Jakarta Selatan, Jakarta, ruangenergi.com-Potensi minyak dan gas bumi (migas) Indonesia masih terbuka lebar. Dari 124 cekungan sedimen yang teridentifikasi sebagai target eksplorasi, baru sebagian yang dikembangkan menjadi lapangan produksi. Kondisi ini membuka peluang besar bagi penguatan eksplorasi, terutama di kawasan Indonesia Timur yang menyimpan tantangan geologi, teknologi, dan investasi.
Direktur Operasi PT Elnusa Tbk, Andri Haribowo, menegaskan bahwa Elnusa siap mengambil peran dalam setiap tahapan kegiatan hulu migas, mulai dari identifikasi potensi, studi dan interpretasi geologi, eksplorasi melalui pengeboran, hingga mendukung penyaluran produksi.
“Sebagai penyedia jasa migas yang memberikan total solution, di setiap tahapan, mulai dari identifikasi, interpretasi, studi sampai dengan pengeboran hingga penyaluran produksi, kami ada di sana,” ujar Andri saat menjelaskan posisi dan kesiapan Elnusa dalam mendukung pengembangan potensi migas nasional, Kamis (22/10/2026), di Jakarta.
Menurut Andri, berdasarkan data Kementerian ESDM yang dipaparkannya, dari 124 cekungan sedimen yang teridentifikasi, baru 20 cekungan yang telah berproduksi. Sementara itu, terdapat 27 cekungan dengan temuan migas yang belum dikembangkan (undeveloped discovery).
Selain itu, masih terdapat cekungan yang telah menunjukkan sistem petroleum terbukti, tetapi belum dikembangkan karena berbagai kendala, seperti keekonomian dan lokasi. Ada pula cekungan dengan indikasi hidrokarbon, serta wilayah yang belum dieksplorasi atau memiliki keterbatasan data.
Peta tersebut, menurut Andri, menunjukkan bahwa pekerjaan rumah sektor hulu migas Indonesia belum selesai. Tantangannya bukan semata-mata menemukan minyak dan gas, melainkan bagaimana mengubah potensi geologi menjadi cadangan yang ekonomis dan dapat diproduksikan.
Andri menjelaskan, sejarah panjang industri migas Indonesia membuat banyak wilayah yang relatif mudah dijangkau dan dikembangkan telah lebih dahulu dieksplorasi dan diproduksikan.
Pada masa awal industri migas, minyak bahkan dapat ditemukan melalui rembesan alami di permukaan. Seiring berjalannya waktu, kegiatan eksplorasi berkembang dari pengeboran dangkal menuju teknologi yang mampu menjangkau reservoir lebih kompleks.
Kini, tantangan industri semakin besar. Sebagian lapangan yang telah lama berproduksi membutuhkan teknologi lanjutan untuk mengoptimalkan minyak yang masih tertinggal di reservoir.
Dalam kondisi tertentu, minyak yang tersisa tidak dapat diproduksikan secara optimal hanya dengan metode konvensional. Dibutuhkan pendekatan teknologi yang lebih canggih, termasuk metode peningkatan perolehan minyak atau enhanced oil recovery (EOR).
“Area-area migas yang mudah itu sudah dikuras, diproduksikan,” kata Andri, menggambarkan perubahan tantangan eksplorasi dan produksi migas Indonesia.
Karena itu, menurutnya, pengembangan sektor hulu migas ke depan akan semakin bergantung pada kemampuan teknologi, pendanaan, dan dukungan regulasi yang memadai.
Andri melihat Indonesia Timur sebagai salah satu kawasan penting untuk membuka babak baru eksplorasi migas nasional.
Wilayah-wilayah yang berada di kawasan perbatasan, daerah terpencil, serta area laut dalam menawarkan peluang, tetapi juga membutuhkan investasi dan kemampuan teknis yang lebih besar.
Eksplorasi laut dalam, misalnya, menuntut teknologi khusus untuk melakukan survei, pengeboran, serta pengembangan fasilitas produksi di lingkungan dengan kondisi operasi yang lebih kompleks.
Teknologi juga membuka peluang untuk mengejar hidrokarbon melalui pendekatan nonkonvensional, yakni ketika pengembangan sumber daya memerlukan metode khusus di luar praktik produksi konvensional.
Namun, Andri mengingatkan bahwa ketersediaan teknologi saja tidak cukup. Pengembangan wilayah baru membutuhkan kesiapan modal, perhitungan keekonomian proyek, serta regulasi yang mampu memberikan kepastian bagi investor.
“Semakin ke tengah, ke timur itu butuh high capital, butuh high technology, dan tentunya dukungan regulasi dari pemerintah agar investor berminat datang ke Indonesia untuk mengeksplorasi area-area migas yang ada di Indonesia Timur,” ujarnya.
Menurut dia, dukungan tersebut penting agar potensi cekungan yang belum dikembangkan dapat bertransformasi menjadi kegiatan eksplorasi nyata dan pada akhirnya memberikan tambahan produksi bagi Indonesia.
Bagi Elnusa, tantangan eksplorasi yang semakin kompleks justru mempertegas pentingnya peran perusahaan jasa energi yang memiliki kemampuan mendukung berbagai tahapan operasi hulu migas.
Andri menegaskan, Elnusa menempatkan diri sebagai penyedia solusi terintegrasi yang dapat mendukung kebutuhan industri, baik pada wilayah produksi yang telah matang maupun pada kawasan baru yang membutuhkan pendekatan teknologi berbeda.
“Pokoknya di setiap zaman, di setiap daerah, di semua proses kita ada,” ujar Andri.
Pernyataan tersebut menegaskan kesiapan Elnusa untuk mendukung kebutuhan industri migas yang terus berkembang. Ketika eksplorasi bergerak menuju wilayah yang lebih menantang, kebutuhan terhadap jasa survei, pengolahan dan interpretasi data, pengeboran, serta dukungan operasi lainnya juga semakin penting.
Ke depan, peluang pengembangan migas Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi sumber daya di bawah permukaan. Kemampuan mengintegrasikan teknologi, modal, sumber daya manusia, dan kebijakan yang mendukung investasi akan menjadi faktor penentu.
Bagi Indonesia, tantangannya adalah memastikan cekungan yang belum dikembangkan tidak berhenti sebagai potensi di atas kertas. Bagi Elnusa, momentum tersebut menjadi ruang untuk terus memperkuat peran sebagai mitra teknologi dan jasa energi dalam perjalanan industri hulu migas nasional.

