USAT, Senjata Baru Pertamina EP Rantau Tekan Risiko Kepasiran dan Dongkrak Produksi Miliaran Rupiah

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Rantau, 24 Februari 2026 – Di tengah tantangan sumur-sumur tua yang kian rentan masalah kepasiran, perwira-perwira di Pertamina EP Rantau membuktikan bahwa inovasi tak selalu harus mahal. Lewat teknologi sederhana bernama Ultimate Sand Trap (USAT), mereka berhasil menekan risiko kehilangan produksi (loss production) sekaligus mengamankan potensi pendapatan hingga miliaran rupiah.

Lapangan migas yang telah mature seperti yang dikelola Pertamina EP Rantau memang identik dengan problem pasir yang ikut terangkat bersama fluida. Butiran pasir ini kerap menjadi “musuh dalam selimut” — merusak pompa, menghambat aliran, hingga membuat produksi minyak mentah tak optimal.

Field Manager PEP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, menjelaskan bahwa sebelum hadirnya USAT, tim lebih dulu menerapkan inovasi We Are Fines pada 2023. Inovasi tersebut kini telah diterapkan di seluruh sumur minyak di Rantau. Namun tantangan kepasiran belum sepenuhnya tuntas.

“USAT dikembangkan sejak 2024 untuk melengkapi inovasi sebelumnya. Dengan kombinasi ini, persoalan kepasiran bisa diatasi dari berbagai aspek,” ujar Tomi.

USAT dirancang sebagai aksesori tambahan yang dipasang di tengah lapisan tubing pada pompa Electric Submersible Pump (ESP). Dari 87 sumur yang dikelola PEP Rantau, sebanyak 29 sumur menggunakan pompa ESP — jenis pompa yang sangat sensitif terhadap gangguan pasir.

Cara kerjanya terbilang cerdas. USAT menahan pasir yang mengalami fallback di dalam sumur. Alih-alih jatuh kembali dan merusak pompa, pasir akan terperangkap di sela antara USAT dan tubing. Hasilnya, pompa tetap beroperasi optimal untuk mengalirkan fluida ke permukaan. Bahkan jika terjadi penyumbatan, sistem masih memungkinkan reserve circulating.

Petroleum Engineering PEP Rantau Field, Andi Surianto Sinurat, yang menjadi bagian dari tim pengembang inovasi ini, mengungkapkan bahwa biaya pembuatan satu unit USAT tidak sampai tiga juta rupiah dengan masa pakai sekitar satu tahun.

Materialnya pun relatif sederhana: mata bor, tubing, tubing coupling, dan kawat. Proses perakitannya hanya memakan waktu tiga hari. Namun dampaknya jauh dari sederhana.

Sejak Januari 2024 hingga September 2025, penerapan USAT di tiga sumur (P-420, P-383, dan P-406) berhasil: Menghemat biaya rig hingga 50 persen. Mengurangi loss production sebesar 4 persen. Meningkatkan produksi dan pendapatan secara signifikan.Sebelum inovasi ini diterapkan, risiko gangguan akibat kepasiran bahkan sempat menyentuh 62 persen.

Keberhasilan USAT tak hanya berdampak di lapangan, tetapi juga mendapat pengakuan korporasi. Lewat tim PC Prove Alumni Pasir, PEP Rantau meraih penghargaan Platinum dalam ajang Upstream Improvement & Innovation Award 2025 (UIIA) 2025 Subholding Upstream Pertamina. Ajang tahunan tersebut diikuti 108 delegasi terbaik dari seluruh lingkungan Subholding Upstream.

Tomi menegaskan, USAT merupakan inovasi murni karya internal perwira Rantau, khususnya tim Petroleum Engineering dan Well Service yang konsisten mencari solusi atas tantangan produksi.

“Inovasi ini adalah wujud komitmen kami untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi, sekaligus mendukung target produksi nasional,” tutupnya.

Di tengah tekanan efisiensi industri hulu migas, kisah USAT menjadi bukti bahwa kreativitas teknis di lapangan mampu menjawab persoalan klasik — dan mengubahnya menjadi peluang peningkatan kinerja.