Jakarta, ruangenergi.com – Kebutuhan aspal nasional yang terus meningkat di tengah ketergantungan impor mendorong lahirnya inovasi baru di sektor infrastruktur Jalan. Akademisi ITPLN, Ir. Indah Handayasari, ST., MT., berhasil mempertahankan sidang disertasinya di Universitas Tarumanagara dengan temuan yang menawarkan solusi alternatif ramah lingkungan: pemanfaatan ampas tebu sebagai bahan peremaja aspal.
Disertasi berjudul “Pengembangan Potensi Ampas Tebu Sebagai Bahan Peremaja Pada Campuran Loston (AC-WC) dengan Reclaimed Asphalt Pavement” ini menyoroti pemanfaatan limbah biomassa untuk meningkatkan kinerja campuran aspal daur ulang.
Dalam penelitiannya, Indah menjelaskan bahwa penggunaan Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) selama ini memang efisien secara material, namun memiliki kelemahan akibat penuaan aspal.
“Aspal RAP cenderung mengalami penurunan kinerja, sehingga diperlukan bahan peremaja yang mampu mengembalikan sifat aslinya,” ujar Indah saat berbincang , Jum’at, 17 April 2026.
Indah resmi lulus program doktor (S3) usai menjalani Ujian Terbuka Disertasi di Universitas Tarumanagara, belum lama ini. Sidang disertasi ini melibatkan tim penguji yang dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Tarumanagara Prof. Dr. H. Amad Sudiro, S.H., M.H., M.Kn., M.M dan Dewan Pennguji : Prof. Ir. Leksmono Suryo Putranto, M.T., Ph.D., Prof. Dr. Ir. Bambang Sugeng Subagio, D.E.A., Dr. Eri Susanto Hariyadi, S.T, M.T., Dr. Russ Bona Frazila, S.T., M.T., Ir. Oei Fuk Jin, S.T., M.Eng., D.Eng.
Penelitian dilakukan melalui serangkaian uji laboratorium dengan variasi kadar RAP sebesar 0 persen, 20 persen, dan 40 persen. Sementara itu, bio-aspal berbasis ampas tebu digunakan sebagai peremaja dengan kadar optimum 21 persen dan 25,5 persen.
Pengujian dilakukan secara komprehensif, mulai dari analisis kimia menggunakan FTIR, pengujian reologi dengan Dynamic Shear Rheometer (DSR), hingga uji ketahanan campuran seperti Marshall Marshall Immersion, Wheel Tracking, Modulus Resilien, dan Kelelahan Material.
Hasilnya menunjukkan bahwa bio-aspal dari ampas tebu memiliki struktur kimia yang mirip dengan aspal konvensional. Tak hanya itu, material ini terbukti mampu memperbaiki performa aspal RAP secara signifikan.
“Campuran dengan RAP hingga 40 persen tetap memenuhi spesifikasi Bina Marga. Bahkan nilai Indeks Kekuatan Sisa mencapai 93,703 persen,” kata Indah.
Ketahanan terhadap deformasi juga meningkat tajam. Pada campuran RAP 40 persen, stabilitas dinamis tercatat mencapai 7000 lintasan per milimeter. Sementara itu, dari sisi ketahanan kelelahan, campuran RAP 20 persen mampu bertahan hingga 100.000 siklus pembebanan.
Temuan ini juga menunjukkan peningkatan stabilitas termal, di mana penurunan modulus resilien lebih rendah dibandingkan campuran konvensional. Setiap program penelitian ITPLN bisa diakses melalui laman www.itpln.ac.id.
Menurut Indah, hasil penelitian ini membuka peluang besar pemanfaatan limbah pertanian sebagai material konstruksi berkelanjutan. “Bio-aspal ampas tebu tidak hanya meningkatkan kinerja, tetapi juga mendukung konsep green infrastructure,” imbuhnya.
Penelitian ini sekaligus menjadi langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap aspal impor, serta mendorong inovasi berbasis sumber daya lokal di sektor pembangunan jalan nasional.

