100 GWp Surya Indonesia Diburu Investor Global, Tantangan Kini Bukan Lagi Target

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

New York, USA, ruangenergi.com— Angka 100 GWp energi surya yang dicanangkan Indonesia mulai bergeser dari sekadar ambisi menjadi magnet investasi global. Perusahaan-perusahaan internasional mengaku sudah memiliki modal, pengalaman, bahkan solusi teknologi. Kini, pertanyaannya tinggal satu: seberapa cepat Indonesia mampu mengubah target besar itu menjadi proyek yang siap dibangun dan dibiayai?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam Indonesia Solar Investment Forum 2026: From Ambition to Investable Scale yang digelar di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York, 24 September 2026.

Forum ini mempertemukan pelaku industri, perusahaan pengguna listrik terbarukan, lembaga keuangan dan akademisi untuk membedah tantangan di balik ambisi pengembangan energi surya Indonesia.

Dukungan langsung Presiden Indonesia terhadap target 100 GWp dinilai membuka peluang besar. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan listrik terbarukan, tetapi juga untuk menarik investasi internasional dalam skala besar.

Namun, target sebesar itu membutuhkan lebih dari sekadar komitmen politik.

Indonesia membutuhkan jadwal pengadaan yang jelas, skema komersial yang layak, serta pembangunan infrastruktur yang terkoordinasi agar proyek energi surya dapat benar-benar masuk tahap investasi.

Pesan menarik datang dari RE100.

Laura Thomas, RE100 Policy Manager di Climate Group, mengatakan minat perusahaan global terhadap transisi energi Indonesia sudah ada.

Bahkan, menurut dia, banyak perusahaan tersebut telah menjalankan investasi energi terbarukan di berbagai negara.

“Ada begitu banyak perusahaan yang ingin berinvestasi dalam transisi energi, dan mereka tahu caranya karena mereka sudah melakukannya secara global,” ujar Thomas.

Artinya, tantangan Indonesia bukan harus menciptakan seluruh solusi dari nol.

Yang diperlukan adalah menerjemahkan pengalaman dan model yang sudah berjalan secara global agar sesuai dengan karakter pasar Indonesia.

Di sinilah kepastian regulasi, struktur komersial dan mekanisme pengadaan menjadi sangat penting. Ketiganya harus mampu memberikan jalur yang jelas bagi pembeli listrik, pengembang proyek maupun investor.

AESI Bongkar Hambatan PLTS

Di sisi domestik, Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) ikut menyiapkan ekosistem untuk mengejar target tersebut.

AESI mengungkapkan telah membentuk empat Task Force yang berfokus pada pengembangan IPP, PLTS atap, program 100 GWp dan pengembangan tenaga kerja.

Task Force tersebut bekerja bersama pemerintah dan pelaku industri untuk menjawab kebutuhan kebijakan, kesiapan proyek serta sumber daya manusia.

Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari mengatakan permintaan dari sektor industri, khususnya PLTS atap, sangat tinggi.

Namun tingginya permintaan harus diikuti mekanisme yang membuat perusahaan lebih mudah mendapatkan akses terhadap energi terbarukan.

Salah satu terobosan yang didorong AESI adalah platform dengan sistem single billing melalui PLN.

Model ini ditujukan untuk mempermudah gedung komersial, industri dan pemerintah memperoleh akses energi bersih tanpa harus terbebani komitmen multiyears yang kompleks.

“Dengan mengubah sistem menjadi platform tagihan tunggal atau single billing melalui PLN, kami membuka akses bagi gedung komersial, industri, dan pemerintah tanpa harus mengikat mereka pada komitmen multi tahun yang rumit,” ujar Mada.

Forum di New York itu memperlihatkan bahwa 100 GWp kini menghadapi ujian berikutnya.

Bukan lagi soal seberapa besar target yang mampu diumumkan, melainkan seberapa siap Indonesia menciptakan proyek yang bisa masuk pipeline investasi.

Investor membutuhkan kepastian. Pengembang membutuhkan proyek yang layak secara komersial. Industri membutuhkan akses energi bersih. Sementara pemerintah membutuhkan ekosistem yang mampu mempercepat pembangunan tanpa membuat proses menjadi berbelit.

Jika berbagai kebutuhan itu dapat dipertemukan, target 100 GWp bukan hanya angka kapasitas pembangkit.

Ia bisa berubah menjadi mesin baru investasi energi bersih Indonesia.

Dan New York menjadi salah satu panggung tempat pesan itu mulai disampaikan kepada dunia.

Indonesia punya matahari. Investor global mengaku punya modal dan pengalaman. Pekerjaan rumah berikutnya adalah mempertemukan keduanya dalam proyek yang benar-benar bisa dibangun.