Dari “Luka 2016” ke Lompatan 450 Karyawan: Strategi DURA Menyongsong Indonesia Emas

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Pasartanahtinggi, Depok, Jawa Barat, ruangenergi.com — Suasana di lantai produksi PT Duraquipt Cemerlang sore jelang malam itu terasa santai, tapi penuh makna. Di sela kunjungan Sekretaris SKK Migas, Luky Yusgiantoro, CEO sekaligus Direktur perusahaan, Steven Sutanto, membuka cerita panjang—tentang jatuh bangun bisnis, strategi bertahan, hingga mimpi besar industri manufaktur nasional.

Alih-alih pidato formal, percakapan mengalir seperti obrolan warung kopi. Namun justru dari situlah, gambaran masa depan industri dalam negeri tersusun jelas. Ruangenergi.com hadir dan mendengarkan Steven bercerita.

Steven tak menutupi masa sulit yang pernah dialami. Tahun 2016 menjadi titik balik.

“Waktu oil and gas turun, kami harus memangkas karyawan dari 250 jadi 150 orang,” ujarnya.

Keputusan efisiensi itu pahit, tapi menjadi alarm keras: terlalu bergantung pada sektor migas adalah risiko besar. Kini, saat industri kembali bergairah, DURA justru memilih bersiap menghadapi siklus berikutnya.

“Hari ini sudah naik jadi 450 karyawan. Tapi kami tidak mau kaget lagi kalau migas turun,” katanya.

Strateginya jelas: ekspansi sambil diversifikasi.

Fokus bisnis DURA mungkin terdengar sederhana: pompa. Tapi jangan salah—ini bukan pompa biasa.

Perusahaan ini mengandalkan tiga produk utama:

  • Pompa standar ANSI
  • Pompa API 610 untuk industri migas
  • Fire pump bersertifikasi UL

Sertifikasi UL menjadi pencapaian penting. Kini, produk fire pump DURA bisa dipasarkan secara global dengan merek sendiri—bukan sekadar “packager” seperti sebelumnya.

“Sekarang kami bisa jual dengan brand DURA,” kata Steven dengan nada bangga.

TKDN Tinggi, Tapi Masih “Setengah Jalan”

Soal Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), DURA sudah melampaui 40 persen. Bahkan untuk komponen tertentu seperti bare pump, angkanya mencapai 55 persen.

Namun ada ironi.

“Seharusnya bisa 100 persen. Tapi kita masih impor raw material,” ungkapnya.

Masalahnya bukan pada kemampuan produksi, melainkan rantai pasok nasional yang belum sepenuhnya siap.

Solusinya?

  • Penguatan industri logam dalam negeri
  • Produksi komponen pendukung seperti mechanical seal dan motor

“Kalau supply chain kuat, TKDN bisa lompat jauh,” tegasnya.

Alih-alih tergoda memperluas lini bisnis terlalu cepat, Steven memilih pendekatan ala Jepang.

“Fokus satu produk sampai benar-benar mature, baru tambah yang lain.”

Baginya, industri pompa di Indonesia masih jauh dari titik jenuh. Artinya, ruang tumbuh masih besar—dan itu harus dimaksimalkan.

DURA bukan pemain kecil. Produk mereka sudah digunakan oleh berbagai KKKS besar seperti:

  • Pertamina (termasuk PHE dan PHR)
  • Eni
  • Petronas

Namun, keberhasilan ini justru menyoroti ironi lain: dominasi di hulu migas belum berlanjut ke sektor lain.

“Jadi Penonton di Negeri Sendiri”

Salah satu cerita paling mencolok datang dari proyek smelter besar milik Freeport Indonesia.

“Ribuan pompa dipakai, tapi tidak satu pun dari kami,” kata Steven.

Penyebabnya? Proyek turnkey oleh kontraktor Jepang, Chiyoda Corporation, yang membawa ekosistemnya sendiri. Tanpa regulasi seperti PTK (Pedoman Tata Kelola) ala SKK Migas, industri lokal praktis tersingkir.

“Indonesia jadi penonton di proyek raksasa sendiri,” ujarnya.

Steven menilai keberhasilan industri dalam negeri di sektor hulu migas tak lepas dari peran SKK Migas melalui regulasi PTK.

Namun di sektor lain—mining, hilir migas, hingga power plant—aturan serupa belum kuat.

“Kalau PTK diterapkan di semua sektor, kita bisa jadi pemain global,” katanya optimistis.

Di balik semua strategi, ada visi besar yang ingin dicapai: kontribusi terhadap target Indonesia Emas 2045.

Steven memilih satu jalur utama: manufaktur.

“Kalau manufaktur kuat, kita bisa benar-benar mandiri dan bersaing global.”

Baginya, dukungan pemerintah bukan sekadar bantuan—melainkan akselerator.

“Tanpa dukungan, mungkin kami cuma punya 20 karyawan hari ini. Dengan dukungan, jadi 450.”

Kunjungan Sekretaris SKK Migas Luky Yusgiantoro hari itu menjadi simbol penting: kolaborasi antara regulator dan industri.

“Kalau kita united, kita bisa lebih siap menghadapi krisis global,” ujar Steven.

Optimisme itu terasa nyata—bukan sekadar retorika.

Kisah DURA adalah potret klasik industri nasional: pernah jatuh, lalu bangkit dengan strategi baru.

Dari trauma 2016, kini mereka tidak hanya bertahan—tapi bersiap menyerang pasar global.

Satu hal yang jelas dari obrolan santai itu:
Indonesia punya kemampuan. Tinggal memastikan ekosistemnya ikut mendukung.

Dan jika itu terjadi, seperti kata Steven—

“Kita bukan cuma jadi pemain. Kita bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri, bahkan di pasar global.”