Kawal Mudik Lebaran 2026, BPH Migas Jamin Ketersediaan BBM Kereta Api hingga LPG di Jateng-DIY Aman

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Yogyakarta, Jawa Tengah, ruangenergi.com-Menjelang periode arus mudik dan balik Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah (Tahun 2026), Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bergerak cepat untuk memastikan keandalan pasokan energi. Salah satu fokus utamanya adalah mengamankan kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi operasional kereta api di wilayah PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (DAOP) 6 Yogyakarta.

Dalam kunjungan kerjanya pada Sabtu (14/3/2026), Anggota Komite BPH Migas Bambang Hermanto menyatakan bahwa stok BBM untuk moda transportasi massal tersebut dalam kondisi sangat aman.

“DAOP 6 Yogyakarta merupakan stasiun kereta api terbesar di Yogyakarta dan menjadi salah satu tempat pengisian BBM kereta api. Kami telah berdiskusi dan mendengarkan paparan dari KAI maupun Pertamina. Stok untuk menghadapi Lebaran tahun 2026 ini dinyatakan aman dan terkendali,” ungkap pria yang akrab disapa Baher tersebut, dikutip dari website Bph Migas.

Baher memproyeksikan adanya peningkatan konsumsi BBM sejalan dengan lonjakan frekuensi perjalanan kereta selama musim mudik. “Puncak pemakaian BBM subsidi di sektor kereta api DAOP 6 Yogyakarta diperkirakan terjadi pada tanggal 18, 23, dan 24 Maret 2026,” rincinya.

Tak hanya memantau stok energi, BPH Migas juga mengapresiasi kesiapan sarana dan prasarana di DAOP 6. Fasilitas stasiun dinilai cukup memadai, bersih, dan tertata dengan baik untuk melayani lonjakan penumpang.

Selain moda transportasi kereta api, BPH Migas juga memastikan ketahanan stok BBM untuk kendaraan roda dua dan empat, serta Liquefied Petroleum Gas (LPG) di wilayah Semarang dan Yogyakarta.

Berdasarkan tinjauan di Integrated Terminal Semarang pada Jumat (13/3/2026), Baher menegaskan bahwa ketahanan stok solar mampu bertahan hingga 15 hari ke depan, sementara stok LPG untuk kebutuhan dapur masyarakat juga berlimpah.

“Oleh karena itu, saya mengimbau masyarakat yang akan mudik dan merayakan Idulfitri agar tidak panik. Tetap tenang dan jangan melakukan panic buying, karena ketahanan stok di Terminal Pengapon sangat cukup,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Anggota Komite BPH Migas Baskara Agung Wibawa memastikan pasokan Avtur untuk penerbangan di wilayah Yogyakarta—baik di New Yogyakarta Airport maupun Bandara Adi Soetjipto—telah disiapkan dengan baik oleh PT Pertamina Patra Niaga untuk memfasilitasi pemudik jalur udara.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, BPH Migas juga menyoroti langkah positif Pertamina yang menyediakan mesin pengumpulan minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) di sejumlah SPBU. Melalui fasilitas inovatif ini, masyarakat bisa menjual minyak goreng bekas pakai dan dibeli oleh Pertamina dengan harga sekitar Rp5.500 per liter.

Minyak jelantah ini nantinya akan diolah menjadi bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan, termasuk untuk kendaraan bermotor hingga bahan bakar pesawat (Sustainable Aviation Fuel).

“Minyak jelantah dari kelapa sawit ini menunjukkan bahwa bahan bakar yang kita miliki sudah memenuhi syarat green energy,” pungkas Baher.

Sebagai informasi, kunjungan kerja BPH Migas ini turut didampingi oleh Deputi DAOP 6 PT KAI DIY Rahim Ramdhani, Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah Fanda Chrismianto, serta Sales Branch Manager I Fuel DI Yogyakarta Arief Zarkashi.