LHOKSEUMAWE, Aceh Timur, ruangenergi.com — Peran perempuan dalam keluarga mengalami pergeseran signifikan. Di berbagai daerah, tak sedikit perempuan yang kini menjadi tulang punggung keluarga. Stigma lama yang menempatkan ibu sebatas pengurus rumah tangga perlahan memudar, digantikan realitas baru: perempuan sebagai penggerak ekonomi keluarga.
Di Gampong Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, sosok Nurhasanah menjadi cermin ketangguhan itu. Di usianya yang tak lagi muda, ia tetap menyusuri jalan setapak setiap pagi menuju kebun kakao. Dari pukul enam pagi hingga petang, ia mengabdikan tenaga demi keberlangsungan hidup keluarganya.
“Dulu kami belum tahu cara menanam yang benar. Hasil panen tidak menentu dan kualitasnya rendah,” ujarnya mengenang masa-masa sulit.
Kehidupan Nurhasanah berubah ketika ia bergabung dalam Program Kelompok Tani Kepala Rumah Tangga yang diinisiasi Pertamina Hulu Energi melalui unit PHE North Sumatera Offshore. Bersama 18 perempuan lainnya, ia tergabung dalam kelompok “Inong Balee”—komunitas perempuan kepala keluarga yang diberdayakan melalui pelatihan budidaya kakao.
Program ini tak sekadar memberikan teori, tetapi juga praktik langsung melalui metode sekolah lapang. Para peserta diajarkan teknik peremajaan tanaman hingga standar panen berkualitas.
Sebelumnya, kebun kakao milik warga mengalami penurunan produktivitas akibat usia tanaman yang sudah tua. Kini, perubahan mulai terlihat. Dari semula satu pohon hanya menghasilkan sekitar satu kilogram kakao, kini meningkat menjadi tiga hingga lima kilogram per pohon.
Program Inong Balee juga berhasil merestorasi empat hektare lahan kritis, menanam 600 bibit baru, serta meremajakan lebih dari 1.700 pohon kakao.
Bagi Nurhasanah, program ini lebih dari sekadar pelatihan. Ini adalah titik balik setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan. Ia kehilangan suaminya akibat konflik bersenjata, saat anaknya masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Saya dulu jadi buruh tani, bahkan pernah memanggul batu ke truk di sungai. Yang penting anak bisa makan,” tuturnya.
Semangat serupa juga tumbuh di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Sabariah bersama kelompok UMKM “Maju Bersama” mengubah cara pandang terhadap ikan baronang—yang sebelumnya hanya dianggap pakan ternak—menjadi produk bernilai ekonomi.
Melalui pendampingan dari PT Pertamina EP Pangkalan Susu Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan Zona 1, mereka dilatih mengolah ikan baronang menjadi cemilan bergizi, termasuk makanan tambahan untuk balita.
“Program ini membantu kami punya penghasilan dan keterampilan baru,” kata Sabariah.
Inovasi ini tak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga kesehatan. Produk olahan ikan berkontribusi dalam upaya menekan risiko stunting di wilayah tersebut.
Kini, usaha mereka mampu menghasilkan omzet hingga Rp6 juta per bulan, dengan penjualan sekitar 400 kemasan seharga Rp15 ribu per produk.
Manager Community Involvement and Development Pertamina Hulu Rokan Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa program pemberdayaan ini sejalan dengan agenda pengentasan kemiskinan nasional.
Menurutnya, pendekatan berbasis kebutuhan sosial dan ekonomi menjadi kunci agar program tidak hanya bersifat bantuan, tetapi juga membangun kemandirian jangka panjang.
“Dengan peningkatan ekonomi, diharapkan dapat memberikan perubahan bagi lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Di tengah tantangan hidup yang tak ringan, kisah Nurhasanah dan Sabariah menunjukkan satu hal: ketika perempuan diberi akses, pengetahuan, dan kesempatan, mereka mampu menjadi agen perubahan—tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga komunitasnya.


