Kinerja Moncer 2025, PT TIMAH Kantongi Laba Rp1,31 Triliun di Tengah Lonjakan Harga Global

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Pangkalpinang, Babel, ruangenergi.com-PT TIMAH (Persero) Tbk kembali menunjukkan tajinya. Sepanjang 2025, emiten berkode TINS ini sukses mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,31 triliun—melampaui target yang ditetapkan perusahaan.

Direktur Utama Restu Widiyantoro menegaskan, capaian ini bukan kebetulan. Menurutnya, kinerja positif tersebut merupakan hasil dari strategi terukur dalam memperkuat tata kelola pertimahan sekaligus mengoptimalkan lini operasional, pemasaran, dan keuangan.

“Perseroan berhasil mencapai 119 persen dari target RKAP 2025. Fokus kami adalah penguatan tata kelola dan efisiensi di seluruh lini bisnis,” ujarnya.

Momentum kinerja ini juga ditopang oleh tren harga timah global yang tengah menguat. Data dari London Metal Exchange menunjukkan harga rata-rata timah sepanjang 2025 mencapai USD 34.119,96 per ton, naik 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Tak hanya laba, pendapatan perusahaan pun ikut terdongkrak. PT TIMAH membukukan pendapatan Rp11,55 triliun, naik 6,41 persen dari tahun sebelumnya. Laba usaha tercatat Rp1,91 triliun, sementara EBITDA mencapai Rp2,76 triliun—menggambarkan performa operasional yang semakin solid.

Dari sisi neraca, total aset perusahaan tumbuh menjadi Rp13,64 triliun. Ekuitas meningkat signifikan 10,83 persen menjadi Rp8,41 triliun, mencerminkan penguatan fundamental keuangan. Sementara itu, rasio keuangan tetap terjaga sehat dengan current ratio mencapai 242,8 persen dan debt to equity ratio di level 18,7 persen.

Di balik kinerja tersebut, strategi efisiensi memainkan peran penting. Perseroan menekan biaya tetap melalui investasi selektif, sekaligus menurunkan utang berbunga lewat aksi buyback Medium Term Notes (MTN). Langkah ini efektif meredam beban bunga dan menjaga arus kas tetap stabil.

Di sektor operasional, produksi bijih timah mencapai 18.635 ton Sn, sementara produksi logam timah sebesar 17.815 metrik ton. Penjualan logam timah tercatat 16.634 metrik ton.

Pasar ekspor masih menjadi tulang punggung, menyumbang hingga 95 persen dari total penjualan. Negara tujuan utama meliputi Singapura, Korea Selatan, Jepang, hingga sejumlah negara Eropa dan China. Kontribusi PT TIMAH bahkan mencapai sekitar 24 persen dari total ekspor timah Indonesia.

Memasuki 2026, prospek bisnis timah dinilai masih cerah. Harga diperkirakan bergerak di kisaran USD 33.500 hingga USD 48.750 per ton. Permintaan global didorong oleh perkembangan