Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Industri hulu minyak dan gas (migas) tanah air mendapat angin segar di awal Maret ini. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, membawa “Very Good News” terkait keberhasilan operasi perawatan sumur di Blok Cepu yang sukses melipatgandakan produksi minyak jauh melampaui ekspektasi, sekaligus menghemat anggaran secara signifikan.
Dalam laporannya pada Minggu (01/3/2026), Djoko Siswanto memaparkan bahwa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) telah rampung melakukan intervensi sumur (Well Services) pada Sumur Banyu Urip A07 sepanjang Februari 2026. Hasilnya? Sangat memuaskan.
Keberhasilan produksi yang meroket ini tidak lepas dari taktik cerdas di lapangan. Tim EMCL melakukan kegiatan Water Shut-Off (WSO) untuk menyumbat aliran air dari dasar sumur. Metode yang digunakan adalah pemasangan bridge plug, disusul dengan re-perforasi dan stimulasi pemompaan zat asam (acidizing).
Secara sederhana, cairan kimia asam ini bekerja efektif menghambat air yang terproduksi, sehingga memaksa sumur untuk memuntahkan lebih banyak minyak. Seperti yang terlihat di lapangan, para pekerja berjibaku memastikan instalasi berjalan sempurna demi mengoptimalkan kinerja sumur.
Yang membuat capaian ini semakin spesial adalah efisiensi operasionalnya. SKK Migas mencatat dua rekor efisiensi sekaligus dalam operasi ini:
1. Operasi Tanpa Rig (Rigless Operation): Seluruh pekerjaan lapangan dilakukan tanpa menyewa rig besar, melainkan cukup memanfaatkan unit wireline dan derek (crane) yang jauh lebih praktis dan cepat.
2. Hemat Anggaran: Realisasi biaya operasi tercatat hanya menghabiskan sekitar 57% dari total anggaran yang telah disetujui oleh SKK Migas.
Kepala SKK Migas berharap performa prima dari Sumur Banyu Urip A07 ini dapat bertahan lama. Lebih dari itu, kesuksesan metodeacidizing dan WSO ini akan dijadikan role model atau referensi teknis untuk diterapkan pada kandidat sumur-sumur lainnya, termasuk untuk penanganan Gas Shut Off (GSO).
Keberhasilan di Bojonegoro ini menjadi amunisi penting bagi Indonesia. Tambahan ribuan barel per hari ini diharapkan berkontribusi nyata dalam upaya mendongkrak produksi dan cadangan migas nasional, demi mengejar target ambisius produksi 610.000 BOPD di tahun 2026.
Menutup laporannya, Djoko Siswanto menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan semua pihak dan menggaungkan optimisme tinggi bagi sektor migas nasional.
“Lifting Naik: BISA BISA BISA!” pungkasnya.


