Hot News! Sumur Eksplorasi Maha-4 ENI West Ganal Temukan Cadangan Gas Baru, Potensi Alir Hingga 180 MMSCFD

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com- Kabar baik kembali datang dari kegiatan eksplorasi hulu migas nasional. SKK Migas melaporkan keberhasilan pengeboran sumur eksplorasi Maha-4 yang dioperasikan oleh Eni melalui proyek West Ganal Block di wilayah lepas pantai Kalimantan.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, dalam laporan kepada Menteri dan Wakil Menteri ESDM pada Kamis (12/3/2026) menyampaikan bahwa sumur tersebut berhasil menemukan cadangan gas baru dengan potensi aliran yang sangat signifikan.

“Alhamdulillah kegiatan eksplorasi KKKS ENI West Ganal kembali sukses dengan melakukan pemboran sumur Maha-4 dan berhasil menemukan cadangan gas,” ujar Djoko dalam laporannya, seperti diceritakan dia kepada ruangenergi.com.

Berdasarkan analisis kemampuan batuan reservoir untuk mengalirkan gas serta hasil pengujian menggunakan teknologi XDT-DDT, sumur Maha-4 diperkirakan mampu mengalirkan gas hingga sekitar ±180 MMSCFD (million standard cubic feet per day).

Potensi besar tersebut didukung oleh karakteristik reservoir yang sangat baik. Data teknis menunjukkan permeabilitas batuan mencapai 140 miliDarcy, yang menandakan kemampuan tinggi batuan dalam mengalirkan fluida hidrokarbon.

Selain itu, tekanan reservoir tercatat sangat tinggi atau over pressure, mencapai sekitar 6.630 psi, yang menjadi faktor penting dalam mendukung kemampuan aliran gas dari sumur tersebut.

Pengeboran sumur eksplorasi Maha-4 dimulai pada akhir Desember 2025 dan dinyatakan selesai pada 5 Maret 2026.

Sumur ini dibor hingga kedalaman 4.150 meter MD (Measured Depth) atau 2.323 meter TVD (True Vertical Depth) dengan target utama pada lapisan T-65 yang memiliki ketebalan reservoir sekitar 12 meter dan radius sekitar 70 meter. Formasi batuan reservoir ini diperkirakan berumur Miosen.

Dalam pengujian produksi gas, operator menggunakan teknologi XDT-DDT yang dikembangkan oleh Halliburton.

Teknologi ini memungkinkan proses pengujian produksi dilakukan tanpa pembakaran gas di platform anjungan lepas pantai, sehingga lebih aman dan tidak ada gas yang terbuang selama proses pengujian.

Meski demikian, metode ini memerlukan waktu lebih lama karena membutuhkan proses analisis dan interpretasi data yang lebih detail.

Karakteristik tekanan reservoir yang sangat tinggi menuntut penanganan khusus pada tahap completion sumur.

Untuk memastikan keamanan operasi di kepala sumur (wellhead) dan platform lepas pantai, operator saat ini tengah memesan sejumlah peralatan long lead item yang dirancang khusus untuk menghadapi tekanan tinggi saat produksi gas dimulai.

Konsekuensinya, akan ada tambahan biaya completion sekitar US$16 juta pada tahun 2026.

Walaupun sumur Maha-4 memiliki potensi aliran hingga 180 MMSCFD, produksi awal diperkirakan dibatasi sekitar 100 MMSCFD. Pembatasan ini disebabkan oleh keterbatasan fasilitas produksi yang tersedia saat ini di kepala sumur.

Sumur ini diharapkan menjadi salah satu penopang produksi gas nasional di masa depan sekaligus membantu mengantisipasi penurunan produksi (decline) dari lapangan yang sudah beroperasi.

SKK Migas menargetkan sumur Maha-4 dapat mulai berproduksi paling lambat tahun 2028. Jadwal ini juga menyesuaikan dengan rencana renovasi Train E milik Badak LNG di Bontang LNG Refinery, yang menjadi salah satu infrastruktur penting dalam penyaluran gas dari wilayah tersebut.

“Mohon doa agar persiapan produksi sumur Maha-4 dapat berjalan lancar, aman, dan selamat hingga saatnya diproduksikan,” ujar Djoko.

Keberhasilan eksplorasi ini kembali menegaskan optimisme pemerintah dan industri hulu migas bahwa potensi gas Indonesia masih sangat besar, sekaligus memperkuat upaya menjaga lifting migas nasional ke depan.

“Lifting naik — bisa, bisa, bisa,” tutup Djoko.