Listrik untuk Timur: Menyalakan Harapan di Tengah Lompatan Ekonomi Maluku

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Maluku, Ambon, ruangenergi.com-Pertumbuhan ekonomi di Maluku dan Maluku Utara kini tak lagi sekadar angka statistik. Ia hadir sebagai harapan baru—membuka peluang kerja, menggerakkan industri, dan menghidupkan mimpi masyarakat di kawasan timur Indonesia. Namun di balik geliat itu, ada satu kebutuhan mendasar yang tak boleh terlambat hadir: listrik yang andal dan merata bagi 889.973 pelanggan di dua provinsi tersebut.

Saat mengunjungi Kantor PT PLN (Persero) UP3B Maluku di Ambon, Selasa (28/4/2026), Wakil Menteri ESDM Yuliot menegaskan bahwa kesiapan energi menjadi kunci dalam menopang pertumbuhan pusat-pusat ekonomi baru.

“Adanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru diperlukan persiapan ketersediaan energi, khususnya di wilayah-wilayah yang dimungkinkan tumbuhnya industri-industri baru seperti di Weda Bay, Halmahera, dan di Saumlaki kelak jika sudah beroperasi,” ujarnya.

Nama-nama seperti Weda Bay dan Saumlaki kini bukan lagi sekadar titik di peta. Kawasan ini diproyeksikan menjadi motor baru ekonomi kawasan timur. Namun, tanpa pasokan energi yang memadai, potensi besar itu berisiko tertahan di garis start.

Yuliot mengingatkan, pembangunan tidak boleh timpang. Jangan sampai kawasan industri berdiri megah, tetapi listrik belum mengalir.

“Kami berharap jangan sampai terjadi kegiatan ekonomi sudah terbangun namun pasokan listriknya belum tersedia sehingga terjadi delay,” tegasnya, dikutip dari website ESDM.

Lebih dari itu, ia menyoroti pentingnya keadilan energi hingga ke pelosok desa, terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Di sinilah peran energi baru terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi krusial—terutama jika dilengkapi dengan sistem penyimpanan energi.

“Wilayah 3T adalah benteng kita bersama. Ketika listrik hadir, di situ ada pendidikan yang lebih baik, ekonomi yang bergerak, dan harapan yang tumbuh,” tambahnya.

Di sisi lain, General Manager PLN UIW Maluku dan Maluku Utara, Noer Soeratmoko, memastikan bahwa kondisi kelistrikan terus menunjukkan perbaikan. Meski tantangan geografis sebagai wilayah kepulauan masih menjadi pekerjaan besar, komitmen untuk menghadirkan listrik yang merata tetap dijaga.

“Tantangan geografis wilayah kepulauan tetap menjadi perhatian bagi kami dalam memastikan listrik yang andal dan merata. Ke depan, kami berkomitmen untuk terus mendukung program pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui penyediaan listrik yang andal dan berkelanjutan,” ujarnya.

Saat ini, sistem kelistrikan di Maluku dan Maluku Utara ditopang oleh 168 sistem dengan total daya mampu mencapai 457,15 MW dan beban puncak sekitar 292,82 MW. Angka ini menunjukkan masih adanya ruang untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan listrik seiring pertumbuhan ekonomi.

Di tengah percepatan pembangunan, listrik bukan lagi sekadar infrastruktur teknis. Ia telah menjadi fondasi kesejahteraan. Ketika listrik hadir tepat waktu dan menjangkau hingga pelosok, di situlah pembangunan menemukan maknanya—bukan hanya tentang pertumbuhan, tetapi tentang pemerataan harapan.