Bojonegoro, Jawa Tengah, ruangenergi.com – ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) berhasil mengaktifkan kembali Sumur Idle Banyu Urip B-05 di Blok Cepu, Jawa Timur, dengan capaian produksi awal sekitar 4.500 barel minyak per hari (BOPD). Angka ini jauh melampaui target awal sebesar 1.000 BOPD.
Keberhasilan tersebut disampaikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam laporan kepada Menteri ESDM dan Wakil Menteri ESDM, Sabtu (24/1/2026). Djoko menyebut, pencapaian ini merupakan bagian dari strategi nasional peningkatan produksi minyak melalui reaktivasi sumur idle dan penerapan teknologi intervensi.
“ExxonCepu telah melaksanakan pekerjaan intervensi teknologi pada Sumur Idle Banyu Urip B-05 dengan hasil yang sangat signifikan,” kata Djoko dalam laporannya,dikutip ruangenergi.com
Pekerjaan pada sumur B-05 dilakukan dengan rangkaian teknologi Gas Shut-Off (GSO) menggunakan chemical baru, reperforasi, Water Shut-Off (WSO) dengan bridge plug, serta stimulasi sumur melalui pemompaan LDA (Liquid Diversion Acid).
Seluruh pekerjaan dilaksanakan tanpa rig (rigless operation) dengan menggunakan Coiled Tubing Unit (CTU) milik PT Schlumberger. Operasi berlangsung selama sekitar tiga minggu dan dinyatakan selesai pada 22 Januari 2026.
Dari sisi biaya, Djoko menjelaskan bahwa hingga 22 Januari 2026, total biaya yang telah dikeluarkan mencapai USD 2,9 juta, atau sekitar 83 persen dari total anggaran yang telah disetujui oleh SKK Migas.
Keberhasilan di B-05 diharapkan menjadi model replikasi bagi sumur idle lainnya di wilayah kerja Banyu Urip. Saat ini tercatat 14 sumur idle serupa yang berpotensi untuk dilakukan pekerjaan sejenis.
“Kesuksesan ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat keberhasilan pekerjaan serupa pada kandidat sumur idle lainnya,” ujar Djoko.
Jika seluruh sumur tersebut dapat mencapai tingkat produksi yang sama, maka potensi tambahan produksi dapat mencapai hingga 63.000 BOPD.
Djoko menambahkan, tambahan produksi dari sumur idle ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap target peningkatan produksi nasional tahun 2026, sekaligus membantu menutup potensi kehilangan pasokan minyak sebesar 2–3 juta barel akibat gangguan pada pipa gas TGI.
Dalam rapat terbaru bersama Presiden Direktur ExxonMobil Cepu, SKK Migas juga mengingatkan agar EMCL memanfaatkan gas yang terproduksi agar dapat dijual, sehingga memberikan tambahan pendapatan dan menjaga keberlanjutan produksi minyak dalam jangka panjang.
“Penggunaan chemical memiliki batas ketahanan, sehingga pengelolaan gas menjadi penting untuk menjaga sustainabilitas produksi,” kata Djoko.

