Bontang, Kaltim, ruangenergi.com-Sektor hulu minyak dan gas bumi Indonesia menunjukkan sinyal kebangkitan yang semakin jelas. Berbagai proyek eksplorasi dan pengembangan lapangan baru tengah berjalan, memunculkan optimisme terhadap masa depan pasokan energi nasional.
Kepala SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi, Azhari Idris, menyampaikan bahwa industri hulu migas saat ini berada dalam fase yang cukup progresif. Sejumlah proyek strategis mulai bergerak, baik dari sisi eksplorasi maupun pengembangan fasilitas produksi.
Salah satu kabar yang paling dinantikan adalah rencana reaktivasi Train F di Badak LNG di Bontang, Kalimantan Timur. Fasilitas yang sempat berhenti beroperasi itu diproyeksikan dapat kembali aktif pada tahun 2028, membuka peluang peningkatan kapasitas pengolahan gas nasional.
Harapan lain datang dari hasil eksplorasi terbaru di Selat Makassar. Sumur Maha-3 yang dikelola perusahaan energi internasional ENI dilaporkan menemukan cadangan gas baru dengan potensi produksi sekitar 100 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD).
“Temuan ini menjadi sinyal positif bagi prospek pengembangan gas di kawasan Selat Makassar,” ujar Azhari.
Tidak hanya itu, aktivitas eksplorasi di wilayah tersebut juga semakin intensif. Saat ini tengah berlangsung survei seismik terbesar tahun ini di Selat Makassar dengan cakupan area sekitar 12.000 kilometer persegi. Survei tersebut bertujuan mengidentifikasi potensi cadangan migas baru yang dapat dikembangkan pada masa mendatang.
Di sisi lain, upaya peningkatan produksi nasional juga dilakukan melalui pengeboran masif. Sepanjang tahun ini, industri hulu migas tengah mengembangkan 124 sumur baru di berbagai wilayah kerja.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa sektor hulu migas Indonesia masih menyimpan potensi besar. Dengan kombinasi eksplorasi agresif, temuan cadangan baru, dan pengaktifan kembali fasilitas pengolahan gas, harapan untuk memperkuat ketahanan energi nasional kembali menguat.

