Ahai! Pemerintah Dorong Percepatan Pengembangan Gas Raksasa Natuna D-Alpha

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Pemerintah masih menghadapi pekerjaan rumah besar di sektor hulu migas, salah satunya adalah pengembangan Lapangan Gas Natuna D-Alpha yang hingga kini belum terealisasi meski telah ditemukan sejak puluhan tahun lalu.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan bahwa lapangan gas raksasa tersebut memiliki potensi sumber daya yang sangat besar. Natuna D-Alpha tercatat memiliki cadangan gas sekitar 165 triliun kaki kubik (TCF). Namun, lapangan ini memiliki tantangan teknis yang signifikan karena kandungan karbon dioksida (CO₂) yang sangat tinggi.

“Lapangan ini memiliki sekitar 72 persen CO₂ dan hanya 28 persen metana. Artinya, gas yang benar-benar dapat dimanfaatkan sekitar 46 TCF,” ujar Djoko pada Sabtu (14/3/2026), dalam bincang santai virtual bersama ruangenergi.com.

Meski demikian, jumlah gas yang dapat diproduksikan tersebut tetap sangat besar, bahkan sekitar empat kali lebih besar dibandingkan cadangan gas di Lapangan Abadi, Masela.

Saat ini wilayah kerja Natuna D-Alpha dioperasikan oleh KUFPEC, perusahaan hulu migas milik Kuwait. Djoko menjelaskan bahwa operator saat ini tengah berupaya mencari mitra strategis untuk mengembangkan proyek tersebut.

Proses penjajakan dengan sejumlah calon mitra potensial masih berlangsung. Namun hingga kini negosiasi belum mencapai kesepakatan, terutama karena besarnya kebutuhan investasi dan tingginya biaya pengembangan proyek.

Menurut Djoko, pemerintah berharap dinamika positif yang mulai terlihat dalam negosiasi proyek LNG Masela dapat menjadi katalis bagi percepatan pengembangan proyek-proyek gas besar lainnya di Indonesia, termasuk Natuna D-Alpha.

“Semoga semua proses berjalan lancar sesuai jadwal sehingga lifting migas nasional dapat terus meningkat,” kata Djoko.

Djoko menambahkan investasi Natuna D-Alpha +/- 60 Milyard US$.