Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com β Di tengah tekanan penurunan alamiah sumur migas yang makin tajam, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) justru memasang target agresif pada 2026. Anak usaha upstream Pertamina itu membidik produksi migas mencapai 1,03 juta barrel setara minyak per hari (MBOEPD), sambil mempertahankan posisinya sebagai tulang punggung energi nasional.
Dalam paparan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPR Mei 2026, PHE mengungkapkan bahwa perusahaan saat ini mengelola 27% wilayah kerja operator migas di Indonesia. Namun kontribusinya jauh lebih besar: mencapai 65% lifting minyak nasional dan 35% lifting gas domestik sepanjang 2025.
Capaian itu diraih di tengah tantangan berat berupa natural decline rate yang mencapai 24% untuk minyak dan 21% untuk gas. Meski demikian, PHE masih mampu menjaga produksi migas di level 1 juta BOEPD pada 2025. Produksi minyak tercatat 557 ribu barel per hari (MBOPD), sementara produksi gas mencapai 2,8 BCFD.
βPHE berhasil mengelola tantangan natural decline rate dan mempertahankan pertumbuhan produksi migas pada tahun 2025,β demikian tertulis dalam paparan tersebut.
Tak hanya mempertahankan produksi, PHE juga memperkuat agresivitas eksplorasi. Sepanjang 2022β2025, perusahaan memperoleh hingga sembilan wilayah kerja eksplorasi baru. Tiga di antaranya diperoleh pada 2025, yakni Blok Binaiya di Maluku, Lavender di Sulawesi Tenggara, dan Bobara di Papua.
Dari sisi cadangan, perusahaan mengklaim berhasil mencatat potensi temuan hingga 1 miliar barrel setara minyak (BBOE) kategori 2C, termasuk hasil pasca pengeboran pada dua sumur migas nonkonvensional (MNK) di Rokan, Riau.
Strategi utama PHE untuk menahan laju penurunan produksi adalah memperbanyak aktivitas development drilling dan workover. Pada 2025, perusahaan menjalankan 20 sumur eksplorasi, 887 sumur eksploitasi, 1.288 workover, dan lebih dari 37 ribu well intervention well services (WIWS).
Berbagai teknologi enhanced oil recovery (EOR) juga mulai diintensifkan. Beberapa proyek andalan antara lain chemical EOR di Minas Area A, steamflood North Duri Development Area 14, hingga multi-stage fracturing di Rokan.
Untuk 2026, PHE menyiapkan program yang lebih agresif lagi. Target operasi meliputi pengeboran 16 sumur eksplorasi, 800 sumur eksploitasi, 1.248 pekerjaan workover, dan lebih dari 33 ribu WIWS. Perusahaan juga akan melakukan survei seismik 2D sepanjang 904 kilometer dan seismik 3D seluas 1.660 kilometer persegi.
Sejumlah proyek greenfield akan menjadi motor pertumbuhan baru, termasuk Akasia Prima, South Senoro, hingga Masela. Sementara pada sisi transisi energi, PHE mulai memasukkan pengembangan CCS/CCUS sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Namun jalan menuju target tersebut tidak mudah. PHE mengakui tantangan besar masih membayangi industri hulu migas nasional, mulai dari ketidakpastian geopolitik global, keandalan sistem kelistrikan, hingga pasokan gas domestik. Pada 2025 saja, produksi sempat terganggu akibat trip kelistrikan di WK Rokan, shutdown di Subang, serta banjir besar di Sumatera pada akhir tahun.
Karena itu, perusahaan meminta dukungan penuh pemerintah dan para pemangku kepentingan, terutama dalam percepatan perizinan, pembebasan lahan, serta pemberian insentif fiskal untuk menjaga keekonomian proyek migas.
Di tengah tren global menuju energi bersih, PHE tampaknya sedang memainkan dua peran sekaligus: menjaga pasokan energi nasional tetap aman, sambil perlahan menyiapkan fondasi transisi energi masa depan.


