Memadamkan Lampu Serentak di Jakarta, Pakar ITPLN: Krisis Iklim Sudah di Depan Mata!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengajak warga memadamkan lampu secara serentak pada tiga momentum penting tahun 2026, yakni 25 April dalam rangka Hari Bumi, 13 Juni saat Hari Lingkungan Hidup, dan 26 September pada peringatan Hari Ozon Sedunia. Ajakan ini menjadi bagian dari kampanye kesadaran publik terhadap krisis iklim yang kian nyata.

Advisory member Advanced Energy and Power Solution System Center (AEPS2) Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Syamsir Abduh, menilai langkah simbolik tersebut penting sebagai pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman abstrak.

Menurut dia, berbagai peristiwa cuaca ekstrem seperti banjir, gelombang panas, hingga kekeringan kini terjadi lebih sering dan terukur.

“Perubahan iklim sudah menjadi realitas operasional saat ini, bukan sekadar proyeksi masa depan. Karena itu, risiko iklim harus masuk dalam perencanaan infrastruktur, sistem energi, hingga ekonomi,” ujar Syamsir dalam keterangannya, Minggu, 26 April 2026.

Guru Besar ITPLN itu menegaskan, transisi energi menjadi kunci untuk menekan dampak krisis iklim. Meski peralihan ke energi terbarukan terus berjalan, Syamsir menyebut masih ada tantangan besar seperti stabilitas jaringan listrik, variabilitas energi surya dan angin, serta keterbatasan teknologi penyimpanan energi.

Menurut dia, transisi energi tidak cukup hanya menambah kapasitas pembangkit ramah lingkungan. Lebih dari itu, diperlukan inovasi sistem seperti pengembangan smart grid, teknologi penyimpanan energi, dan sistem energi hibrida agar pasokan listrik tetap andal.

Selain mitigasi, Syamsir mengingatkan pentingnya langkah adaptasi. Ia menyebut sejumlah dampak perubahan iklim sudah tidak bisa dihindari, sehingga investasi pada ketahanan seperti pengendalian banjir, pembangunan infrastruktur tahan iklim, dan sistem pengelolaan air menjadi kebutuhan mendesak.

“Adaptasi harus berjalan beriringan dengan mitigasi. Kalau tidak, kita akan terus berada dalam posisi reaktif menghadapi bencana,” katanya.

Syamsir juga menekankan bahwa keberhasilan upaya menghadapi krisis iklim sangat ditentukan oleh kebijakan dan tata kelola. Negara atau daerah dengan regulasi yang jelas, insentif yang tepat, serta kepastian hukum dinilai lebih cepat bergerak menuju sistem yang berkelanjutan.

Ia menambahkan, aksi lokal seperti pemadaman lampu serentak tetap memiliki dampak penting dalam skala global. Menurutnya, peran kota, komunitas, hingga perguruan tinggi sangat krusial dalam mengimplementasikan solusi nyata. Setiap program inovasi ITPLN bisa diakses melalui laman www.itpln.ac.id.

“Berpikir global dan bertindak lokal sekarang bukan lagi slogan, tapi kebutuhan. Termasuk peran lembaga pendidikan yang harus menghasilkan riset terapan dan lulusan yang berorientasi pada solusi keberlanjutan,” tandasnya.