Air Datang, Harapan Kembali: Cerita Ketahanan Warga Aceh Tamiang Pasca Banjir

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Aceh Tamiang, Aceh, ruangenergi.com— Derasnya aliran air dari selang truk tangki seolah menjadi simbol kembalinya harapan bagi warga yang selama dua bulan hidup dalam keterbatasan. Dalam hitungan menit, tandon dan ember warga pun penuh. Setelah berhari-hari menanti, air bersih akhirnya tiba di halaman rumah mereka.

Bagi sebagian warga, momen ini bukan sekadar distribusi bantuan. Ini adalah pelepas dahaga — sekaligus penghapus kecemasan panjang pascabanjir besar yang meluluhlantakkan desa-desa di Aceh Tamiang.

Di Desa Perdamaian, Kecamatan Kota Kuala Simpang, Basariah (53) tak kuasa menahan haru. Air matanya mengalir saat menyaksikan air bersih mengisi penampungan di depan rumahnya.

“Saya tidak bisa berkata-kata. Terima kasih kepada Pertamina EP Rantau Field yang sudah bantu kami,” ujarnya dengan suara bergetar, Rabu (28/1/2026).

Sejak banjir melanda sekitar 60 hari lalu, krisis air bersih menjadi tantangan terbesar bagi para penyintas. Untuk memenuhi kebutuhan dasar, warga harus menunggu pasokan air yang datang tidak menentu.

Samsul, warga Kampung Bukit Rata, Kecamatan Kejuruan Muda, mengatakan bantuan air bersih sangat berarti bagi aktivitas harian warga.

“Kami sangat membutuhkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak untuk mandi, bisa ambil air wudhu saja sudah cukup. Kami bersyukur dapat bantuan air bersih,” tuturnya.

Bantuan air disalurkan menggunakan truk tangki berkapasitas hingga 12 ribu liter. Setiap hari, armada tangki bergerak dari desa ke desa untuk memastikan distribusi berjalan merata.

Tak hanya air bersih, bantuan kemanusiaan juga hadir dalam berbagai bentuk. Selama masa tanggap darurat, bantuan telah menjangkau lebih dari 20 desa di wilayah kerja Rantau Field.

Bantuan tersebut meliputi: Posko kesehatan gratis. Makanan siap santap. Paket sembako. Kasur, selimut, dan bantal. Obat-obatan dan perlengkapan mandi. Penyaluran dilakukan bertahap dan terkoordinasi agar tepat sasaran sesuai kebutuhan warga.

Field Manager Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah, menegaskan komitmen perusahaan untuk tetap hadir membantu masyarakat, bahkan saat operasional perusahaan juga terdampak banjir.

“Kami tetap hadir di tengah masyarakat untuk memastikan bantuan tidak hanya soal logistik, tetapi juga kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Secara total, bantuan pangan yang telah disalurkan meliputi: 1,62 ton beras. 555 kilogram gula. 270 dus air mineral. 405 dus mi instan. 175 dus minyak goreng. 142 dus biskuit

Bantuan juga mencakup sarden, telur, susu kental manis, makanan bayi, popok sekali pakai, selimut, hingga terpal.

Menariknya, bantuan datang dari berbagai wilayah operasi, mulai dari Sumatera Selatan, Jambi, Riau, hingga Sumatera Utara. Dukungan juga mengalir melalui kolaborasi lintas wilayah dalam grup upstream energi nasional.

Respons kemanusiaan ini mencerminkan peran perusahaan energi yang tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan operasi, tetapi juga pada tanggung jawab sosial terhadap masyarakat di sekitar wilayah kerja.

Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, BPBD, dan pemangku kepentingan lainnya, menjadi kunci percepatan pemulihan pascabencana.

Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya hilang, air bersih yang mengalir kini menjadi simbol baru: bahwa harapan masih ada — dan pemulihan sedang berjalan.