Jakarta, ruangenergi.com — Pagi itu, semangat Hari Bumi 2026 terasa berbeda. Mengusung tema “Our Power, Our Planet”, PT Pertamina (Persero) tidak sekadar merayakannya sebagai seremoni tahunan. Di berbagai penjuru negeri, jejak langkahnya tampak nyata—dari hutan mangrove yang kembali hijau hingga desa-desa yang mulai mandiri energi.
Bagi Pertamina, Hari Bumi adalah lebih dari simbol. Ia menjadi pengingat bahwa energi masa depan tak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang manusia dan alam yang hidup berdampingan.
“Momentum ini kami gunakan untuk memperkuat sinergi antara perusahaan dan masyarakat dalam menjaga lingkungan,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron.
Di garis pantai yang dulu tergerus abrasi, kini barisan mangrove tumbuh rapat. Sementara di daratan, ribuan bibit pohon menjulang menjadi simbol harapan baru. Melalui program PFlestari yang dikelola Pertamina Foundation, lebih dari satu juta pohon—baik daratan maupun mangrove—telah ditanam.
Namun, yang tumbuh bukan hanya pohon. Program ini juga menumbuhkan keterampilan. Masyarakat dilatih mengolah hasil hutan, bahkan mengubah limbah tanaman menjadi produk bernilai ekonomi. Dari tangan-tangan warga, lahir produk kreatif yang menyambung hidup sekaligus menjaga alam.
Di desa-desa yang dulu bergantung pada energi konvensional, kini mulai berdiri panel surya dan instalasi biogas sederhana. Program Desa Energi Berdikari Sobat Bumi (DEB SoBI) menghadirkan perubahan yang terasa langsung.
Dalam tiga tahun terakhir, sebanyak 40 desa telah dibina. Energi yang dihasilkan mencapai 1.100 kWh per tahun dari tenaga surya dan 6.199 meter kubik biogas. Lebih dari 1.600 warga merasakan manfaatnya—dari penerangan rumah hingga penggerak usaha kecil.
Di sini, transisi energi bukan sekadar jargon. Ia hadir dalam nyala lampu di malam hari dan dapur yang tetap mengepul tanpa harus bergantung pada bahan bakar fosil.
Tak hanya menyasar desa, gerakan ini juga menjangkau generasi muda. Melalui beasiswa Sobat Bumi, lebih dari 5.000 mahasiswa dari Sumatra hingga Papua tidak hanya menerima bantuan pendidikan, tetapi juga terlibat dalam aksi lingkungan.
Mereka menanam pohon, membersihkan sungai, dan mengedukasi masyarakat. Di tangan mereka, keberlanjutan bukan lagi konsep, melainkan gaya hidup.
Di sudut lain, kisah menarik datang dari pelaku UMKM binaan. Minyak jelantah yang biasanya dibuang, kini diolah menjadi sabun dan lilin. Bahkan limbah produksinya dimanfaatkan sebagai pakan maggot—menciptakan siklus yang nyaris tanpa sisa.
Inilah wajah ekonomi sirkular: limbah bukan akhir, melainkan awal dari nilai baru.
Langkah-langkah ini sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) dan komitmen Indonesia dalam Nationally Determined Contribution (NDC) untuk menekan emisi gas rumah kaca.
Namun bagi Pertamina, capaian bukan sekadar angka. Ia adalah cerita tentang masyarakat yang lebih berdaya, lingkungan yang lebih terjaga, dan masa depan yang lebih pasti.
“Menjaga bumi adalah gerakan bersama,” tutup Baron. “Kami akan terus membuka ruang kolaborasi agar manfaatnya bisa dirasakan secara nyata dan berkelanjutan.”
Di Hari Bumi ini, pesan itu terasa jelas: perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil—dan ketika dilakukan bersama, dampaknya bisa mengubah dunia.


