bekantan-1 di wilayah kerja yang sama dilaporkan berhasil menemukan gas. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan eksplorasi di Natuna Sea Block A bukan sekadar rencana di atas kertas, melainkan sudah memasuki tahap pembuktian potensi geologi melalui pengeboran.

Bagi Prime Natuna EP, tantangan berikutnya adalah membuktikan potensi sumur-sumur yang dibor, mengevaluasi keekonomiannya, dan menentukan apakah temuan tersebut layak dikembangkan menjadi sumber produksi baru.

Dua nama sumur—Bekantan-1 dan Tenggiling South-1—menjadi penanda penting dalam peta perburuan gas di kawasan Natuna. Meski demikian, status hasil pengeboran keduanya harus dibedakan: keberhasilan menemukan gas pada Bekantan-1 tidak otomatis berarti Tenggiling South-1 juga telah menghasilkan temuan komersial.

Pemain berikutnya adalah Medco E&P Natuna, yang mengoperasikan kegiatan migas di Wilayah Kerja South Natuna Sea Block B.

Pada 30 September 2026, Medco E&P Natuna melaksanakan tajak sumur pengembangan WB-H04. Sumur tersebut dirancang untuk menargetkan beberapa interval lapisan reservoir dengan sasaran awal produksi gas sekitar 25 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).

Jika Natuna menjadi salah satu panggung penting pengeboran migas lepas pantai, kawasan Cekungan Kutai di Selat Makassar merupakan arena strategis bagi pengembangan gas laut dalam.

Eni dan Petronas menggarap proyek-proyek besar di kawasan tersebut, termasuk pengembangan Geng North dan Gendalo–Gandang. Proyek-proyek ini berada di perairan lepas pantai Kalimantan Timur dan menjadi bagian dari upaya meningkatkan pasokan gas Indonesia.

Temuan Geng North sebelumnya memperkuat prospek gas kawasan tersebut. Akan tetapi, pengembangan lapangan yang sudah ditemukan harus dibedakan dari kegiatan eksplorasi yang sedang mengebor prospek baru.

Pada April 2026, Eni juga mengumumkan penemuan gas besar di Blok Ganal. Temuan tersebut menambah daya tarik Cekungan Kutai bagi industri hulu migas.

Perkembangan berikutnya datang pada 12 Oktober 2026, ketika Eni mengumumkan kesepakatan penjualan sebagian kepemilikan di sejumlah aset hulu Indonesia kepada Pertamina Hulu Energi dan Medco Energi. Kesepakatan itu mencakup aset di East Sepinggan, North Ganal, Rapak, Muara Bakau, Ganal, West Ganal, dan East Ganal.

Perubahan kepemilikan ini bukan berarti seluruh perusahaan tersebut sedang melakukan pengeboran eksplorasi baru. Namun, transaksi itu menunjukkan bahwa aset gas lepas pantai Indonesia masih menjadi rebutan strategis, baik untuk memperkuat produksi maupun memperbesar peluang pengembangan jangka panjang.

Di luar Natuna dan Selat Makassar, wilayah Maluku, Papua, dan Laut Arafura tetap layak masuk radar eksplorasi nasional.

Wilayah-wilayah ini memiliki cekungan sedimen dan wilayah kerja migas yang perlu terus dievaluasi. Namun, menyebut suatu KKKS sebagai perusahaan yang sedang aktif berburu di laut harus didasarkan pada bukti kegiatan terbaru, seperti dimulainya survei seismik, pengadaan rig, tajak sumur, atau laporan operasi dari operator.

Dalam catatan redaksi ruangenergi.com, dari Natuna hingga Selat Makassar, persaingan hulu migas Indonesia memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi geologi.

Operator harus membuktikan cadangan melalui pengeboran, memastikan keekonomian lapangan, menyiapkan fasilitas produksi, dan membangun jalur penyaluran gas.

Bagi Indonesia, pertanyaan besarnya bukan hanya siapa yang memiliki wilayah kerja paling luas, melainkan siapa yang paling konsisten mengubah potensi bawah laut menjadi cadangan terbukti dan produksi nyata.

Di tengah kebutuhan energi yang terus berkembang, aktivitas Prime Natuna EP, Medco E&P Natuna, serta Eni–Petronas memberikan gambaran tentang beberapa titik penting pergerakan industri migas lepas pantai.

Peta perburuan itu masih perlu dilengkapi dengan data operasi terbaru dari wilayah Maluku, Papua, dan Arafura agar gambaran aktivitas KKKS di Indonesia Timur benar-benar utuh.