Indonesia Siapkan Ladang Migas Generasi Baru

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Serpong, Tangsel, ruangenergi.com— Pemerintah melalui Kementerian ESDM mempercepat program akuisisi data geologi dan geofisika (G&G) untuk menarik investasi baru di sektor hulu migas nasional.

Dalam Business Forum The 50th IPA Convex 2026, Badan Geologi ESDM mengungkapkan Indonesia masih memiliki 81 cekungan sedimen yang membutuhkan tambahan data eksplorasi guna meningkatkan statusnya menjadi discovery basin maupun producing basin.

“Pemerintah bertugas meningkatkan status cekungan unexplored dan prospective menjadi discovery basin dan producing basin,” demikian ruangenergi.com membaca bahan paparan dalam presentasi “Government Initiatives in New G&G Data Acquisition”.

Secara keseluruhan, Indonesia memiliki 128 cekungan sedimen yang tersebar di berbagai wilayah. Namun sebagian besar masih memerlukan penguatan data bawah permukaan untuk mendukung kegiatan eksplorasi migas.

Untuk mendukung upaya tersebut, pemerintah menjalankan berbagai program akuisisi data baru pada 2025–2026 menggunakan teknologi 2D seismic, 3D seismic, Full Tensor Gravity/Airborne Gravity Gradiometry (FTG/AGG), serta Stress Field Detection (SFD).

Beberapa wilayah yang menjadi fokus survei antara lain Offshore Gorontalo, Offshore Northern Papua, Offshore Taliabu–North Seram, Sorong, hingga kawasan Lariang–Enrekang di Sulawesi.

Pada 2025, pemerintah melakukan survei 3D seismic di Offshore Gorontalo seluas sekitar 800 kilometer persegi. Wilayah tersebut berada di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah, dengan kedalaman laut mencapai 1.500–2.000 meter.

Hasil awal menunjukkan kualitas data baru memiliki resolusi imaging bawah permukaan yang lebih baik dibanding data lama atau vintage seismic.

Selain itu, survei 2D seismic di Offshore Northern Papua sepanjang lebih dari 2.000 kilometer juga menunjukkan peningkatan kualitas data, termasuk imaging formasi miring dan signal-to-noise ratio (SNR).

Di sektor darat, pemerintah juga melakukan survei FTG/AGG di wilayah Lariang dan Enrekang, Sulawesi. Dari hasil interpretasi awal, ditemukan sejumlah anomali gravitasi dan magnetik yang dinilai berpotensi menjadi target hidrokarbon baru.

Badan Geologi menyebut area selatan Enrekang menjadi salah satu zona paling prospektif karena memiliki lapisan sedimen tebal dan indikasi sistem hidrokarbon aktif.

Program akuisisi data ini diharapkan dapat menurunkan risiko eksplorasi sekaligus meningkatkan daya tarik investasi hulu migas Indonesia di tengah kompetisi global sektor energi.