Tiga Investor Rebutan Studi Blok Migas Aceh, Sinyal Kebangkitan Energi Serambi Mekkah

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Banda Aceh, Aceh , ruangenergi.com-Angin segar kembali berembus dari sektor energi Aceh. Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) mengungkapkan adanya lonjakan minat investasi dari dalam dan luar negeri terhadap wilayah kerja (WK) migas yang sebelumnya terminasi.

Kepala BPMA, Nasri, kepada ruangenergi.com, menyampaikan bahwa hingga awal April 2026, pihaknya telah menerima tiga pengajuan resmi joint study (JS) untuk pengelolaan blok-blok migas strategis di Aceh.

“BPMA telah mendapatkan tiga pengajuan keberminatan untuk melakukan joint study di tahun 2026. Ini merupakan WK terminasi yang kini kembali dilirik investor,” ujar Nasri.

Tiga wilayah kerja tersebut mencerminkan kombinasi kekuatan investor global dan lokal:

  • WK Andaman I (eks Repsol) diminati oleh konsorsium Jepang, Japex/Jogmec
  • WK South Block A (eks KRX) diajukan oleh PEMA, BUMD Aceh
  • WK Lhokseumawe (eks Zaratex) menarik minat kolaborasi PT Energi Hijau Biru/Barakah Petroleum, perusahaan gabungan Aceh–Malaysia

Menurut Nasri, masuknya investor dari berbagai latar belakang ini menjadi indikator kuat meningkatnya kepercayaan terhadap iklim investasi migas di Aceh.

“Alhamdulillah, dalam satu tahun terakhir BPMA mendapatkan kepercayaan dari investor dalam dan luar negeri untuk berinvestasi di Aceh,” katanya.

Lebih jauh, ia optimistis bahwa proses joint study ini akan bermuara pada kontrak kerja sama baru.

“Apabila berjalan lancar, insya Allah BPMA akan mendapatkan tiga KKKS baru,” tambahnya.

Langkah ini dinilai strategis dalam memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu pusat pertumbuhan energi nasional, sekaligus mendukung agenda besar pemerintah melalui Kementerian ESDM dalam mewujudkan ketahanan energi.

BPMA, lanjut Nasri, akan terus mendorong percepatan program eksplorasi dan pengembangan migas di wilayahnya. “Kami berkomitmen menjalankan program pemerintah dan KESDM dalam mendukung ketahanan energi nasional,” tegasnya.

Dengan geliat baru ini, Aceh tak hanya kembali masuk peta investasi migas, tetapi juga berpotensi menjadi magnet baru di kawasan barat Indonesia—tempat peluang energi dan investasi bertemu dalam momentum yang tepat.