AI Masuk Rig Migas, Pertamina Drilling Pacu Keselamatan dan Efisiensi Operasi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta Transformasi digital kini bukan lagi sekadar wacana di industri migas. Di tengah tantangan operasional yang semakin kompleks dan tuntutan keselamatan kerja yang makin tinggi, teknologi Artificial Intelligence (AI) mulai memainkan peran penting di sektor pengeboran nasional.

Hal itu ditegaskan Direktur Utama PT Pertamina Drilling Services Indonesia, Avep Disasmita, dalam seminar bertajuk Peran Artificial Intelligence Mendukung Penerapan Sistem Manajemen K3 (SMK3) & Process Safety Management (PSM) di Industri yang berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (21/5).

Menurut Avep, penerapan AI menjadi bagian dari langkah strategis perusahaan untuk memperkuat budaya keselamatan sekaligus meningkatkan produktivitas operasi pengeboran.

“Teknologi AI membantu proses monitoring, predictive maintenance, hingga mitigasi risiko kerja secara lebih cepat dan akurat,” ujar Avep.

Ia menjelaskan, penggunaan AI di lingkungan rig pengeboran memungkinkan perusahaan melakukan pengawasan secara real-time terhadap berbagai aspek operasional. Mulai dari pemantauan penggunaan alat pelindung diri (APD), deteksi dini kondisi tidak aman, hingga analisis potensi bahaya yang dapat memicu kecelakaan kerja.

Di industri migas yang dikenal memiliki risiko tinggi, kecepatan dan ketepatan pengambilan keputusan menjadi faktor vital. Karena itu, AI dinilai mampu menghadirkan sistem kerja yang lebih responsif dan berbasis data.

Avep menilai, transformasi digital melalui pemanfaatan AI bukan hanya kebutuhan industri modern, tetapi juga bagian dari upaya membangun operasi migas yang lebih andal, aman, dan berkelanjutan.

“Industri migas menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pemanfaatan AI menjadi solusi strategis untuk memperkuat budaya safety sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan,” katanya.

Senada dengan itu, VP HSSE PT Pertamina Drilling Services Indonesia, Mas Rakhmatsyah, menyebut teknologi AI mampu meningkatkan efektivitas penerapan sistem keselamatan kerja dan manajemen risiko di lapangan.

Menurutnya, AI dapat membantu identifikasi potensi bahaya lebih dini, mempercepat proses investigasi insiden, hingga memperkuat implementasi Sistem Manajemen K3 (SMK3) dan Process Safety Management (PSM).

“Pendekatan berbasis AI membuat pengawasan risiko menjadi lebih komprehensif dan adaptif terhadap dinamika operasional,” ujarnya.

Seminar tersebut juga menghadirkan sejumlah pimpinan industri energi nasional, di antaranya Direktur Utama PT Pertamina Gas Indra Pehulisa Sembiring serta Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Taufik Adityawarman.

Forum ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk membahas masa depan industri energi berbasis teknologi, sekaligus memperkuat implementasi keselamatan kerja di lingkungan industri nasional.

Dengan semakin masifnya pemanfaatan AI, sektor migas Indonesia dinilai tengah memasuki babak baru — di mana teknologi bukan hanya alat bantu operasional, tetapi juga fondasi utama dalam menciptakan industri yang lebih aman, efisien, dan kompetitif.