Riset LPEM UI: Aktivitas Tambang AMMAN Dorong PDB Nasional Rp173,4 Triliun

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Aktivitas pertambangan dan hilirisasi yang dijalankan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) terbukti memberi dampak ekonomi signifikan bagi Indonesia. Kajian terbaru yang dirilis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan kontribusi ekonomi AMMAN mencapai Rp173,4 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sepanjang 2018–2024.

Temuan tersebut dipaparkan dalam riset bertajuk “Analisis Dampak Makroekonomi dan Sosial Ekonomi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN)” yang dirilis di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Studi ini mengukur dampak aktivitas pertambangan, pembangunan smelter tembaga, hingga program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) terhadap perekonomian nasional maupun daerah.

Kajian menggunakan pendekatan economic multiplier berbasis Inter-Regional Input-Output (IRIO) yang menghitung dampak ekonomi tidak hanya dari belanja langsung perusahaan, tetapi juga dari aktivitas ekonomi lanjutan yang muncul di berbagai sektor dan wilayah.

Sepanjang periode kajian, kontribusi AMMAN terhadap pembentukan PDB nasional tercatat mencapai Rp173,4 triliun atau rata-rata Rp24,8 triliun per tahun, setara sekitar 0,13% dari PDB atas dasar harga berlaku nasional pada 2024.

Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI, Uka Wikarya, menjelaskan bahwa kontribusi tersebut tidak hanya tercermin dalam indikator makro, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat di berbagai daerah.

“Kontribusi AMMAN tidak hanya terlihat pada angka-angka makro, tetapi juga pada tingkat rumah tangga dan komunitas. Kegiatan operasional AMMAN menciptakan rangkaian efek berganda yang luas,” ujar Uka.

Ia mencontohkan, kebutuhan penyediaan makanan bagi ribuan karyawan tambang turut menggerakkan sektor pertanian, peternakan, hingga penyedia bahan pangan lokal. Demikian pula kebutuhan logistik dan jasa yang membuka peluang usaha dan lapangan kerja di berbagai sektor.

Dari sisi sosial ekonomi, aktivitas AMMAN juga tercatat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selama periode kajian, kegiatan perusahaan berkontribusi terhadap penciptaan pendapatan rumah tangga sebesar Rp67,6 triliun.

Peningkatan pendapatan tersebut turut berdampak pada penurunan tingkat kemiskinan nasional sebesar 0,024–0,098 poin persentase, atau setara 80 ribu hingga 206 ribu orang.

Selain itu, tingkat pengangguran nasional juga tercatat turun sekitar 0,012–0,069 poin persentase, yang setara dengan 29 ribu hingga 90 ribu orang memperoleh pekerjaan.

Dalam aspek fiskal, aktivitas AMMAN juga menjadi salah satu sumber penerimaan negara. Sepanjang 2018–2024, kontribusi fiskal perusahaan tercatat mencapai Rp39,05 triliun.

Angka tersebut mencakup pembayaran pajak, royalti, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP), termasuk kontribusi tidak langsung dari aktivitas ekonomi yang muncul akibat rantai pasok perusahaan.

Dari sisi eksternal, ekspor AMMAN juga memberikan kontribusi positif terhadap neraca pembayaran Indonesia. Total nilai ekspor perusahaan selama periode kajian mencapai USD10,29 miliar, dengan penghematan devisa bersih sebesar USD7,66 miliar atau rata-rata USD1,09 miliar per tahun.

Temuan ini menunjukkan peran aktivitas ekspor mineral dalam memperkuat stabilitas eksternal serta cadangan devisa nasional.

Dalam aspek ketenagakerjaan, kegiatan AMMAN tercatat menciptakan rata-rata 55 ribu lapangan kerja per tahun secara nasional. Jumlah ini bahkan mencapai puncaknya pada 2024 dengan lebih dari 105 ribu kesempatan kerja.

Lapangan kerja tersebut tidak hanya berasal dari operasional langsung perusahaan, tetapi juga dari efek berganda dalam rantai pasok domestik, termasuk sektor jasa, logistik, konstruksi, dan penyediaan bahan baku.

Ke depan, LPEM FEB UI menilai beroperasinya smelter tembaga AMMAN akan semakin meningkatkan nilai tambah domestik sekaligus memperkuat agenda hilirisasi mineral nasional.

Pengembangan industri hilir berbasis logam—seperti elektronik, energi, dan manufaktur—dinilai berpotensi mendorong transformasi struktur ekonomi Indonesia menuju ekonomi bernilai tambah tinggi.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat serta penguatan ekosistem industri hilir, AMMAN dinilai dapat menjadi salah satu pendorong penting pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih berkelanjutan dan inklusif.